Kekayaan Melimpah: Lupa Diri dan Ingkar

*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
www.majelistabligh.id -

Sejarah hancurnya peradaban disebabkan oleh kelalaian dan lupa diri. Kekayaan yang melimpah dan kekuasaan yang kokoh membuat hidupnya mapan, tak tergoyahkan.

Kalau hancurnya kaum terdahulu disebabkan oleh anugrah kekayaan sehingga lupa diri pada sang pemberi kenikmatan.

Mereka pun melakukan penyimpangan dalam penyembahan kepada sesuatu yang tak layak disembah. Puncak kejahatan itulah yang mengundang azab hingga membinasakannya.

Allah layak membinasakan karena mendapatkan limpahan rizki tetapi lupa diri dan tak berterima kasih pada Dzat yang tepat.

Lupa diri dengan berbuat dosa itulah yang terjadi pada kaum terdahulu, sehingga berakhir dengan kebinasaan.

Limpahan Nikmat

Hancurnya peradaban serngkali diawali lalai terhadap melimpahkan kekayaan hingga salah arah dalam memanfaatkannya.

Berbagai kenikmatan yang mereka rasakan justru menjerumuskan diri dalam kemaksiatan. Kemaksiatan tertinggi ketika melupakan Sang pemberi nikmat, dan melampiaskan kegembiraan pada berhala.

Mengagungkan berhala sama saja menyisihkan peran Allah dalam pemberian nikmat. Kesalahan dalam pengagungan itulah yang mendorong mereka melakukan dosa terbesar, yakni mensejajarkan Allah dengan berhala.

Perbuatan inilah yang mendatangkan adzab yang menghinakan. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

أَوَلَمۡ يَهۡدِ لِلَّذِينَ يَرِثُونَ ٱلۡأَرۡضَ مِنۢ بَعۡدِ أَهۡلِهَآ أَن لَّوۡ نَشَآءُ أَصَبۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ ۚ وَنَطۡبَعُ عَلَىٰ قُلُوبِهِمۡ فَهُمۡ لَا يَسۡمَعُونَ

“Dan apakah belum jelas bagi orang-orang yang mempusakai suatu negeri sesudah (lenyap) penduduknya bahwa kalau Kami menghendaki, tentu Kami azab mereka karena dosa-dosanya; dan Kami kunci mati hati mereka sehingga mereka tidak dapat mendengar (pelajaran lagi)?” (QS. Al-‘A`rāf: 100)

Allah menunjukkan sejarah peradaban dimulai dengan adanya progress dan kemajuan yang besar dan pesat. Mereka bisa menikmati hidup karena limpahan kekayaan alam.

Hasil bumi yang melimpah. Kedudukan pun kokoh dan seolah tak akan runtuh. Mereka memiliki fisik kuat-besar, skill yang memadai, sehingga kehidupannya semakin mapan.

Kekokohan hidup membuat mereka seolah hidup selama-lamanya. Kekuasaan yang kokoh ditopang oleh kepemimpinan yang kuat dan tak tertandingi. Hasil bumi yang melimpah dengan berbagai kekayaan alam yang tak pernah habis.

Hal ini membuat mereka semakin hidup makmur dan menikmati kesejahteraan. Namun kesejahteran hidup dan keteguhan dalam kekuasaan justru melahirkan berbagai perilaku menyimpang.

Penyimpangan itu terlihat dengan perilaku yang berubah. Kekayaan yang melimpah, menghalalkan tindakan foya-foya hingga membiarkan kekejian.

Perzinaan, perjudian, mabuk-mabukan sudah menjadi tradisi yang sulit dihentikan. Pelakunya orang-orang kaya dan melibatkan penguasa membuat tradisi menyimpang itu berlangsung tanpa bisa dihentikan.

Ketika diperingatkan, justru bangkit kesombongan dan justru bangga dengan kemaksiatannya.

Peringatan Rasul

Ketika tersebar kemaksiatan dengan memperturutkan hawa nafsu dan mempertuhankan syahwat, Allah mengutus seorang rasul.

Rasul itu menjelaskan pentingnya mengingat hari kebangkitan untuk mempertanggungjawabkan semua perbuatan manusia.

Peringatan atas rusaknya perilaku yang semakin rusak, bukan menyadarkan alam bawah sadarnya, tetapi justru muncul kesombongan guna melakukan perlawanan.

Kesombongan itulah yang membuat Allah membiarkan mereka dalam kesesatan dan bangga dengan perbuatannya. Pada akhirnya Allah mendatangkan azab yang membinasakan mereka.

Hal ini disebabkan oleh ketidaktahuan diri atas berbagai kenikmatan yang mereka rasakan, dan tak melakukan perbuatan yang pantas pada Allah. Al-Qur’an memaparkan hal itu sebagaimana firman-Nya :

أَلَمۡ يَرَوۡاْ كَمۡ أَهۡلَكۡنَا مِن قَبۡلِهِم مِّن قَرۡنٖ مَّكَّنَّٰهُمۡ فِي ٱلۡأَرۡضِ مَا لَمۡ نُمَكِّن لَّكُمۡ وَأَرۡسَلۡنَا ٱلسَّمَآءَ عَلَيۡهِم مِّدۡرَارٗا وَجَعَلۡنَا ٱلۡأَنۡهَٰرَ تَجۡرِي مِن تَحۡتِهِمۡ فَأَهۡلَكۡنَٰهُم بِذُنُوبِهِمۡ وَأَنشَأۡنَا مِنۢ بَعۡدِهِمۡ قَرۡنًا ءَاخَرِينَ

“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyaknya generasi-generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu), telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu, dan Kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan Kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, kemudian Kami binasakan mereka karena dosa mereka sendiri, dan Kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain.” (QS. Al-‘An`ām : 6)

Curahan nikmat dengan hujan yang lebat membuat mereka hidup berkecukupan. Sungai-sungai dan sumber mata air semakin membuat hidupnya sempurna.

Dengan Sungai dan sumber mata air, mereka bisa menikmati hasil dari pohon, berbupa buah-buahan. Dari sumber air itu, mereka bisa terhibur dengan tanaman yang indah.

Rahmat yang begitu besar tidak menghidupkan hati mereka dengan mengingat Allah atas berbagai karunia-Nya. Yang membuat Allah semakin murka, mereka mengagungkan selain-Nya dan mengolok-olok utusan yang dikirim untuk membimbing mengenal Allah.

Rasul yang bisa diharapkan bisa menghentikan penyembahan kepada selain Allah, justru didustakan. Itulah puncak kemurkaan Allah.

Kemurkaan Allah diwujudkan dengan menghancurkan dan membinasakan para pendusta rasul. Pendustaan risalah yang dibawa rasul itu, sama saja mendustakan Allah.

Hal inilah yang menjadi sinyal kuat bagi Allah untuk menghentikan kejahatan itu. Lupa diri dan ingkar atas berbagai kenikmatan sangat pantas apabila memperoleh balasan kehancuran dan kebinasaan. (*)

Surabaya, 20 Mei 2025

Tinggalkan Balasan

Search