*)Oleh: Syahrul Ramadhan, S.H., M.Kn., CLQ.
Dalam Islam, ketauhidan merupakan inti keimanan, yaitu pengakuan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah (Lā ilāha illallāh) secara ikhlas dan total dalam setiap aspek kehidupan. Ketauhidan tidak hanya berhenti pada lisan, tetapi juga harus terwujud dalam amal, termasuk dalam ibadah sosial seperti infaq dan sedekah.
Namun, Islam juga mengenali adanya penyakit hati yang membatalkan ketulusan ketauhidan, yakni nifaq (kemunafikan). Nifaq adalah lawan dari keikhlasan dalam iman dan amal, yang membahayakan karena tersembunyi namun mematikan. Dalam konteks ibadah sosial seperti infaq dan sedekah, nifaq menjelma dalam berbagai bentuk yang merusak nilai ibadah itu sendiri.
Artikel ini akan membahas karakteristik nifaq dalam perspektif ketauhidan yang tercermin melalui perilaku infaq dan sedekah, dengan pendekatan bayani, burhani, dan irfani.
Tinjauan Konseptual
- Definisi Nifaq
Nifaq secara bahasa berarti “lubang di tanah” tempat keluarnya binatang liar untuk bersembunyi. Secara istilah syariat, nifaq adalah sikap lahir yang tampak beriman, namun hati menyembunyikan kekafiran atau penolakan terhadap kebenaran.
“Dan di antara manusia ada yang berkata: ‘Kami beriman kepada Allah dan Hari Akhir’, padahal mereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Baqarah)
- Infaq dan Sedekah dalam Tauhid
Infaq dan sedekah adalah bentuk pengabdian kepada Allah yang merefleksikan keimanan sejati. Ketika dilakukan dengan ikhlas karena Allah semata, ia menjadi bukti kuat dari tauhid yang murni.
“Perumpamaan orang yang menafkahkan hartanya karena mencari keridhaan Allah dan untuk keteguhan jiwa mereka, adalah seperti sebuah kebun di dataran tinggi…” (QS Al-Baqarah)
Karakteristik Nifaq dalam Ketauhidan Infaq dan Sedekah
- Menafkahkan Harta karena Riya (Pamer Amal)
“Mereka menafkahkan hartanya untuk dipamerkan kepada manusia dan mereka tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian…” (QS An-Nisa’) - Sedekah yang Mengandung Celaan atau Menyakiti
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima)…” (QS Al-Baqarah) - Memberi dengan Terpaksa, Bukan dengan Cinta kepada Allah
“Dan tidaklah mereka menafkahkan (harta), melainkan dengan rasa terpaksa.” (QS At-Taubah) - Tidak Konsisten antara Ucapan dan Perbuatan
“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS As-Saff) - Tidak Menumbuhkan Ketundukan Hati
Munafik tetap keras hati meski sudah sering bersedekah. Ia tidak merasa takut akan siksa, dan tidak merindukan ridha Allah. Harta bukan dijadikan alat ibadah, tapi sarana mengukuhkan ego.
Bahaya Nifaq dalam Ibadah Sosial
- Menghanguskan Amal
Seperti api membakar kayu kering, demikian pula nifaq menghanguskan pahala amal saleh yang terlihat luar biasa secara dzahir. - Mendapat Laknat dan Azab
Allah mencela para munafik lebih keras dari kafir biasa. Mereka berada di tingkatan terbawah neraka (QS An-Nisa’). - Menggagalkan Misi Tauhid
Tauhid menuntut keikhlasan dan penyerahan total kepada Allah. Nifaq adalah bentuk pembangkangan batin terhadap misi tersebut.
Penangkal Nifaq dalam Infaq dan Sedekah
- Menguatkan Niat karena Allah
Selalu memperbarui niat dan mengingat bahwa hanya Allah yang patut menjadi tujuan akhir dari setiap pemberian. - Menjaga Amal dari Riya dan Sum’ah
“Jika kamu menampakkan sedekah(mu), maka itu baik sekali. Dan jika kamu menyembunyikannya dan memberikannya kepada orang-orang fakir, maka itu lebih baik bagimu…” (QS Al-Baqarah) - Muhasabah dan Taubat
Sering mengintrospeksi diri apakah amal kita sudah benar-benar ikhlas atau belum, serta senantiasa bertobat dari kemunafikan. - Berdoa Diberi Hati yang Ikhlas
“Allāhumma innī a‘ūdzu bika min an usyrika bika wa anā a‘lamu wa astaghfiruka limā lā a‘lam.”
Ketauhidan bukan sekadar pengakuan lisan, tetapi manifestasi amal ikhlas yang terbebas dari penyakit hati seperti nifaq. Infaq dan sedekah bukan hanya ibadah sosial, tetapi juga ujian keimanan dan keikhlasan. Mari kita jaga ibadah kita dari kemunafikan, dan tanamkan bahwa semua pemberian kita adalah karena cinta kepada Allah semata, bukan karena ingin dipuji atau dipandang mulia manusia. (*)
