*) Oleh: Farid Firmansyah, M.Psi,
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Timur
Surat Al-Anbiyā’ Ayat 5:
بَلْ قَالُوٓا۟ أَضْغَٰثُ أَحْلَٰمٍۭ بَلِ ٱفْتَرَىٰهُ بَلْ هُوَ شَاعِرٌ فَلْيَأْتِنَا بِـَٔايَةٍ كَمَآ أُرْسِلَ ٱلْأَوَّلُونَ
“Bahkan mereka berkata (pula): ‘(Al-Qur’an itu adalah) mimpi-mimpi yang kalut, malah diada-adakannya, bahkan dia sendiri seorang penyair. Maka hendaknya ia mendatangkan kepada kita suatu mukjizat sebagaimana rasul-rasul yang telah lalu diutus.’”
Dalam perjalanan sejarah Islam, Al-Qur’an sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW menghadapi berbagai bentuk penolakan.
Salah satu respons yang tercatat adalah sebagaimana tergambar dalam Surat Al-Anbiyā’ ayat 5, ketika sebagian orang menuduh bahwa Al-Qur’an hanyalah mimpi-mimpi yang tidak teratur, hasil karangan manusia, atau karya seorang penyair.
Mereka menuntut mukjizat fisik, seperti yang diberikan kepada nabi-nabi sebelumnya, sebagai bukti kebenaran wahyu tersebut.
Penolakan ini mencerminkan keinginan masyarakat pada masa itu untuk mendapatkan bukti material yang bisa dilihat dan diukur. Padahal, Al-Qur’an hadir sebagai mukjizat yang berbeda, yang menantang kecerdasan intelektual, spiritual, dan hati nurani manusia.
Al-Qur’an bukan hanya sebuah teks, melainkan pedoman hidup yang penuh makna mendalam dan kekuatan transformasi.
Penolakan terhadap wahyu dapat dianalisis melalui perspektif psikologi. Dalam teori pertahanan psikologis, penolakan sering kali muncul ketika seseorang merasa terancam oleh sesuatu yang baru atau bertentangan dengan keyakinan yang sudah ada.
Orang-orang yang menolak Al-Qur’an lebih mengandalkan pemahaman material dan bukti fisik, sehingga kesulitan menerima wahyu yang sifatnya abstrak dan spiritual.
Hal ini menunjukkan keterbatasan pemahaman manusia. Dalam psikologi kognitif, fenomena ini dikenal dengan istilah bias konfirmasi, yaitu kecenderungan untuk menerima informasi yang sesuai dengan keyakinan kita dan menolak informasi yang bertentangan.
Akibatnya, mereka yang menuntut mukjizat fisik kesulitan melihat keajaiban Al-Qur’an sebagai sebuah mukjizat intelektual dan spiritual.
Keajaiban Al-Qur’an tidak hanya terletak pada kebahasaannya yang luar biasa, tetapi juga pada kedalaman maknanya yang abadi.
Al-Qur’an mampu menyentuh hati manusia, memberikan petunjuk hidup, dan menjawab tantangan intelektual di setiap zaman.
Dalam perspektif psikologi positif, Al-Qur’an adalah sumber inspirasi yang mengubah pola pikir dan memberikan ketenangan batin bagi mereka yang membacanya dengan hati yang terbuka.
Bagi mereka yang memahami Al-Qur’an secara mendalam, mukjizatnya tidak hanya terbatas pada dimensi spiritual, tetapi juga menjadi bukti kebenaran yang mampu menjawab berbagai pertanyaan ilmiah dan sosial.
Al-Qur’an mengundang pembacanya untuk berpikir secara abstrak, melampaui keterbatasan pemikiran konkret yang hanya mengandalkan bukti fisik.
Kebutuhan Akan Kecerdasan Spiritual
Penolakan terhadap wahyu seperti yang tercermin dalam Surat Al-Anbiyā’ ayat 5 menunjukkan perlunya kecerdasan spiritual untuk menerima dan memahami Al-Qur’an sebagai mukjizat.
Hanya mereka yang memiliki keterbukaan kognitif dan hati yang tulus dapat merasakan keajaiban yang terkandung dalam Al-Qur’an.
Dalam konteks ini, perbedaan antara pemikiran konkret dan abstrak menjadi sangat jelas. Pemikiran konkret cenderung mengandalkan bukti fisik yang dapat dilihat dan diukur.
Sementara pemikiran abstrak mengundang refleksi mendalam terhadap makna yang tersembunyi di balik sesuatu yang tidak selalu terlihat.
Al-Qur’an mengajarkan bahwa keimanan tidak semata-mata bergantung pada apa yang terlihat, tetapi juga pada keyakinan yang lahir dari pemahaman batiniah.
Al-Qur’an adalah mukjizat yang melampaui batas-batas fisik dan material. Ia membutuhkan pemahaman intelektual, emosional, dan spiritual untuk benar-benar menangkap keajaiban yang terkandung di dalamnya.
Penolakan terhadap wahyu, sebagaimana digambarkan dalam Surat Al-Anbiyā’ ayat 5, mencerminkan keterbatasan pemahaman manusia yang lebih mengutamakan bukti fisik.
Namun, bagi mereka yang membuka hati dan pikirannya, Al-Qur’an adalah sumber petunjuk hidup yang membawa pencerahan, kedamaian, dan kekuatan spiritual yang mendalam. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
