Kebaikan itu Berbalas

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Kebaikan akan berbalas (al-jaza’ min jinsil ‘amal), menegaskan bahwa setiap perbuatan baik, sekecil apapun, pasti akan membuahkan balasan kebaikan yang setimpal atau lebih baik dari Allah Swt, baik di dunia maupun akhirat. Hal ini didasarkan pada ayat Al-Qur’an (QS. Ar-Rahman: 60)

Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan pula, menjadikannya fondasi utama dalam ajaran Islam. Balasannya bisa berupa ketenangan hati, perlindungan dari musibah, kemudahan urusan, atau pahala di akhirat.

Berkaitan dengan tema kebaikan ada pesan Lukman kepada anaknya sebagaimana firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

بُنَيَّ إِنَّهَا إِن تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِّنْ خَرْدَلٍ فَتَكُن فِي صَخْرَةٍ أَوْ فِي السَّمَاوَاتِ أَوْ فِي الْأَرْضِ يَأْتِ بِهَا اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

(Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.“ QS. Luqman ayat 16.

Memperbanyak amal merupakan salah satu bentuk keseriusan dalam memuliakan bulan Ramadan. Selain berpuasa, para sahabat nabi juga membiasakan diri dengan membaca al-Qur’an.

Seiring Surah Lukman tersebut di atas, Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa ini adalah wasiat yang sangat bermanfaat yang Allah Ta’ala ceritakan tentang Luqman Al Hakim, agar setiap orang bisa mencontohnya. Dosa dan kezaliman sekecil apa pun, pasti Allah akan memberikan balasannya pada hari kiamat, ketika setiap amalan ditimbang. Jika amalan tersebut baik, maka balasan yang diperoleh pun berupa kebaikan. Namun jika amalannya buruk, maka balasan yang diperoleh pun berupa keburukan.

Hal ini sebagaimana  firman Allah Ta’ala:

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلَا تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئاً

“Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikitpun.“ QS. Al Anbiya’ ayat 47.

فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْراً يَرَهُ وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرّاً يَرَهُ

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula“ QS. Al Zalzalah  ayat 7-8.

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَا وَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِراً وَلَا يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَداً

“Dan diletakkanlah kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata: “Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun“  (QS. Al Kahfi ayat 49)

Walaupun kezaliman tersebut sangat tersembunyi, Allah akan tetap membalasnya karena Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ لَطِيفٌ خَبِيرٌ

“Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” QS. Luqman ayat 16. 

Dalam ayat ini disebutkan dua nama Allah sekaligus yaitu  Al-Khabiir dan Al-Lathiif.

Maksud “lathiif” dalam ayat ini adalah ilmu Allah itu bisa menjangkau sesuatu yang tersembunyi dan tidaklah samar bagi Allah walaupun amat kecil dan lembut. Sedangkan maksud “khabirr” maksudnya adalah Allah mengetahui hal yang kecil, sampai pada jejak semut sekali pun meskipun di malam yang gelap gulita. ( Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Adzim).

Tinggalkan Balasan

Search