Ilmu tasawuf sebagai dimensi spiritual Islam membimbing manusia menuju ma‘rifatullāh (pengenalan mendalam kepada Allah). Dalam hal ini, konsep takdir—baik yang tampak baik maupun buruk—tidak dilihat secara hitam-putih.
Takdir buruk bukan sekadar musibah yang harus ditangisi, tetapi medan latihan ruhani yang memperkuat tauhid dan membersihkan hati dari syirik khafī (kesyirikan tersembunyi), seperti bergantung pada makhluk atau merasa putus asa dari rahmat Allah.
Tasawuf memandang segala peristiwa yang terjadi dalam hidup sebagai tajalliyātullāh (manifestasi kehendak Allah), yang dengannya seorang hamba diuji tingkat keyakinannya. Oleh karena itu, ketauhidan dalam tasawuf bukanlah keyakinan yang berhenti pada konsep, melainkan hidup dan dinamis dalam setiap napas kehidupan, termasuk saat menghadapi takdir buruk.
1. Takdir Buruk sebagai Bagian dari Qadhā dan Qadar Allah yang Maha Bijaksana
Tauhid dalam tasawuf meyakini bahwa segala sesuatu, termasuk kesedihan, kegagalan, kemiskinan, penyakit, atau bencana, berasal dari kehendak dan izin Allah. Takdir buruk bukan tanda kebencian Allah, tapi cara Allah mentarbiyah (mendidik) hamba-Nya agar lebih dekat dan sadar akan kelemahannya.
Imām al-Ghazālī dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn menyebutkan bahwa orang yang ‘ārif tidak memandang baik dan buruk dari wujud peristiwanya, tetapi dari kehadiran Allah dalam setiap keadaan. Ia melihat keburukan takdir sebagai jalan penghapus dosa, penumbuh sabar, dan penarik cinta Allah.
2. Tauḥīd al-Af‘āl: Memandang Takdir Buruk sebagai Wujud Kehendak Allah
Dalam tasawuf dikenal istilah tauḥīd al-af‘āl, yaitu meyakini bahwa semua perbuatan yang terjadi di alam semesta berada dalam kekuasaan Allah. Ini menumbuhkan rasa tunduk dan riḍā’, bukan sekadar menerima secara pasif, tetapi menghidupkan kesadaran tauhid dalam setiap dinamika hidup.
Contoh dari ajaran ini adalah ketika Nabi Ayyūb ‘alaihis-salām bersabar dalam sakit dan tetap menyebut nama Allah, atau Nabi Ya‘qūb yang berkata, faṣabrun jamīl (QS Yūsuf [12]: 18) ketika kehilangan putranya.
3.Takdir Buruk sebagai Sarana Tazkiyah an-Nafs: Ṣabar, Ikhlāṣ, dan Tawakkal yang Aktif
Ilmu tasawuf tidak pernah mendorong pasifisme. Justru, ia menanamkan kesadaran spiritual aktif untuk menjadikan takdir buruk sebagai tazkiyah an-nafs (penyucian jiwa). Dalam menyikapi ujian, tasawuf mengajarkan tiga sikap utama:
a. Sabar
Sabar adalah menahan diri tetap dalam ketaatan dan tidak mengeluh secara berlebihan, meski dalam kesulitan. Seorang sufi tetap menunaikan ibadah, bekerja, mencari solusi, namun hatinya tetap tenang dan percaya bahwa Allah sedang menumbuhkan kematangan spiritualnya.
b. Ikhlas
Ikhlas berarti menerima ujian dengan hati yang bersih dari keluhan dan pamrih. Ia tidak menggugat takdir Allah, tetapi terus berikhtiar dalam kebaikan karena niatnya hanya untuk Allah, bukan untuk balasan duniawi.
c. Tawakal
Tawakal adalah menggabungkan usaha maksimal dengan sikap menyerahkan hasil sepenuhnya kepada Allah. Ia bukan pasrah tanpa upaya, melainkan aktif mencari solusi sambil tidak menggantungkan hati kepada hasil.
Rasulullāh ṣallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Al-mu’minul-qawiyyu khayrun wa aḥabbu ilallāhi minal-mu’minidh-ḍa‘īf, wa fī kullin khayr. Iḥriṣ ‘alā mā yanfa‘uka, wasta‘in billāh wa lā ta‘jiz.”
“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada masing-masing ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah dalam hal yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR Muslim, no. 2664)
Dengan ṣabar, ikhlāṣ, dan tawakkal yang aktif, seorang hamba tidak diam dalam musibah, melainkan bergerak untuk memperbaiki diri, memperbaiki keadaan, dan memperkuat iman.
4. Tanda Cinta Allah dan Jalan Menuju Ma‘rifat
Takdir buruk dalam tasawuf juga dipandang sebagai bentuk perhatian Allah. Imām Ibn ‘Aṭā’illāh dalam al-Ḥikam menulis:
“Kadang Allah memberimu dengan menahan darimu, dan kadang Dia menahan darimu sebagai bentuk pemberian-Nya.”
Artinya, saat musibah datang, boleh jadi itu adalah jalan untuk melatih hati agar lebih bersih dan hanya bergantung kepada-Nya. Dari titik kepasrahan dan kehancuran duniawi, muncul cahaya ma‘rifat yang hanya bisa diraih oleh jiwa yang tenang dan berserah sepenuhnya kepada Allah.
Ketauhidan dalam tasawuf mengajarkan bahwa takdir buruk bukan untuk dikeluhkan secara pasif, melainkan disikapi dengan kesadaran spiritual yang aktif, penuh ṣabar, ikhlāṣ, dan tawakkal. Dengan demikian, musibah menjadi jembatan menuju maqām ruhani yang lebih tinggi, bukan jurang keputusasaan.
Bagi para pencari hakikat, takdir buruk adalah tanda panggilan dari Allah untuk mendekat dan mengenal-Nya lebih dalam. Maka siapa pun yang diuji, jangan berhenti hanya pada kesedihan, tetapi gunakan ujian itu sebagai wahana peningkatan taqwa dan perbaikan amal.
“Lā yukallifullāhu nafsan illā wus‘ahā…”
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
(QS al-Baqarah [2]: 286)
Billāhi fī sabīlil-ḥaqq fastabiqul-khairāt, naṣrum minallāhi wa fatḥun qarīb, wa basysyiril-mu’minīn. Wallahu a’lam bishawab. (*)
