Meski Kementerian Agama (Kemenag) terus mendorong agar kegiatan belajar mengajar (KBM) di lokasi bencana Sumatra berjalan, tetapi memang masih ada beberapa sekolah yang masih terkendala. Di antaranya ada sekolah yang dipakai sebagai tempat pengungsian sementara.
Di Kabupaten Aceh Tengah misalnya, ada beberapa ruang kelas yang dipakai untuk lokasi pengungsian para penyintas. Data dari Kemenag, sebanyak 14 dari 105 madrasah dilaporkan belum sepenuhnya siap melaksanakan Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) secara normal.
“Ada yang akses jalannya terganggu, ada yang gedung dan meja kursinya rusak. Juga ada yang masih menjadi tempat pengungsian,” kata Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah, Wahdi MS, Rabu (7/1/2026).
Tim Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi 2025 Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Aceh mencatat, di wilayah Aceh Tengah terdapat 31 madrasah dari berbagai jenjang terkena dampak banjir dan longsor. Meskipun demikian, sebagia besar sudah melaksanakan KBM.
Sebanyak 5 Raudatul Athfal (RA) terdampak dengan tingkat kerusakan ringan hingga berat. Sementara, 12 Madrasah Ibtidaiyah, 7 Madrasah Tsanawiyah dan 7 Madrasah Aliyah mengalami kerusakan serupa.
“Madrasah-madrasah ini perlu segera mendapat perhatian dan perbaikan agar proses belajar mengajar dapat kembali berjalan normal,” jelas Wahdi, saat kerja bakti pembersihan material longsor di Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 4 Aceh Tengah.
Ia menjelaskan, dua madrasah di Kecamatan Bintang, MIN 19 dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 6 Aceh Tengah, menjadi tempat pengungsian warga dari Desa Atu Payung, Konyel, dan Gele Pulo. Meski belum normal, di madrasah ini mulai fokus pada kegiatan pendidikan, sementara MIN 19 yang lokasinya satu kompleks, masih digunakan sebagai lokasi pengungsian.
Dengan ruang belajar yang terbatas, KBM tetap diupayakan berjalan. Ruang-ruang kelas yang tidak ditempati pengungsi dijadikan tempat belajar dengan pengaturan yang disesuaikan dengan kondisi di lapangan. “Ini bukan situasi ideal, tetapi anak-anak harus tetap belajar. Kita menyesuaikan dengan keadaan, memanfaatkan ruang yang ada,” kata Wahdi.
Kepala MTsN 6 Aceh Tengah, Abd Rahman mengatakan, PBM terhenti total sejak akhir November lalu karena madrasah difungsikan sebagai tempat pengungsian dan banyak siswa serta guru yang turut terdampak banjir dan longsor. Keputusan untuk tetap menerima pengungsi adalah bagian dari tanggung jawab kemanusiaan. “Kami tidak mungkin menutup pintu. Di satu sisi kami mendidik, di sisi lain kami juga melayani warga yang membutuhkan tempat aman,” kata Abd Rahman. (*/tim)
