*)Oleh: Dr. Slamet Muliono Redjosari
Para rasul memiliki kecerdasan yang sangat mapan, sehingga para penentang yang meragukan ajarannya bisa terdiam dan putus asa ketika berhadapan dengannya. Bentuk putus asa itu bisa ditunjukkan dengan permintaan untuk segera membuktikan ancamannya. Mereka jengah dengan dakwah rasul, sehingga meminta untuk mendatangkan azab yang selalu diancamkan secara berulang-ulang.
Nabi Muhammad merupakan salah satu contoh yang memiliki kemampuan meruntuhkan argumen orang Quraisy yang selalu meragukan adanya hari kebangkitan. Demikian pula Nabi Ibrahim, memiliki kecerdasan di atas rata-rata ketika berhasil membungkam raja Namrud yang mengaku sebagai Tuhan, dan langsung terdiam ketika diminta menerbitkan matahari dari Barat.
Kecerdasan Profetik
Para nabi umumnya memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Itulah salah satu keistimewaan yang mereka miliki. Nabi Muhammad dikenal memiliki kecerdasan luar biasa dalam membantah argumen para penentang ajarannya. Beliau tidak hanya menggunakan logika yang tajam tetapi juga membalas dengan jawaban yang membuat lawannya terdiam. Nabi memberi kabar gembira berupa surga bila mau meninggalkan tradisi buruk, dan mengancamnya neraka bilamana tidak berubah.
Kaum Quraisy dan para penentangnya pun merasa bosan dan marah dengan peringatan itu seraya membantahnya dengan berbagai argumen. Namun Nabi Muhammad berhasil melemahkan argumen itu dan menunjukkan kesesatannya.
Mereka pun tak mampu lagi membantah kebenaran yang beliau sampaikan, hingga putus asa. Akhirnya, mereka kehabisan akal, seraya menantang nabi untuk segera mendatangkan azab sebagai bukti ancamannya.
Namun, dengan penuh kebijaksanaan, nabi menjelaskan bahwa azab adalah ketentuan Allah dan datang sesuai dengan kehendak-Nya, bukan atas permintaan manusia. Contohnya Nabi Nuh, yang mengingatkan mereka akan kaum terdahulu yang dibinasakan karena kedurhakaan mereka. Nabi Nuh tetap menegaskan bahwa tugasnya hanyalah menyampaikan risalah, bukan menentukan kapan azab turun. Jawaban ini tidak hanya membungkam para penentang, tetapi juga menunjukkan kesabaran dan kecerdasan Nabi dalam menghadapi mereka. Tantangan azab itu pernah dinarasikan sebagaimana firman-Nya :
قَالُواْ يَٰنُوحُ قَدۡ جَٰدَلۡتَنَا فَأَكۡثَرۡتَ جِدَٰلَنَا فَأۡتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ ٱلصَّٰدِقِينَ
Artinya:
Mereka berkata, “Hai Nūḥ, sesungguhnya kamu telah berbantah dengan kami dan kamu telah memperpanjang bantahanmu terhadap kami, maka datangkanlah kepada kami azab yang kamu ancamkan kepada kami jika kamu termasuk orang-orang yang benar”. (QS. Hūd : 32)
Salah satu ayat yang lain menunjukkan kecerdasan Nabi Ibrahim yang diabadikan Al-Qur’an ketika menghadapi argumen kaumnya yang lemah. Nabi Ibrahim berhasil membungkam raja Namrud yang mengaku dirinya sebagai Tuhan. Namun Nabi Ibrahim berbalik bertanya dan memintanya untuk menerbitkan matahari dari barat. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :
اللَّهُ الَّذِي يُحْيِي وَيُمِيتُ ۖ قَالَ أَنَا أُحْيِي وَأُمِيتُ ۖ قَالَ إِبْرَاهِيمُ فَإِنَّ اللَّهَ يَأْتِي بِالشَّمْسِ مِنَ الْمَشْرِقِ فَأْتِ بِهَا مِنَ الْمَغْرِبِ فَبُهِتَ الَّذِي كَفَرَ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
“Allah (adalah Tuhan) yang menghidupkan dan mematikan.” Ia (Namrud) berkata, “Aku pun bisa menghidupkan dan mematikan!” Ibrahim berkata, “Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat!” Maka terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 258)
Argumen Nabi Ibrahim melemahkan kepercayaan Namrud yang mengaku menghidupkan dan mematikan (dengan membiarkan hidup atau membunuh seseorang), Nabi Ibrahim mengajaknya ke level yang lebih tinggi—menantangnya untuk membalik arah agar menerbitkan matahari dari barat. Tantangan ini membungkam Namrud karena ia tidak memiliki jawaban atau kemampuan untuk melakukannya.
Kebijaksaan Nabi
Kecerdasan para nabi dalam membantah argumen para penentangnya menunjukkan kebijaksanaan dan ketajaman berpikir mereka dalam menyampaikan kebenaran. Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim AS adalah contoh nyata bagaimana seorang utusan Allah mampu menghadapi tantangan dari kaum yang menolak ajaran tauhid dengan logika yang tak terbantahkan.
Nabi Muhammad dengan tegas menolak permintaan kaum Quraisy untuk mendatangkan azab sebagai bukti kebenaran ajarannya, karena keputusan tentang azab adalah hak mutlak Allah.
Sementara itu, Nabi Ibrahim mendakwahkan untuk bertauhid dengan menyembah. Kaumnya menyembah berhala yang sangat banyak. Ketika kaumnya meninggalkan tempat penyembahan karena merayakan kegembiraan. Karena tempat penyembahan kosong maka Nabi Ibrahim menghancurkan semuanya dengan kapak, kecuali berhala besar. Kapaknya dikalungkan ke leher berhala yang besar untuk sebuah tipu daya.
Ketika kaumnya datang dan marah maka Nabi Ibrahim menjadi sasaran amukan. Mereka pun memanggil dan mendatangkannya. Ketika Nabi Ibrahim ditanya apakah benar telah menghancurkan berhala-berhala ini, maka Nabi Ibrahim menjawab dengan nada bercanda agar menanyakannya kepada berhala yang di lehernya ada kapak.
Mereka pun menuduh Nabi Ibrahim bodoh karena meminta bertanya kepada benda yang tak bisa berbicara. Nabi Ibrahim pun langsung menimpali dan menyalahkan mereka mengapa menyembah sesuatu yang tak bisa berbicara. Mereka pun diam dan tak bisa berbuat apa-apa kecuali keluar emosi untuk membakar Nabi Ibrahim.
Kisah-kisah ini menunjukkan kecerdasan para Nabi dan rasul. Mereka memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kecerdasan itu ditunjukkan dengan membantah argumen kaumnya yang lemah dengan mengajak mereka berpikir rasional. Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim merupakan sosok ulul ‘azmi yang sangat cerdas sehingga membuat kaumnya lumpuh argumentasinya ketika menyembah berhala dan meninggalkan tauhid.(*)
Semarang, 7 Pebruari 2025.
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
