Keikhlasan yang Hilang: Pelajaran dari Surat Nabi kepada Heraklius

www.majelistabligh.id -

Ikhlas dalam beramal menjadi kunci utama dalam meraih kemuliaan di sisi Allah. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. Slamet Muliono Redjosari, dalam Tausiyah Ramadan yang berlangsung di Masjid Al Badar, Jalan Kertomenanggal, Surabaya, pada Rabu (12/3/2025) malam.

Dalam ceramahnya, Ustaz Slamet mengingatkan bahwa amalan yang dilakukan tanpa keikhlasan akan kehilangan nilai di hadapan Allah. Ia menekankan bahwa setiap amal perbuatan harus diniatkan karena Allah semata, bukan untuk mendapatkan pujian atau keuntungan duniawi.

“Ketika ingin mulia, maka harus memuliakan Allah. Keikhlasan dalam mengikuti perintah-Nya sangat penting agar terdorong untuk melakukan amal-amal mulia,” ujar Dr. Slamet.

Ustaz Slamet kemudian mengutip firman Allah dalam Surat Al-A’raf ayat 176 sebagai peringatan bagi mereka yang lebih mementingkan dunia dibandingkan ketaatan kepada Allah:

“Dan kalau Kami menghendaki, sesungguhnya Kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah; maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya, dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berpikir.” (QS. Al-A’raf: 176)

Menurut dia, ayat ini menggambarkan orang-orang yang diberi petunjuk tetapi lebih memilih mengikuti hawa nafsu dan dunia. Mereka tidak mendapatkan kemuliaan karena tidak mengikhlaskan diri untuk tunduk kepada Allah.

Lebih lanjut, Ustaz Slamet juga mengisahkan surat Nabi Muhammad saw kepada Raja Romawi, Heraklius, sebagai contoh nyata bagaimana seseorang yang telah mengetahui kebenaran tetapi tidak mampu mengamalkannya karena ketakutan duniawi.

Nabi Muhammad saw mengajak Heraklius untuk menerima Islam dengan surat yang berbunyi: “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dari Muhammad, utusan Allah. Kepada Heraklius, raja Romawi yang agung. Salam sejahtera bagi orang yang mengikuti petunjuk. Aku mengajakmu untuk memeluk agama Islam. Masuklah ke dalam Islam, kamu akan selamat. Allah akan memberimu pahala dua kali lipat. Jika kamu menolak, maka kamu akan menanggung dosa orang-orang yang lemah.”

Keikhlasan yang Hilang: Pelajaran dari Surat Nabi kepada Heraklius
Jamaah Masdjid Al Badar Kertomenanggal, Surabaya. foto: mamak

Ustaz Slamet menjelaskan bahwa Heraklius sebenarnya telah mengetahui kebenaran risalah Islam, tetapi menolak untuk memeluknya karena takut kehilangan kekuasaan dan kedudukan di mata rakyatnya.

“Terkadang, manusia menginginkan kemuliaan tetapi tidak ikhlas dalam menerima kebenaran. Heraklius tahu bahwa Nabi Muhammad adalah Rasul terakhir, tetapi ia menolak karena kekhawatiran duniawi,” jelasnya.

Sebagai penutup, Ustaz Slamet mengajak jamaah untuk selalu menata niat dalam setiap amal perbuatan agar murni karena Allah. Ia menekankan bahwa ikhlas adalah kunci diterimanya amal di sisi Allah dan menjadi bekal utama bagi kehidupan akhirat.

“Jangan sampai amal kita sia-sia hanya karena tidak ikhlas. Keikhlasan adalah ruh dari setiap amal, tanpa keikhlasan, amal hanya menjadi formalitas tanpa makna di sisi Allah,” kata dia.

Tausiyah ini menjadi pengingat bagi umat Islam agar senantiasa menata niat, mengutamakan keikhlasan, dan menjadikan amal sebagai sarana mendekatkan diri kepada Allah. Dengan begitu, kemuliaan yang hakiki dapat diraih, baik di dunia maupun di akhirat. (wh)

 

Tinggalkan Balasan

Search