Kejujuran, Jalan Menumbuhkan Kedamaian

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Bahrus Surur-Iyunk
Penulis Buku 10 Langkah Menembus Batas Meraih Mimpi (SPK, 2020)

Dalam sebuah hadis sahih Rasulullah pernah bersabda,

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

“Tinggalkan yang meragukanmu kepada sesuatu yang tidak meragukanmu, karena seungguhnya kejujuran (kebenaran) itu (mendatangkan) ketenangan dan dusta itu (mendatangkan) keraguan. (Hadis Hasan shahih riwayat At-Tirmidzi dari Hasan ibn Ali)

Hadis ini memberi petunjuk mendalam yang relevan dalam kehidupan sehari-hari. Hadis ini mengajarkan prinsip kehati-hatian, kejujuran, dan keyakinan sebagai fondasi hidup yang berkualitas. Kita bisa melihat dalam tiga aspek penting, yaitu keimanan, fikih dan akhlak.

Dalam aspek keimanan, misalnya, hadis ini mengajarkan pentingnya memegang teguh keyakinan yang bersumber pada dalil-dalil yang kuat. Keraguan dalam iman dapat menggerogoti ketenangan jiwa, sedangkan kejujuran dalam memahami dan mengikuti ajaran agama mendatangkan ketenangan batin. Ketika seseorang merasa ragu terhadap suatu keyakinan, ia seharusnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah sebagai pedoman utama.

Sebagai contoh, seorang sahabat Nabi pernah bertanya tentang gejolak hatinya yang mempertanyakan keimanannya. Nabi saw bersabda, “Itu adalah tanda iman,” menunjukkan bahwa keraguan yang diiringi usaha mencari kebenaran adalah proses untuk memperkokoh keyakinan. Oleh karena itu, setiap muslim dianjurkan untuk terus menuntut ilmu, membaca buku dan berdiskusi dengan para ulama agar terhindar dari kebimbangan.

Dalam aspek fikih atau ibadah, hadis ini mendorong umat Islam untuk menjauhi hal-hal yang meragukan, terutama dalam hukum halal dan haram. Prinsip ini sejalan dengan kaidah fikih, “Al-Ashlu fil asy-syai’ al-ibahah” (pada dasarnya segala sesuatu itu mubah kecuali ada dalil yang melarangnya). Ketika menghadapi keraguan, seorang muslim dianjurkan untuk memilih jalan yang lebih aman.

Sebagai contoh, dalam urusan makanan, jika ada keraguan tentang kehalalannya, lebih baik meninggalkannya dan memilih yang jelas kehalalannya. Imam Nawawi menyebutkan bahwa meninggalkan yang syubhat (yang meragukan atau tidak jelas halal haramnya) adalah bagian dari ketakwaan yang tinggi. Dengan demikian, seorang muslim dapat menjalankan ibadah dan hidup kesehariannya dengan tenang tanpa dihantui keraguan.

Begitu juga dalam aspek akhlak. Kejujuran dan integritas adalah pilar utama dalam aspek akhlak. Rasulullah SAW menegaskan bahwa kejujuran membawa ketenangan karena sesuai dengan fitrah manusia yang mencintai kebenaran. Sebaliknya, kebohongan melahirkan keraguan dan kecemasan karena bertentangan dengan hati nurani.

Sekali lagi, keraguan itu bisa menjadi penghalang menuju cahaya kebenaran. Jika hati ragu, carilah petunjuk-Nya, karena Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya dalam gelap tanpa petunjuk. Kejujuran juga menjadi pintu menggapai ketenangan. Setiap kata jujur yang terucap, menghapus satu beban dari pundakmu. Ketika ragu, coba bertanyalah pada hatimu yang bersih. Hati yang bersih selalu condong pada kebenaran. Wallahu a’lamu. (*)

Tinggalkan Balasan

Search