Kekuatan Iman, Kisah Keluarga ‘Ammar Bin Yasir

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Kisah masuk Islamnya keluarga ‘Ammar bin Yasir merupakan salah satu kisah paling mengharukan dan penuh pengorbanan di masa awal dakwah Islam di Mekah. Mereka adalah potret keluarga yang teguh beriman meskipun harus menanggung siksaan yang sangat keji dari kaum Quraisy.

Yasir bin ‘Amir berasal dari Yaman dan datang ke Mekah untuk mencari saudaranya, namun kemudian menetap dan menjadi sekutu (halif) Bani Makhzum. Yasir menikah dengan Sumayyah binti Khayyat, seorang budak wanita (amah) milik Abu Hudzaifah bin Mughirah. Dari pernikahan tersebut, lahirlah ‘Ammar bin Yasir. Mereka hidup sederhana dan bekerja untuk Bani Makhzum.

Keluarga Ammar bin Yasir termasuk golongan Assabiqunal Awwalun (orang-orang pertama masuk Islam).

  • Proses Masuk Islam: ‘Ammar mendengar tentang ajaran Nabi Muhammad SAW dan mendatangi Darul Arqam (tempat pertemuan rahasia Nabi dengan pengikutnya). Setelah masuk Islam, ‘Ammar mengajak kedua orang tuanya, Yasir dan Sumayyah, serta saudaranya (Anis) untuk memeluk Islam.
  • Waktu: Keluarga ini masuk Islam sekitar tahun kelima setelah kenabian (bi’tsah), menjadi sekitar orang ke-30 yang memeluk Islam.
  • Mimpi Yasir: Diriwayatkan bahwa Yasir pernah bermimpi seolah-olah istri dan anaknya (Ammar) memanggilnya dari sebuah lembah yang dipisahkan oleh api, yang menjadi petunjuk bagi keislaman mereka.

Shahabat ‘Ammar bin Yasir, bapaknya (Yasir) dan ibunya (Sumayyah), serta saudaranya laki-laki (Anis), mereka itu adalah budak belian milik ‘Amr bin Hisyam (Abu Jahal). Setelah diketahui oleh tuannya dan oleh para pemuka musyrikin Quraisy, bahwa mereka itu sudah mengikut seruan Nabi saw, lalu mereka disiksa dengan kejam dan ganas oleh tuannya (Abu Jahal) dan kawan-kawannya.

Mereka itu dipanggang di atas api yang menyala. Dari sangat hebatnya dan ganasnya siksaan itu, maka Nabi saw datang melihatnya untuk menyaksikan dengan mata kepala sendiri, bahwa mereka sedang disiksa dan dipanggang. Pada waktu itu, Nabi saw bersabda:

صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ ! صَبْرًا يَا آلَ يَاسِرٍ ! فَاِنَّ مَوْعِدَكُمُ اْلجَـنَّــةُ!

“Sabarlah hai keluarga Yasir! Sabarlah hai keluarga Yasir! Karena sesungguhnya yang dijanjikan kepadamu sekalian adalah surga”.

Kemudian beliau berdoa kepada Allah:

اَللّهُمَّ اغْفِرْ ِلآلِ يَاسِرٍ !

“Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir!”

Oleh karena mereka itu terus menerus dipanggang dengan api yang menyala-nyala, maka tidak beberapa lama kemudian matilah shahabat Yasir, setelah itu menyusullah Anis (saudaranya ‘Ammar), sedang Sumayyah, ibunya ‘Ammar, sebelum sampai mati ia dilepaskan dan diangkat dari siksaan yang amat kejam itu. Tetapi ‘Ammar masih terus disiksa di atas api yang bernyala-nyala tadi. Oleh sebab itu Nabi saw lalu bersabda:

يَا نَارُ كُوْنــِى بَرْدًا وَسَلاَمًا عَلَى عَمَّارٍ كَمَا كُــنْتِ عَلَى اِبْرَاهِيْمَ !

“Hai api! Jadilah kamu dingin dan selamat, sebagaimana keadaan kamu dahulu atas Nabi Ibrahim.”

Adapun ibunya ‘Ammar, yaitu Sumayyah, setelah dilepaskan dari panggangan api tersebut, lalu ditanya lagi oleh Abu Jahal: “Maukah kamu kembali kepada agamamu yang lama dan mendustakan Muhammad?”

Pertanyaan ini dijawabnya dengan tegas serta ikhlas: “Saya tetap mengikut Nabi Muhammad saw, dan saya tetap beriman sungguh-sungguh kepadanya.”

Abu Jahal berkata: “Ya, sudah tentu kamu mengikut Muhammad, karena kamu cinta kepadanya dan kepada kebagusan rupanya.”

Kemudian Abu Jahal dan para pemuka Quraisy, mengikatnya dan ditelanjanginya bulat-bulat, lalu dibawa ke padang pasir, dan di sana kemaluannya ditusuk dengan senjata tajam hingga terbelah. Maka seketika itu juga meninggal dalam keadaan yang sangat mengerikan bagi orang yang punya perikemanusiaan!

Keluarga ini adalah contoh kesabaran yang berbuah surga, sebagaimana Rasulullah saw bersabda, “Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat kembali kalian adalah surga.”

Sumayyah binti Khayyat adalah wanita pertama dalam Islam yang mati syahid. Beliau disiksa dan dibunuh oleh Abu Jahal dengan tombak setelah menolak meninggalkan Islam.

Adapun ‘Ammar, setelah disiksa dengan panggangan api itu, lalu dia dianiaya dengan cara yang lain lagi, oleh Abu Jahal dan kawan-kawannya, yaitu dengan memaksanya memakai baju besi diwaktu hari sedang panas terik.

Oleh karena tak tertahankan lagi maka ia pun pura-pura mau kembali memeluk agamanya yang lama, dan menuruti apa yang menjadi kehendak Abu Jahal. Tetapi di dalam hati ia tetap mengikut seruan Nabi saw dan sungguh-sungguh beriman kepadanya. Maka setelah kelihatan dia mau kembali mengikut agamanya yang lama, dilepaskanlah ia dari penganiayaan yang sangat berat tadi oleh Abu Jahal.

Para sahabat Nabi saw sangat terperanjat setelah mendengar berita keadaan sahabat ‘Ammar itu. Sebagian dari mereka menyangka bahwa ‘Ammar telah kembali memeluk agamanya yang lama, menjadi musyrik lagi, menyembah berhala lagi. Sebab itu di antara mereka ada yang menyampaikan hal itu kepada Nabi saw. Karena mereka mengira bahwa Nabi saw belum mendengar tentang hal ‘Ammar tersebut. Padahal sesungguhnya Nabi saw telah mendengarnya lebih dulu. Lantaran itu kepada siapa yang mengatakan bahwa ‘Ammar telah murtad, kembali menjadi musyrik atau kafir lagi dan sebagainya beliau bersabda:

عَمَّارُ خَلَّطَ اللهُ اْلاِْيمَان مَا بَيْن قَرْنـِهِ اِلى قَدَمِهِ ! وَخَلَّطَ اللهُ اْلاِْيمَان بِلَحْمِهِ وَدَمِهِ !

“‘Ammar itu Allah telah mencampur imannya di antara ujung kepalanya, sampai ujung kakinya dan Allah telah mencampur imannya dengan daging dan darahnya.”

Jadi walaupun banyak dari orang-orang Islam pada waktu itu menyangka bahwa ‘Ammar sudah musyrik lagi, telah murtad, menjadi kafir lagi dan sebagainya, tetapi Nabi saw menetapkan dengan tegas bahwa ia adalah tetap seorang yang beriman kepada seruannya dengan sungguh-sungguh, karena Nabi saw sudah menerima wahyu dari Allah Swt sebagaimana dalam QS. An-Nahl : 106.

مَن كــَفَرَ بِاللهِ مِن بَعْدِ اِيـْـمَانِه اِلاَّ مَن اُكْرِهَ وَقَلْبُه مُطْمَئِن بِاْلاِْيمَان وَلكِن مَن شَرَحَ بِاْلكُـفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّن اللهِ وَلَـهُمْ عَذَابٌ عَظِيْمٌ. النحل:106

“Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman, akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya adzab yang besar.”

Tafsir Surat An-Nahl ayat 106 menegaskan ancaman murka Allah dan azab besar bagi orang yang murtad (kafir setelah beriman) secara sadar. Ayat ini memberikan pengecualian bagi orang yang dipaksa mengucap kekufuran. Amar bin Yasar hatinya tetap tenang dalam keimanan, sehingga mereka tidak berdosa.

Poin-poin Tafsir An-Nahl : 106:

  • Ancaman bagi Murtad: Orang yang melapangkan dada untuk kekafiran, murtad, atau kembali kafir setelah beriman akan mendapat kemurkaan Allah dan azab yang dahsyat di akhirat.
  • Keringanan (Rukhshah) dalam Paksaan: Seseorang yang dipaksa, disiksa, atau diancam nyawanya untuk meninggalkan Islam, namun hatinya tetap kokoh beriman, maka ia tidak berdosa.
  • Asbabun Nuzul (Sebab Turun Ayat): Ayat ini turun berkenaan dengan kisah Ammar bin Yasir yang dipaksa kafir oleh kaum musyrikin Quraisy, lalu ia mengadu kepada Rasulullah ﷺ dan hatinya ternyata tetap beriman.
  • Kecintaan pada Dunia: Ayat ini juga menjadi peringatan agar tidak lebih mengutamakan kehidupan duniawi sehingga membuat hati tertutup dan lalai dari kebenaran.

Ayat ini menegaskan bahwa iman yang sesungguhnya berada di dalam hati, dan Islam memberikan keringanan dalam situasi terancam (dipaksa) selama hati tidak ikut menerima kekufuran tersebut.

Selanjutnya ‘Ammar bin Yasir tetap menjadi orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya sampai akhir hayat. (*)

Tinggalkan Balasan

Search