Kementerian Agama (Kemenag) kembali menggandeng Badan Pusat Statistik (BPS) dalam pelaksanaan Survei Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (SKJHI) tahun 2025. Survei tahunan ini telah berjalan sejak 2010 dan menjadi instrumen penting dalam mengevaluasi layanan haji.
Tahun ini, Indonesia mendapat kuota 203.320 jemaah haji reguler. Dari jumlah itu, sebanyak 14.400 jemaah akan dipilih sebagai responden survei.
“Survei ini bertujuan untuk mengukur tingkat kepuasan jemaah dan menghimpun masukan sebagai bahan perbaikan layanan haji ke depan,” jelas Budi Santoso, anggota tim SKJHI sekaligus Humas, kepada Tim Media Center Haji (MCH) di Madinah, Sabtu (17/5/2025).
SKJHI mengukur berbagai aspek layanan, termasuk pelayanan petugas haji, akomodasi di Makkah-Madinah, transportasi, layanan kesehatan, hingga perhatian khusus bagi lansia dan penyandang disabilitas.
Tahun lalu, Indeks Kepuasan Jemaah Haji Indonesia (IKJHI) mencapai skor 88,20, menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun.
Analisis data dilakukan di Jakarta setelah proses pengumpulan dan pengolahan oleh tim BPS. Selain data kuantitatif, tim juga menghimpun data kualitatif berupa kesaksian langsung jemaah sebagai penguat hasil survei.
Budi mengungkapkan, instrumen survei akan terus dikembangkan agar semakin relevan. Tahun depan, dimensi spiritualitas dan pengalaman ibadah akan mulai digarap lebih mendalam.
“Kami juga memasukkan pertanyaan baru terkait layanan lansia dan disabilitas berdasarkan masukan dari Kemenag dan jemaah tahun lalu,” jelasnya.
Rekomendasi hasil survei akan dibagi menjadi dua: internal untuk penyempurnaan layanan oleh Kemenag, dan eksternal sebagai masukan kepada pemerintah Arab Saudi terkait kebijakan layanan haji. (afifun nidlom)
