Jiddiyyah dan Tawakal: Solusi Tanpa Keluhan

*) Oleh : Ferry Is Mirza DM
www.majelistabligh.id -

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir.” (QS. Al-Ma’arij: 19–20)

Pernahkah kita merasa lelah menghadapi masalah, lalu akhirnya mengeluh?

Apakah dengan keluhan itu masalah menjadi selesai?

Tidak, bukan?

Justru hati semakin gundah, beban terasa lebih berat, dan jalan keluar semakin menjauh.

Mengeluh, sejatinya, tidak memberikan solusi. Ia hanya memperbesar persoalan yang ada dalam pikiran dan hati.

Dalam ajaran Islam, sikap mengeluh berlebihan tidak dianjurkan. Sebab, mengeluh dapat melemahkan iman, menjauhkan seseorang dari rasa syukur, serta mengaburkan pandangan terhadap nikmat dan rahmat Allah yang tak terhingga.

Orang yang terus mengeluh akan mudah merasa tak puas, kehilangan harapan, dan akhirnya menutup pintu rezeki serta jalan keluar yang seharusnya bisa ia temukan dengan tenang.

Padahal, ketika beban hidup terasa berat, ada cara yang jauh lebih menenangkan dan bermakna: menggelar sajadah, melantunkan dzikir, memperbanyak doa, membaca Al-Qur’an, dan bermunajat kepada Allah SWT.

Setelah itu, lakukan tindakan nyata dengan jiddiyyah, yaitu kesungguhan dalam beramal. Jiddiyyah bukan sekadar semangat sementara, melainkan komitmen menjalani setiap tugas dan tanggung jawab dengan serius, berdasarkan nilai-nilai syariat.

Dalam pendidikan Islam, jiddiyyah mencerminkan pentingnya penguasaan ilmu, adab, dan moral, serta kesiapan mental untuk menghadapi tantangan dakwah dan kehidupan dengan kekuatan totalitas.

Orang yang bersungguh-sungguh adalah mereka yang tabah, tidak mudah menyerah, serta mampu mengoptimalkan segala potensi demi tercapainya tujuan yang diridhai Allah.

Setelah berusaha dengan sungguh-sungguh, iringilah dengan evaluasi diri dan tawakal. Serahkan hasil akhir kepada Allah SWT, karena hanya

Dia-lah yang Maha Menentukan. Kita hanya diminta untuk berikhtiar semaksimal mungkin, bukan untuk memastikan hasil seperti yang kita inginkan.

Ketika datang ujian hidup, kerjakanlah apa yang menjadi kewajiban kita, dan yakinilah bahwa Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya yang bersabar dan bersyukur.

Doakan yang terbaik, dan tetap teguh dalam kesabaran. Sungguh, inilah fase terbaik dalam perjalanan hidup kita: berserah diri dengan tetap berusaha, sabar, dan penuh syukur.

Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda:

“Barang siapa yang tertimpa kesusahan kemudian mengadu kepada manusia maka kesusahannya tidak akan teratasi. Dan barang siapa tertimpa kesusahan kemudian mengadu kepada Allah, maka Allah akan memberi jalan keluar dari kesusahan, cepat atau lambat.” (HR. Tirmidzi)

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang kuat, tabah, dan tidak mudah mengeluh. Karena yakinlah, jalan keluar selalu datang bersama kesabaran dan keikhlasan. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search