Kepemimpinan Sekolah Muhammadiyah: Harmoni Logika dan Spiritualitas

www.majelistabligh.id -

Sekolah Muhammadiyah tidak hanya berperan sebagai lembaga pendidikan formal, tetapi juga sebagai ladang pengabdian dan ibadah yang penuh keberkahan.

Mengelola institusi pendidikan Muhammadiyah bukanlah sekadar tugas administratif atau manajerial, melainkan juga amanah spiritual yang memerlukan ketulusan dan kesucian jiwa.

Hal tersebut ditegaskan oleh Prof. Irwan Akib, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, saat menyampaikan materi pada kegiatan Pendidikan dan Latihan Khusus Pimpinan (Diksuspim) Regional 1 Sulawesi yang digelar di Kota Makassar, pada Jumat (13/6/2025).

Menurut dia, mengelola sekolah Muhammadiyah memiliki tantangan tersendiri. Sebagai pelopor sekolah Islam modern di Indonesia, sekolah Muhammadiyah dituntut tidak hanya mampu bersaing secara akademik dan manajerial, tetapi juga konsisten dalam menjaga nilai-nilai spiritual Islam yang menjadi fondasi utama gerakan Muhammadiyah.

“Dalam mengelola sekolah kita harus ikhlas, jangan hanya mengandalkan akal semata. Tapi juga kesucian jiwa. Perlu keseimbangan antara logika dan spiritualitas,” ujar Irwan yang juga dikenal sebagai Guru Besar di bidang Pendidikan Matematika.

Kata dia, , logika yang tajam harus berjalan seiring dengan keikhlasan hati. Keputusan strategis dalam dunia pendidikan harus dirancang dengan pemikiran rasional, namun juga dibimbing oleh kesadaran spiritual yang luhur.

“Inilah yang membedakan sekolah Muhammadiyah dengan lembaga pendidikan lainnya—yakni adanya perpaduan antara akal dan nurani, antara profesionalisme dan keikhlasan,” tutur dia.

Irwan juga menyampaikan harapannya agar seluruh elemen pengelola sekolah Muhammadiyah dapat menjawab berbagai tantangan zaman dengan semangat yang tinggi, visi yang kuat, dan kolaborasi yang solid.

“Dengan semangat itu, sekolah Muhammadiyah tidak hanya akan bertahan, tetapi juga akan menjadi poros penting dalam peta pendidikan nasional yang berkualitas dan bernapaskan nilai-nilai Islam,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah serta Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, mengingatkan pentingnya membangkitkan kembali keunggulan dan kepercayaan publik terhadap sekolah Muhammadiyah.

“Kita harus berani melayani segmen masyarakat kelas atas, karena mereka juga butuh pendidikan yang berkualitas. Masyarakat tidak hanya butuh pendidikan murah atau gratis, tapi pendidikan bermutu untuk masa depan anak-anak mereka,” jelas Didik.

Menurutnya, dalam konteks saat ini, para orang tua semakin selektif memilih pendidikan bagi anak-anaknya. Harga bukan satu-satunya pertimbangan; mutu pendidikan, reputasi sekolah, dan nilai-nilai yang diajarkan menjadi faktor utama dalam menentukan pilihan.

Oleh karena itu, pengelola sekolah Muhammadiyah dituntut untuk terus meningkatkan standar kualitas pendidikan dan pelayanan tanpa mengabaikan jati diri sebagai sekolah Islam berkemajuan.

Didik juga berharap agar Diksuspim ini menjadi momentum reflektif sekaligus penguat komitmen bersama antar pimpinan sekolah Muhammadiyah, baik dalam hal manajemen, ideologi, maupun sinergi antarunit.

“Kita ingin kegiatan ini memperkuat kolaborasi serta menjadi titik balik untuk menyelesaikan permasalahan yang selama ini menghambat kemajuan sekolah Muhammadiyah,” ujarnya.

Lebih dari itu, kegiatan seperti Diksuspim dianggap penting untuk memperkokoh semangat Kemuhammadiyahan di kalangan pimpinan sekolah. Bukan hanya soal administratif dan teknis pendidikan, tapi juga mengenai nilai-nilai perjuangan dan dakwah yang diwariskan oleh para pendiri Muhammadiyah.

Dengan demikian, mengelola sekolah Muhammadiyah bukan hanya tentang strategi meningkatkan mutu pendidikan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga kesucian niat, membangun kolaborasi, dan menjadikan sekolah sebagai ruang dakwah yang mencerdaskan dan mencerahkan. (*/wh)

Tinggalkan Balasan

Search