Direktorat Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais dan Binsyar) Kementerian Agama, akan menerbitkan buku berisi naskah khotbah bertema ekoteologi. Materi keagamaan tersebut akan disiapkan dalam berbagai bahasa. Dengan demikian, semangat ekoteologi akan terus dikampanyekan di masjid-masjid.
“Kami sudah memiliki buku ekoteologi yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab. Ini akan kami perkuat lagi dengan khotbah Jumat tematik yang terbit secara berkala,” kata Direktur Urais dan Binsyar, Arsad Hidayat, dalam Rapat Kerja Nasional Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Tahun 2026 yang digelar di Jakarta, Jumat (23/1/26).
Menurut Arsad, terobosan ini dilakukan agar pesan keagamaan tentang pelestarian lingkungan tersampaikan secara luas dan berkelanjutan. Upaya ini juga dilakukan dalam rangka penguatan literasi keagamaan. Selain naskah khotbah, Kemenag juga sediakan 200 judul buku keagamaan melalui platform digital ELIPSKI.
“ELIPSKI menjadi ruang literasi yang kami siapkan, mulai dari buku, jurnal, hingga naskah khutbah yang relevan dengan isu-isu aktual dan kebutuhan masyarakat,” ujar Arsad.
Pemberdayaan Masjid
Kemenag juga mendorong pemberdayaan rumah ibadah agar tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan umat. Program Masjid Ramah terus diperluas dengan dukungan fasilitas ramah anak, lansia, dan disabilitas, serta penguatan kepedulian lingkungan, seperti penanaman minimal 10 pohon di setiap masjid penerima program.
Arsad mencontohkan, salah satu program pemberdayaan masjid yang berdampak langsung adalah skema pembiayaan BMM MADADA. Melalui program ini, Baznas memberikan pinjaman lunak (qardul hasan) sebesar Rp150 juta kepada masjid, yang kemudian disalurkan kembali kepada jamaah dalam bentuk pembiayaan usaha mikro sekitar Rp5 juta per orang.
“Dari pengalaman di lapangan, banyak penerima yang awalnya mustahik, kemudian bertransformasi menjadi munfik, bahkan muzakki,” ungkapnya.
Di sektor hisab dan rukyat, Arsad juga memperkuat layanan penentuan arah kiblat dan penyusunan kalender Hijriah. Fasilitasi penentuan arah kiblat massal dilakukan, salah satunya saat fenomena rashdul kiblat, agar masyarakat memperoleh kepastian dan ketenangan dalam beribadah. “Ini bagian dari layanan keagamaan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh umat,” kata Arsad.
Penguatan layanan keagamaan juga dilakukan melalui pembinaan paham keagamaan yang maslahat dan berimbang. Pihaknya melakukan penilaian serta pemberian tanda layak edar terhadap naskah dan buku keagamaan untuk memastikan kesesuaiannya dengan kaidah keilmuan, nilai moderasi, dan kebutuhan masyarakat. Langkah ini diharapkan dapat mencegah beredarnya konten keagamaan yang tidak sejalan dengan semangat kebangsaan dan kemaslahatan.
“Melalui penguatan ekoteologi, pemberdayaan masjid, layanan hisab rukyat, literasi syariah, dan pembinaan paham keagamaan, kami ingin memastikan bahwa kehadiran negara benar-benar dirasakan umat,” kata Arsad. (*/tim)
