Kajian Ramadan Hamas School hari ke-9 yang digelar Rabu, 25 Februari 2026, menghadirkan Ustaz Moh. Tholaat Wafa, S.Pd. sebagai pemateri. Dalam kesempatan tersebut, ia mengupas secara sistematis ayat-ayat tentang puasa Ramadan dalam Al-Qur’an, khususnya QS. Al-Baqarah ayat 183–187, yang menjadi fondasi utama hukum sekaligus dimensi spiritual ibadah puasa.
Dalam pemaparannya, Ustaz Wafa menjelaskan bahwa rangkaian ayat tersebut tidak hanya mengatur kewajiban menahan lapar dan haus, tetapi juga membangun kerangka utuh tentang tujuan, kemudahan syariat, keutamaan Ramadan, serta dimensi ruhiyah yang mendalam. Puasa, menurutnya, merupakan ibadah yang dirancang untuk membentuk karakter dan kesadaran spiritual seorang mukmin.
Kewajiban dan Tujuan Puasa
Ia menjelaskan bahwa QS. Al-Baqarah ayat 183 menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman, sebagaimana telah diwajibkan kepada umat-umat sebelumnya. Tujuan utama dari kewajiban tersebut adalah agar manusia mencapai derajat takwa. Takwa, lanjutnya, merupakan orientasi akhir dari seluruh ibadah, bukan sekadar menjalankan rutinitas tahunan tanpa perubahan kualitas diri.
Selanjutnya, ayat 184 mengatur teknis pelaksanaan puasa, termasuk adanya keringanan bagi orang sakit dan musafir untuk mengganti puasa di hari lain. Sementara bagi mereka yang tidak mampu secara permanen, syariat memberikan alternatif berupa fidyah dengan memberi makan orang miskin. Menurut Ustaz Wafa, ketentuan ini menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas prinsip kemudahan, bukan memberatkan umatnya.
Keutamaan Ramadan dan Kemudahan Syariat
Memasuki ayat 185, Al-Qur’an menegaskan bahwa Ramadan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Oleh karena itu, umat Islam diperintahkan berpuasa ketika menjumpai bulan tersebut. Dalam ayat ini juga ditegaskan bahwa Allah menghendaki kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya.
“Syariat puasa bukan untuk memberatkan, tetapi mendidik dan memuliakan manusia melalui proses pengendalian diri,” ujar Ustaz Wafa di hadapan peserta kajian.
Keunikan Ayat Doa di Tengah Ayat Puasa
Salah satu bagian yang menjadi penekanan utama dalam kajian tersebut adalah QS. Al-Baqarah ayat 186. Ayat ini dinilai unik karena disisipkan doa di antara ayat-ayat puasa tanpa secara langsung menyebut kata puasa maupun Ramadan. Isi ayat tersebut justru menegaskan kedekatan Allah dengan hamba-Nya serta kepastian bahwa doa akan dikabulkan.
Ustaz Wafa menjelaskan bahwa berbeda dengan pola ayat lain yang menggunakan perintah “Qul” (katakanlah), dalam ayat ini Allah langsung menjawab dengan kalimat “Fa inni qarib” (Maka sesungguhnya Aku dekat). Hal ini menunjukkan kedekatan Allah yang sangat intens dengan hamba-Nya, terutama ketika menjalankan ibadah puasa.
Menurutnya, penyisipan ayat doa di tengah rangkaian ayat puasa mengandung pesan mendalam bahwa inti puasa tidak hanya terletak pada pengendalian fisik, tetapi juga pada pembangunan hubungan spiritual melalui doa dan munajat. Ramadan menjadi momentum terbaik untuk memperkuat hubungan tersebut karena kondisi batin yang lebih tenang, ikhlas, dan penuh harap.
“Di tengah rangkaian hukum puasa, Allah menyisipkan ayat tentang doa. Ini merupakan isyarat bahwa puncak dari puasa adalah kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia mengaitkan dimensi doa dengan salat sebagai bentuk zikir tertinggi. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa salat mencegah perbuatan keji dan mungkar serta menjadi sarana utama mengingat Allah. Salat memadukan zikir lisan, hati, dan gerakan fisik, sehingga menjadi bentuk doa paling sempurna dalam kehidupan seorang mukmin. Puasa, doa, dan salat, menurutnya, merupakan satu kesatuan ibadah yang saling menguatkan dalam membentuk pribadi bertakwa.
Aturan Teknis dan Etika Puasa
Kajian kemudian ditutup dengan pembahasan QS. Al-Baqarah ayat 187 yang mengatur kebolehan makan, minum, dan hubungan suami-istri pada malam hari hingga terbit fajar, serta larangan berhubungan saat iktikaf di masjid. Ketentuan ini menunjukkan keseimbangan antara kebutuhan biologis manusia dan disiplin spiritual yang diajarkan Islam.
Melalui kajian ini, para peserta diajak memahami bahwa ayat 183–187 tidak hanya menjadi dasar hukum puasa Ramadan, tetapi juga menjadi panduan membangun kualitas spiritual yang lebih baik. Ramadan dipandang bukan sekadar kewajiban tahunan, melainkan momentum transformasi diri menuju derajat takwa yang lebih tinggi. (*/tim)
