Kehebatan Al-Qur’an, Sumber Kehidupan dan Peradaban

www.majelistabligh.id -

Tidak jauh berbeda, Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan, kata syifâ juga memiliki arti obat bagi penyakit medis dengan metode ruqyah, meminta perlindungan kepada Allah, dan semisalnya. Al-Qurthubi mendasari penjelasannya dengan hadits panjang berikut:

حَدَّثَنَا أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ , أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَ سَرِيَّةً عَلَيْهَا أَبُو سَعِيدٍ فَمَرَّ بِقَرْيَةٍ فَإِذَا مَلِكُ الْقَرْيَةِ لَدِيغٌ , فَسَأَلْنَاهُمْ طَعَامًا فَلَمْ يُطْعِمُونَا وَلَمْ يُنْزِلُونَا , فَمَرَّ بِنَا رَجُلٌ مِنْ أَهْلِ الْقَرْيَةِ , فَقَالَ: يَا مَعْشَرَ الْعَرَبِ هَلْ مِنْكُمْ أَحَدٌ يُحْسِنُ أَنْ يَرْقِيَ؟ إِنَّ الْمَلِكَ يَمُوتُ , قَالَ أَبُو سَعِيدٍ: فَأَتَيْتُهُ فَقَرَأْتُ عَلَيْهِ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ فَأَفَاقَ وَبَرَأَ , فَبَعَثَ إِلَيْنَا بِالنُّزُلِ وَبَعَثَ إِلَيْنَا بِالشَّاءِ , فَأَكَلْنَا الطَّعَامَ أَنَا وَأَصْحَابِي وَأَبَوْا أَنْ يَأْكُلُوا مِنَ الْغَنَمِ حَتَّى أَتَيْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَخْبَرْتُهُ الْخَبَرَ , فَقَالَ: «وَمَا يُدْرِيكَ أَنَّهَا رُقْيَةٌ؟» قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ شَيْءٌ أُلْقِيَ فِي رَوْعِي , قَالَ: فَكُلُوا وَأَطْعِمُونَا مِنَ الْغَنَمِ

“Abu Sa’id al-Khudri ra telah menceritakan kami bahwa Rasulullah saw pernah mengutus sekelompok pasukan dan Abu Sa’id berada bersama mereka. Pasukan itu kemudian melewati sebuah perkampungan. Ketika itu pemimpin kampung itu digigit hewan melata. Kami lalu meminta makanan kepada mereka, namun mereka enggan memberinya dan tidak menyuruh kami singgah.

Tak lama kemudian salah seorang penduduk kampung tersebut melewati kami dan berkata, ‘Wahai sekalian orang Arab, apakah di antara kalian ada yang pandai meruqyah? karena pemimpin kami hampir mati.’ Abu Sa’id berkata, ‘Aku lalu mendatanginya dan membacakan surah Al-Fatihah kepadanya. Akhirnya, ia siuman dan sembuh.’

Ia lalu memberi kami persinggahan dan beberapa ekor domba. Setelah itu kami menyantap makanannya, namun mereka enggan memakan domba tersebut. Ketika kami sampai kepada Rasulullah saw, aku menceritakan hal tersebut kepadanya. Mendengar itu, beliau berkata, ‘Apa yang membuatmu tahu bahwa ia adalah ruqyah?’ Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, ada sesuatu (ilham) yang dibesitkan di hatiku.’ Beliau bersabda, ‘Kalau begitu makanlah dan berilah kami makan dari domba tersebut.’” (HR. Ad-Daraquthni no. 3018). (Al-Qurthubi, Al-Jami’ li Ahkamil Qur’an, tanpa tahun: juz x, halaman 315)

Melalui ayat al-Qur’an dan hadits di atas, jelas bahwa pada dasarnya praktik ruqyah dibenarkan dalam Islam. Masih banyak ayat dan hadits lain yang dijadikan dasar oleh para ulama terkait keabsahan ruqyah.

Yang perlu diperhatikan adalah ketika melakukan ruqyah tidak menggunakan ayat-ayat al -Qur’an. Maka dapat menyebabkan kekufuran dan dosa

Sebagaimana pemaparan Ibnu Hajar al-Haitami:

وحيث كان في الرقية اسم سريانيّ مثلاً لم يجز استعمالها قراءة ولا كتابة، إلا إن قال أحد من أهل العلم الموثوق بهم: إن مدلول ذلك الاسم معنى جائز؛ لأنّ تلك الأسماء المجهولة المعنى قد تكون دالة على كفر أو محرم، كما صرّح به أئمتنا، فلذلك حرموها قبل علم معناها

“Jika dalam praktik ruqyah seumpama terdapat asma suryani, maka tidak boleh membaca dan menuliskannya kecuali sudah mendapat legalitas dari orang yang kompeten di bidangnya. Sebab, asma-asma yang artinya tidak diketahui terkadang bisa mengarah pada kekufuran atau keharaman. Demikian menurut imam-imam kami. Sebab itu, para ulama mengharamkannya sebelum tahu maknanya.” (Ibnu Hajar, Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, juz I, halaman 37).

Dari penjelasan Ibnu Hajar di atas dapat dipahami bahwa kita harus hati-hati dengan pengobatan menggunakan dzikir-dzikir yang tidak terdapat dalam al-Qur’an atau dajarkan oleh Nabi. Pengguna harus tahu artinya terlebih dahulu. Dan yang tidak kalah penting memiliki guru dan sanad yang jelas.

Al-Qur’an dan Kelembutan Hati

Ketika hati terasa keras dan hidup terasa berat, al-Qur’an menjadi solusi terbaik. Maksiat yang dilakukan sehari-hari membuat hati mengeras, dan hanya dengan lantunan ayat-ayat Allah, hati itu dapat kembali lembut dan siap menerima hidayah.

Kisah Umar bin Khattab menjadi bukti nyata. Dari seseorang yang sangat membenci Nabi Muhammad Saw, Umar menjadi salah satu sahabat terdekat setelah hatinya tersentuh oleh ayat-ayat Al-Qur’an yang dibaca oleh adiknya, Fatimah.

Allah menggambarkan kekuatan al-Qur’an dalam firman-Nya:

لَوْ اَنْزَلْنَا هٰذَا الْقُرْاٰنَ عَلٰى جَبَلٍ لَّرَاَيْتَهٗ خَاشِعًا مُّتَصَدِّعًا مِّنْ خَشْيَةِ اللّٰهِۗ وَتِلْكَ الْاَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُوْنَ

“Seandainya Kami turunkan Al-Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah karena takut kepada Allah. Perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia agar mereka berpikir.” (Qs al-Hasyr: 21)

Akhir Kata: Jadikan Al-Qur’an Turun ke Hati Kita

Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad, beliau menjadi makhluk paling mulia. Al-Qur’an turun kepada umat beliau, umat ini menjadi yang terbaik. Al-Qur’an diturunkan di bulan Ramadhan, bulan itu menjadi yang paling istimewa. Lalu, bagaimana jika Al-Qur’an itu benar-benar hadir dan hidup di dalam hati kita?

Sudah waktunya kita bukan sekadar membaca, tapi menghidupkan al-Qur’an dalam kehidupan. Menjadikan al-Qur’an sebagai sumber kekuatan, penyembuh, dan petunjuk utama dalam meniti jalan hidup yang penuh tantangan ini. (*)

*) Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC IMM Lamongan

 

Tinggalkan Balasan

Search