Karakter Manusia ‘Halu’ dan Jalan Transformasi Spiritual

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Triyo Supriyatno
Wakil Ketua PDM Kota Malang dan Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Di dalam Surat Al-Ma‘ārij ayat 19, Al-Qur’an menyatakan:

> إِنَّ الْإِنسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat halū‘ā.”

Kata halū‘ā berasal dari akar kata hal‘a yang berarti cemas berlebihan, rakus, dan mudah panik. Menurut para mufasir seperti Imam al-Rāzī dan Ibn ‘Āsyūr, ayat ini menggambarkan bahwa manusia secara naluriah memiliki kecenderungan untuk tidak tenang saat ditimpa musibah, serta bersikap kikir dan egois saat mendapat nikmat. Watak ini menjadi akar bagi banyak masalah personal dan sosial yang kita saksikan hari ini.

Al-Qur’an tidak sedang mencaci atau merendahkan kodrat manusia. Sebaliknya, ayat ini berfungsi sebagai peringatan sekaligus diagnosis terhadap karakter dasar manusia yang harus dikenali dan diatasi. Dalam perspektif tafsir transformatif, ayat ini justru menjadi pintu masuk menuju proses perubahan diri: dari manusia yang ego-sentris menuju insan spiritual yang sabar, tangguh, dan peduli sesama.

Karakter‘Halu’ di Dunia Modern

Di tengah dunia modern yang serba cepat dan kompetitif, budaya halu dalam pengertian Al-Qur’an ini makin tampak jelas. Kita bisa menyaksikan banyak orang yang mudah panik saat harga bahan pokok naik, gelisah saat kehilangan akses media sosial, dan sibuk menumpuk kekayaan tanpa tahu kapan harus berhenti. Di media sosial, manusia modern berlomba-lomba menampilkan pencitraan kebahagiaan semu, berusaha menghindari kesulitan, dan enggan berbagi kecuali untuk kepentingan dirinya.

Ketika terjadi bencana, krisis ekonomi, atau pandemi, watak ‘halu’ masyarakat pun kian nyata. Berita hoaks ditelan bulat-bulat. Panic buying, penimbunan barang, dan eksploitasi sumber daya terjadi di mana-mana. Watak gelisah dan rakus bercampur jadi satu, sementara solidaritas dan empati sosial justru terkikis.

Padahal, momen krisis seharusnya menjadi ruang untuk membangun solidaritas kemanusiaan. Namun saat manusia tidak mampu mengendalikan sifat halū‘ā, dia akan terjebak dalam lingkaran ketakutan dan keserakahan yang justru memperparah situasi sosialnya.

Tafsir Transformatif: Mengendalikan Nafsu, Membangun Jiwa Sosial

Secara tafsir transformatif, ayat ini bukan sekadar kritik terhadap watak manusia, tetapi sekaligus membuka jalan perubahan. Meskipun manusia memiliki kecenderungan halū‘ā, Allah Swt. memberi potensi akal, hati, dan spiritualitas untuk mentransformasi diri menjadi pribadi yang lebih sabar, empatik, dan berbagi.

Al-Qur’an bahkan memberi petunjuk langkah konkret untuk keluar dari perangkap ‘halu’. Dalam ayat-ayat lanjutan (Al-Ma‘ārij: 22–35), Allah Swt. menyebutkan tipe manusia yang mampu mengendalikan sifat itu:

Orang yang khusyuk dalam salatnya, sebagai media spiritual untuk menenangkan jiwa yang gelisah.

Orang yang menyisihkan hartanya untuk yang membutuhkan, menekan nafsu rakus dan membangun empati sosial.

Orang yang jujur, amanah, dan menjaga kehormatan dirinya, menciptakan pribadi yang stabil, bukan pengecut saat krisis dan bukan tamak saat beruntung.

Orang yang meyakini hari perhitungan, membangun kesadaran bahwa hidup bukan sekadar menumpuk dunia, tetapi bertanggung jawab di hadapan Sang Khalik.

Hadis Nabi Muhammad ﷺ pun banyak menguatkan pesan ini. Dalam riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:

> لَوْ كَانَ لِابْنِ آدَمَ وَادِيَانِ مِنْ مَالٍ لابْتَغَى وَادِيًا ثَالِثًا وَلَا يَمْلَأُ جَوْفَ ابْنِ آدَمَ إِلَّا التُّرَابُ

“Seandainya anak Adam memiliki dua lembah harta, niscaya dia akan mencari yang ketiga. Dan tidak akan memenuhi perut anak Adam kecuali tanah (kematian).” (HR. Muslim no. 1048)

Hadis ini menjadi tafsir hidup tentang kecenderungan halū‘ā manusia yang rakus tanpa batas. Solusinya adalah bertobat, menata hati, dan membangun kepekaan sosial.

Dalam hadis lain, Nabi ﷺ bersabda:

> الْمُؤْمِنُ الْقَوِيُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

“Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada orang mukmin yang lemah.” (HR. Muslim no. 2664)

Kekuatan yang dimaksud tidak hanya fisik, tetapi lebih pada keteguhan spiritual, kejelasan akal sehat, dan ketahanan moral di tengah godaan dunia.

Dari Individu ke Sistem Sosial

Persoalan halū‘ā tidak sekadar soal individu, melainkan bisa menjelma menjadi watak kolektif. Negara yang panik saat defisit, korporasi yang rakus mengejar laba, elite politik yang haus kuasa, atau masyarakat yang mudah takut terhadap perubahan — semua itu adalah cermin dari watak halū‘ā sosial.

Maka tafsir transformatif terhadap ayat ini relevan untuk membangun sistem sosial berbasis nilai ruhani: saling peduli, adil, sabar, dan berbagi ruang hidup yang sehat. Dalam konteks Indonesia saat ini, di tengah tantangan ekonomi, politik, dan polarisasi sosial, pesan ini terasa amat mendesak. Kita butuh membangun budaya sosial yang tidak lagi dikuasai ketakutan dan keserakahan, tetapi keberanian untuk berbagi dan membangun keadilan.

Fenomena jiwa manusia modern

Al-Qur’an lewat ayat ini sesungguhnya sedang mengajak manusia modern untuk jujur terhadap dirinya. Bahwa di balik segala peradaban yang maju, manusia tetap makhluk lemah yang bisa panik, tamak, dan takut. Jalan keluar satu-satunya adalah membangun kekuatan spiritual, ketahanan mental, dan kepekaan sosial.

Jika manusia berhenti rakus dan belajar berbagi, di sanalah watak halu perlahan berubah menjadi jiwa rahmah. Sebuah watak baru yang tidak hanya menyelamatkan dirinya, tetapi juga memberi manfaat bagi sesama. (*)

Tinggalkan Balasan

Search