Saat televisi menyiarkan berita disertai penayangan video pendek tentang bencana banjir bandang yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara dan Sumatra Barat akhir November 2025 lalu, dalam hati Rosi Hendrawan langsung “bicara”. Ia merasa ini adalah bencana yang besar, yang harus direspon dengan cepat. Itulah kepekaan naluri para relawan Muhammadiyah Jawa Timur.
Rosi Hendrawan, adalah salah seorang relawan Muhammadiyah yang cukup dikenal di Jatim. Selain ketangguhan di medan bencana, ia juga menjabat sebagai Wakil Ketua Majelis Lingkungan Hidup dan Penanggulangan Bencana (MLHPB) Muhammadiyah Jatim. Hampir setiap bencana yang terjadi di Tanah Air, Rosi selalu siap siaga hadir membantu sesama.
Beberapa hari setelah kabar bencana itu terdengar, Muhammadiyah Jatim langsung memberangkatkan tim pertama menuju lokasi bencana. Tim pertama ini selain membantu para penyintas, juga menggambarkan bagaimana kondisi di lokasi, memetakan lokasi, termasuk juga apa saja yang dibutuhkan para penyintas.
“Dari informasi awal itu, kami langsung mempersiapkan segala hal yang harus dibawa. Juga melakukan koordinasi antar lembaga di bawah Muhammadiyah untuk kebutuhan personilnya,” kata Rosi Hendrawan, ditemui majelistabligh.id di Gedung Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), akhir Ahad lalu.
Posisi Rosi di MLHPB cukup strategis. MLHPB adalah sebuah lembaga di bawah naungan Muhammadiyah yang fokus pada upaya pelestarian lingkungan hidup dan penanggulangan bencana. MLHPB berperan penting dalam mengadvokasi, mengedukasi, dan bertindak dalam pelestarian lingkungan serta memberikan respon terhadap bencana.

Dari gambaran tim awal yang berada di lokasi, mengimformasikan bahwa wilayah yang paling terdampak yaitu, Kabupaten Aceh Tamiang, Agam, Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Daerah-daerah yang lokasinya dekat dengan aliran sungai, kondisinya betul-betul parah. Hampir semua rumah dan bangunan lainnya hancur.
Setelah informasi dinilai cukup, pada 14 Desember 2025, Rosi bersama tim kedua menyusul ke lokasi bencana. Tim ini terdiri atas 6 orang dari MDMC, 4 orang medis dari Malang, dan 10 orang psikososial. “Dalam organisasi kita, setiap ke lokasi bencana, pedoman wajib yang dilakukan adalah mengirimkan tim medis dan psikososial,” tandasnya.
Tim ini juga dilengkapi dengan peralatan dan barang-barang yang dibutuhkan penyintas, mulai dari tenda, logistik dan bahan makanan, obat-obatan, peralatan medis, perlengkapan mandi, dan kebutuhan penting lainnya. Tidak lupa peralatan diri bagi relawan, seperti helm, sepatu boot, dan alat proteksi diri lainnya. Di lokasi, pihaknya juga berordinasi dengan relawan kampus-kampus Muhamadiyah dari Sumatra Utara.
“Awalnya kami melakukan penanganan di Langkat, Sumatra Utara. Setelah itu, kami bergeser ke Aceh Tamiang dengan kendaraan darat. Kebetulan tim Muhammadiyah Jatim yang datang awal juga membawa dua unit mobil yang bisa menembus medan berat,” paparnya.
Di Aceh Tamiang kondisinya sangat parah. Bahkan saat tim Muhammadiyah Jatim datang, belum ada relawan lain yang stay di lokasi. Bahkan para penyintas pun kesulitan menemukan tempat berlindung, karena hampir tidak ada bangunan yang selamat. “Saat kami datang, juga tidak ada listrik, air bersih, maupun internet,” tambahnya.
Akhirnya tim relawan Muhammdiyah Jatim mendirikan beberapa tenda darurat tepatnya di Dusun Serba Dalam, Desa Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Para penyintas mulai terlindungi. Yang lapar diberi makan, yang sakit diobati, dan tim psikososial setiap saat mendampingi para pengungsi di tenda darurat. Pengungsipun merasa tidak sendiri, meski di antara mereka banyak yang kehilangan sanak keluarganya.
Untuk memenuhi kebutuhan listrik dan air bersih, tim relawan juga belanja genset, perlengkapan listrik, BBM, pompa air dan selang panjang. “Seminggu sekali kami harus belanja ke kota, dan jaraknya dari lokasi desa ini adalah 2,5 jam perjalanan,” paparnya.
Setelah beberapa hari di desa tersebut, Rosi melihat warga sudah mulai bisa tersenyum. Tim juga mendirikan tenda khusus untuk salat berjamaah bagi para pengungsi. Persaudaraan semakin terjalin. Mereka makan bersama, tim psikososial juga banyak bercerita yang menginspirasi agar warga bangkit lagi pascabencana.
Dalam kesempatan itu, warga berharap Muhammadiyah Jatim membantu pembangunan musallah atau masjid di desanya. Bahkan jika masjid benar-benar dibangun, sekaligus mereka akan merintis pembentukan Ranting Muhammadiyah di Desa Serba, Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang.
“Saat itu kami belum bisa menjawab, tetapi kami berjanji akan menyampaikan keinginan warga pada pimpinan Muhammadiyah Jatim,” tandasnya. (*)
