*)Oleh: Ubaidillah Ichsan, S.Pd
Korps Mubaligh Muhammadiyah (KMM) PDM Jombang
“When reason reaches its limits, prayer takes over and opens the door to miracles”
“(Ketika akal mencapai batasnya, doa mengambil alih dan membuka pintu keajaiban)”
Doa adalah jalan keselamatan, tangga pengantar, kendaraan orang shalih, tempat berlindung bagi kaum yang terzalimi dan tertindas, melalui doa nikmat diturunkan dan melaluinya pula murka dihindarkan.
Doa adalah senjata orang mukmin sebagaimana dalam hadis yang disebutkan dalam Al-Mustadrak Al-Hakim, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أُدْعُو اللهَ وَأَنْتُمْ مُوْقِنُوْنَ بِالاِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللهَ لاَ يَقْبَلُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ
Artinya:
“Berdoalah kepada Allah dengan keyakinan doa kalian terkabul. Ketahuilah, sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan tidak serius.” (HR. Al-Hakim, 1:493)
Berdasarkan hadits di atas, doa adalah obat penawar yang memberikan manfaat dan menghilangkan penyakit. Namun, kelalaian hati dari mengingat Allah dan mengonsumsi makanan haram akan melemahkan sekaligus melenyapkan kekuatan doa.
Keajaiban doa terletak pada kemampuannya untuk menenangkan jiwa yang gundah, memberikan kekuatan di tengah kesulitan, dan bahkan, dalam keyakinan banyak orang, mengubah takdir.
Salah satu aspek menakjubkan dari doa adalah dampaknya pada kondisi psikologis seseorang. Ketika seseorang berdoa dengan sungguh-sungguh, ia melepaskan beban emosionalnya, merasakan kedamaian, dan menemukan harapan baru.
Penelitian menunjukkan bahwa praktik spiritual seperti doa dapat mengurangi stres, kecemasan, dan meningkatkan perasaan positif. Fokus dan ketenangan yang hadir saat berdoa memberikan ruang bagi refleksi diri dan memperkuat ketahanan mental.
Dalam Islam, doa memiliki kedudukan yang sangat istimewa. Allah SWT berfirman,
وَقَالَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْٓ اَسْتَجِبْ لَكُمْ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَادَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دٰخِرِيْنَ
Artinya:
“(Dan Tuhanmu berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (Qs. Ghafir: 60)
Ayat ini dengan jelas menjanjikan bahwa Allah akan mengabulkan doa hamba-Nya dan sekaligus memperingatkan tentang pentingnya berdoa dan tidak menyombongkan diri dari-Nya. Dalam hadis Dari An-Nu’man bin Basyir, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ
Artinya:
“Doa adalah ibadah.” (HR. Abu Daud No. 1479,Tirmidzi No. 2969, Ibnu Majah No. 3828, Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad No. 714)
Hadis diatas menjelaskan bahwa Doa adalah intinya ibadah. Oleh karena itu doa itu mesti mukhlishan shawaban, yaitu harus ikhlas dan sesuai tuntunan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sudah sepatutnya seseorang yang berdoa menampakkan bahwa ia butuh pada Allah dan menganggap dirinya lemah tanpa pertolongan Allah. Ia berdoa dengan yakin bahwa doa itu akan terkabul, entah akan dikabulkan sesuai yang diminta, atau ditunda sebagai tabungan di akhirat, atau akan dipalingkan dari suatu kejelekan.
Jadi, Doa adalah anugerah yang luar biasa bagi umat manusia. Lebih dari sekadar permohonan, ia adalah sarana komunikasi spiritual, sumber ketenangan batin, dan wujud keyakinan akan kekuasaan Sang Pencipta.
Marilah kita senantiasa menjadikan doa sebagai bagian tak terpisahkan dari hidup kita, memohon dengan kerendahan hati dan keyakinan, serta menyaksikan keajaiban yang mungkin terjadi.
Semoga bermanfaat. (*)
