Kampung Edukasi Sampah Jadi Inspirasi Mahasiswa Unair Kelola Lingkungan

www.majelistabligh.id -

Kampung Edukasi Sampah (KES) yang terletak di RT 23 RW 7, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, menjadi tempat belajar inspiratif bagi mahasiswa Universitas Airlangga (Unair) Surabaya.

Dalam kunjungan yang dilakukan pada Selasa (24/6/2025), para mahasiswa mempelajari secara langsung praktik pengelolaan sampah rumah tangga berbasis partisipasi masyarakat.

Kunjungan tersebut merupakan bagian dari tugas kelompok mata kuliah Manajemen Komunikasi Lingkungan.

Selama kurang lebih dua jam, sejak pukul 13.00 hingga 15.00 WIB, para mahasiswa terlibat aktif dalam dialog dan observasi mengenai sistem edukasi dan pengelolaan lingkungan yang diterapkan warga Kampung Edukasi Sampah.

“Kami sangat mengapresiasi generasi muda, khususnya mahasiswa yang peduli terhadap persoalan sampah. Harapannya, ke depan permasalahan sampah bisa diminimalkan melalui keterlibatan aktif semua pihak,” ujar salah satu pegiat lingkungan KES, dalam sambutannya kepada rombongan mahasiswa.

Esther, kader lingkungan KES Sekardangan, menjelaskan bahwa kampung ini telah berproses sejak 2017. Tujuannya adalah untuk membentuk kesadaran kolektif warga terhadap pentingnya pengelolaan sampah yang baik dan berkelanjutan.

“Awalnya kami fokus menghijaukan lingkungan agar lebih asri dan rindang. Setelah itu kami mulai mengolah sampah rumah tangga, terutama organik, menjadi kompos menggunakan metode biopori, Takakura, tong aerob, sumur resapan, hingga serasah daun,” ujar Esther.

Sementara untuk sampah non-organik, lanjutnya, warga menyetorkannya ke bank sampah. Selain mengurangi beban TPA, hal ini juga membuka peluang ekonomi warga melalui daur ulang dan pemanfaatan limbah rumah tangga.

“Kampung ini terbuka untuk siapa pun yang ingin belajar. Kami sudah menerima kunjungan dari anak-anak TK/PAUD, mahasiswa, hingga kader lingkungan dari berbagai daerah,” imbuh Esther.

Inovasi pengelolaan lingkungan yang dilakukan warga tidak berhenti di sana. Warga secara kolektif mengembangkan berbagai ide kreatif yang diselaraskan dengan 17 poin Sustainable Development Goals (SDG’s).

Kegiatan kampung juga kerap diikutsertakan dalam berbagai lomba lingkungan, mulai dari tingkat kelurahan hingga nasional.

Lutfiyah, kader lingkungan lainnya, menyampaikan bahwa keterlibatannya dalam KES berasal dari kesadaran pribadi.

“Saya aktif memilah sampah, mendampingi tamu yang datang belajar, dan menjadi pengajar dalam pelatihan pengolahan sampah. Kami juga selalu belajar, baik tentang teknik pengolahan maupun cara menyampaikan edukasi kepada pengunjung,” tutur Lutfiyah.

Menurutnya, kampung ini tak hanya fokus pada pengelolaan limbah, tetapi juga menguatkan solidaritas sosial warga. Media sosial juga dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi, capaian, serta kegiatan edukatif.

“Kami dibantu oleh Karang Taruna dalam menyosialisasikan kegiatan KES, baik secara langsung maupun melalui dunia maya,” ujarnya.

Ketua RT 23 RW 7 Sekardangan, Andi Hariyadi, menyatakan bahwa keberhasilan kampung ini tidak lepas dari upaya menumbuhkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab kolektif dari seluruh warga.

“Kami berusaha memberikan keteladanan untuk membangun kesadaran. Persoalan lingkungan itu bukan tugas individu, tapi tanggung jawab bersama. Warga di sini aktif, baik dalam kerja bakti, pelatihan, edukasi, maupun mempercantik lingkungan,” kata Andi.

Dia menambahkan bahwa peran warga disesuaikan dengan kompetensi masing-masing. Ada yang bertugas mendesain kampung dengan estetika warna-warni, ada yang fokus pada edukasi, ada pula yang memperluas jejaring melalui platform digital.

Kunjungan mahasiswa Unair ke KES menjadi momen penting untuk belajar langsung dari masyarakat. Melalui dialog dan pengamatan lapangan, para mahasiswa mengaku mendapatkan banyak wawasan baru.

“Proses interaksi dan diskusi sangat menginspirasi. Kami jadi punya gambaran nyata bagaimana pengelolaan sampah bisa menjadi gerakan sosial yang berdampak luas,” ungkap salah satu mahasiswa peserta kunjungan.

Esther berharap kunjungan ini bisa menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk mereplikasi atau mengembangkan inisiatif serupa di tempat lain.

“Kami selalu terbuka untuk kolaborasi dan berbagi ilmu. Semoga apa yang kami lakukan bisa menjadi contoh kecil bagaimana masyarakat bisa berdaya demi lingkungan yang lebih baik,” pungkasnya. (andi hariyadi)

Tinggalkan Balasan

Search