Kajian Reboan RS PKU Muhammadiyah Surabaya, Bahas Kalender Hijriah dan Syariat Islam

Kajian Reboan RS PKU Muhammadiyah Surabaya, Bahas Kalender Hijriah dan Syariat Islam
www.majelistabligh.id -

Suasana Aula RS PKU Muhammadiyah Surabaya tampak berbeda pada Rabu siang (9/7/2025). Bukan karena ada pasien baru, tapi karena Kajian Reboan kembali digelar! Kali ini, temanya cukup menarik perhatian: “Korelasi Kalender Hijriyah dengan Syariat Islam”.

Acara yang dimulai pukul 13.00 WIB ini diikuti antusias oleh seluruh karyawan—kecuali yang sedang bertugas di lapangan. Yang spesial, hadir sebagai narasumber adalah Ustaz Dr. Imam Syaukani, M.A., Wakil Ketua Majelis Tarjih, Tajdid, Pengembangan Pesantren, dan Pemeriksaan Hafalan Thayyiban Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Surabaya. Komplit banget, ya!

Kalender Hijriyah: Bukan Sekadar Penanggalan
Dalam pemaparannya, Ustaz Imam menjelaskan bahwa kalender Hijriyah bukan cuma soal tanggal dan bulan, tapi menyimpan korelasi yang dalam dengan syariat Islam. Ada tiga poin utama yang beliau sampaikan:

Perbedaan Teologis
Kalender Hijriyah dan Masehi memiliki dasar yang berbeda secara aqidah. Al-Qur’an dan Hadits secara eksplisit menunjukkan bahwa perhitungan waktu dalam Islam menggunakan bulan (qamar), bukan matahari (syams).

Ketetapan Ibadah Tak Bisa Dinegosiasi
Ibadah seperti puasa Ramadhan, Idul Fitri, dan Haji ditentukan berdasarkan peredaran bulan. Artinya, tak bisa disamakan dengan kalender Masehi yang berbasis musim.

Keberkahan di Balik Bulan-Bulan Islam
Beberapa bulan Hijriyah seperti Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah memiliki keutamaan dan hikmah tersendiri. Sayangnya, karena waktu terbatas, bahasan tentang makna tiap bulan belum tuntas dan akan dilanjutkan di sesi selanjutnya.

“Kalender Hijriyah adalah identitas umat Islam yang bersifat qath’i (pasti). Misalnya, puasa Ramadhan dan Idul Fitri selalu mengikuti hitungan bulan, bukan musim seperti kalender Masehi,” tegas Ustaz Imam di hadapan para peserta.

Karyawan Antusias, Banyak yang Bertanya!
Acara makin seru saat sesi tanya jawab dibuka. Banyak peserta langsung angkat tangan, terutama soal praktik penentuan awal bulan Hijriyah di Indonesia yang kerap jadi perdebatan publik. Suasana diskusi hangat dan penuh semangat.

Acara ditutup dengan doa bersama dan dokumentasi, sebagai penanda bahwa Kajian Reboan ini bukan hanya kegiatan rutin, tapi juga wadah memperkuat spiritualitas dan kebersamaan di lingkungan rumah sakit.

Kajian Reboan sendiri merupakan bagian dari program pembinaan spiritual untuk seluruh karyawan RS PKU Muhammadiyah Surabaya. Tujuannya? Memperdalam pemahaman tentang Agama Islam dan Kemuhammadiyahan (AIK), sekaligus mempererat ukhuwah di lingkungan kerja.

Kabarnya, tema-tema aktual dan menarik lainnya juga sudah disiapkan untuk kajian berikutnya. Jadi, buat kamu yang ketinggalan, jangan sampai lewat lagi di minggu depan ya! (muhammad jamaluddin)

Tinggalkan Balasan

Search