Keberkahan Iman dan Makna Hidup Hakiki

*) Oleh : Bahrus Surur-Iyunk
Penulis Buku Cendekiawan Melintas Batas (SM, 2024)
www.majelistabligh.id -

Dalam Al-Qur’an surah Al-A’raf ayat 96, Allah berfirman: “Walau anna ahlal qura amanu wattaqaw la fatahna ‘alaihim barakaatim minas samaa’i wal ardhi…” — “Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.”

Ayat ini menegaskan bahwa iman dan takwa bukan sekadar tuntunan spiritual, tetapi merupakan syarat hakiki untuk memperoleh keberkahan hidup secara menyeluruh.

Wasiat Kehidupan

Iman dan takwa adalah dua konsep fundamental yang saling melengkapi. Iman memberikan pondasi keyakinan terhadap Allah, sedangkan takwa merupakan bentuk implementasi nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya menjadi wasiat penting dalam setiap khutbah Jumat, menunjukkan bahwa seluruh amal ibadah dan muamalah harus dilandasi ketulusan hati dan ketaatan kepada Allah.

Takwa menuntun seseorang untuk melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya, sekaligus menjadikannya pribadi yang berintegritas dan penuh kasih.

Dalam Al-Quran Allah menjanjikan keberkahan kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa. Namun, perlu digarisbawahi bahwa keberkahan bukanlah sekadar banyaknya harta, luasnya tanah, atau hebatnya keturunan.

Sebagaimana Mekkah yang secara geografis tandus dan kering, namun menjadi pusat spiritual dunia dan tanah yang diberkahi.

Begitu pula makna berkah dalam hidup kita: bukan dari kuantitas, tetapi dari kualitas. Panjang umur yang berkah bukanlah soal hitungan tahun, melainkan bagaimana umur itu diisi dengan nilai, amal, dan manfaat.

Lima Keberkahan Iman

Keimanan sejati akan memunculkan lima bentuk keberkahan yang dapat dirasakan dalam kehidupan seorang mukmin:

Pertama, proses penyembuhan spiritual dan fisik. Orang yang beriman memiliki akses pada healing alami yang ditanamkan Allah dalam dirinya.

Rasa syukur, sabar, dan dzikir dapat merangsang pelepasan hormon-hormon kebahagiaan seperti endorfin, serotonin, dopamin, dan oksitosin. Inilah sebabnya mengapa banyak orang menemukan ketenangan hanya dengan bersujud atau mengingat Allah.

Kedua, kebahagiaan hakiki. Bukan sekadar tawa, tetapi ketenangan jiwa yang mendalam. Inilah yang disebut dalam Al-Qur’an: “Yaa ayyatuha annafsul mutmainnah” — “Wahai jiwa yang tenang.” Jiwa yang tenang adalah anugerah terbesar yang lahir dari keimanan yang kokoh dan tawakal kepada Allah.

Ketiga, masuk dalam zona keberuntungan H hp yg (lucky factor). Dalam surah Al-Mu’minun ayat 1-10, Allah menggambarkan karakter orang-orang yang beriman yang akan memperoleh kemenangan.

Mereka senantiasa menjaga shalat, menjauhkan diri dari perbuatan sia-sia, dan menunaikan amanah. Inilah keberuntungan sejati — bukan karena keberuntungan semu, tapi buah dari konsistensi dan ketaatan.

Keempat, sukses yang hakiki. Sukses bagi seorang mukmin bukan hanya dilihat dari duniawi, tetapi juga ukhrawi. Bila sukses di dunia tak tercapai, maka akhirat menjadi penghibur dan janji pasti Allah. Kesuksesan dalam Islam selalu beriringan dengan ibadah dan amal saleh yang tak pernah sia-sia.

Kelima, menjadi sumber kemanfaatan. Orang beriman akan selalu berusaha memberi manfaat, baik bagi dirinya sendiri, keluarganya, masyarakat, bahkan untuk generasi setelahnya. Rasulullah bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” Inilah ciri mukmin sejati: tak pernah lelah memberi dan melayani.

Kehidupan yang Diberkahi

Dalam perjalanan hidup yang penuh liku, iman dan takwa adalah kompas yang akan mengarahkan kita menuju makna hidup yang sebenarnya.

Bukan sekadar mengejar angka, jabatan, atau kemewahan, melainkan mencari nilai dalam setiap detik kehidupan. Keberkahan itu terasa saat kita merasakan cukup dalam yang sedikit, tenang dalam kesederhanaan, dan semangat dalam memberi.

Maka marilah kita hidup dengan memaknai setiap anugerah sebagai jalan menuju berkah, dengan menjadikan iman dan takwa sebagai dasar dari setiap langkah.

Sebab, siapa pun yang hidup dalam lingkaran keimanan sejati akan selalu berada dalam naungan berkah-Nya. Wallahu a’lamu. (*)

Tinggalkan Balasan

Search