Kerja, Dakwah dan Organisasi Muhammadiyah

Nadjih Ihsan saat memberikan tausiyah.
*) Oleh : Drs. Nadjih Ihsan
Ketua Divisi Pengembangan Sumberdaya Insani MT PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Kerja adalah bentuk keberadaan manusia, artinya manusia itu ada karena bekerja, dan kerja itulah yang membuat eksistensi manusia itu ada. Begitu pula dengan organisasi. Organisasi Muhammadiyah  ada, jika memiliki aktivitas dakwah. Tanpa dakwah, maka organisasi Muhammadiyah tidak berkembang bahkan bisa dikatakan tidak ada.

Jadi pada dasarnya manusia tidak akan mendapatkan apa-apa, kecuali dari apa yang ia kerjakan. Karena itu, hendaklah ia tidak memandang enteng dari bentuk-bentuk pekerjaan yang ia lakukan. Demikian juga dengan kerja dakwah, akan menghasilkan perubahan dan pemahaman sesuai dengan yang dikehendaki dari misi dakwah itu sendiri.

Amanat dakwah memang sangat berat, karena dihadapkan masalah dinamika masyarakat sebagai sasaran dakwah. Percepatan umat menjadi maju dan beradab, ditentukan oleh percepatan dakwah dalam berbagai bentuknya.

وان ليس للانسان الا ما سعى، النجم : ٣٩

وانه لا يحصل للانسان من الاجر الا ما كسب هو لنفسه بسعيه ( تفسير ميسر )

“Dan bahwasanya manusia hanya memperoleh apa yang telah dia usahakannya”

Sudah sepatutnya manusia menyadari, bahwa dampak dari pekerjaan itu baik atau buruk adalah untuk diri mereka sendiri, dan bukan untuk Allah Swt. Hasil yang diperoleh dalam aktifitas dakwah,  bukan hanya untuk kepentingan ukhrawi dalam arti pahala, juga bisa menjadi Rahmad bagi seluruh alam.

Islam Dan Dakwah

Watak dakwah telah melekat pada agama Islam sejak didakwahkan oleh nabi kita Muhammad saw. Sebab dakwah melekat pada individu yang beriman. Kewajiban dakwah bukan dibebankan pada orang tertentu saja, tapi pada setiap individu yg beriman.

قل هذه سبيلي ادعو الى الله ،  على بصيرة انا ومن اتبعني وسبحان الله وما انا من المشركين، يوسف : ١٠٨

“Katakanlah inilah jalan agamaku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kamu kepada Allah dengan hujjah yang nyata. Maha Suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.”

Semestinya setiap orang yang berdakwah memandang aktivitas dakwah sebagai bentuk dari ibadah kepada Allah Swt. Jika dakwah dianggap sebagai bentuk ibadah, maka seseorang tidak boleh  meremehkan dan memandang enteng terhadap pekerjaan yang ia tangani, berupa dakwah.

Menurut Ibnu Taimiyah ibadah/dakwah itu ialah:

اسم جامع لكل ما يحبه الله ويرضاه من الاقوال والاعمال الظاهرة والباطنة.

“Ibadah adalah sebutan untuk segenap perbuatan yang dicintai dan diridhai Allah subhanahu wa ta’ala baik ucapan maupun perbuatan lahir dan batin.”

Menghiasi semua bentuk pekerjaan/dakwah dengan sikap IHSAN, akan menimbulkan keseriusan, kehati-hatian, dan  kebersamaan, karena aktivitas itu diawasi oleh Allah Swt.

ان تعبد الله كانك تراه فان لم تكن تراه فانه يراك، الحديث

“IHSAN, itu ialah : beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat Allah, jika engkau tidak bisa melihat Allah ( dan pasti tdk bisa ) ketahuilah sesungguhnya Allah melihat engkau.”

Bersikap Ihsan itu  bukan hanya untuk Allah, tapi Ihsan itu juga untuk sesama kolega dan sesama manusia dan objek dakwah.

واحسن  كما احسن الله اليك،  القصص : ٧٧

Dan berbuat baiklah kepada sesama manusia sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu

Dakwah Tauhid: Dasar Kemakmuran dan  Pencerahan Umat.

Tauhid itu bukan hanya percaya bahwa Allah itu ada, tetapi tauhid itu menjadi tujuan satu-satunya dalam gerak langkah dan ibadah manusia.

خلق الله العالم لعبادته وحده،  وارسل لهم الرسلا لتعليمهم وانزل مع الرسل الكتب ليحكم بالحق والعدل بينهم.

“Allah menciptakan alam ini untuk satu tujuan yaitu beribadah kepadanya, dan Allah mengutus para rasul dan menurunkan bersama Rasul kitab sebagai landasan hukum menegakkan keadilan dan kebenaran di antara mereka.”

Tauhid yang murni adalah jaminan ke arah hidup dalam bimbingan Allah,  dan kerja yang nyata sebagai wujud ibadah kepadanya.

الذين امنوا ولم يلبسوا ايمانهم بظلم اولئك لهم الامن وهم مهتدون، الانعام : ٨٢

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampurkan iman mereka dengan kezaliman (syirik) mereka akan mendapatkan keamanan di akhirat dan mendapat petunjuk di dunia.”

Menurut Prof. Dr. Haedar Nashir, tauhid yang dipahami Muhammadiyah bukan hanya doktrin vertikal antara seseorang hamba dengan Allah Swt saja, melainkan juga tuntunan horizontal antar manusia dengan sesama manusia.

Karena itu, setiap dai harus mengingat pesan KH Ahmad Dahlan: Agomo Islam Iku Dudu Mung Ngono-Ngono Kuwi Wae.

Tauhid dalam perspektif Muhammadiyah itu lebih implementatif, sehingga wajah Muhammadiyah selalu tampak dalam membangun rumah sakit, sekolah, panti asuhan, perguruan tinggi dan lain-lain, seperti yang disampaikan oleh Makmun Murod.

Berdasarkan nilai-nilai tauhid yang tersebut di atas, maka setiap orang Muhammadiyah punya kewajiban moral untuk mengemban misi utama, sebagai bentuk  komitmen yg tinggi dan dedikasi total terhadap Muhammadiyah, yakni:

  1. Menegakkan keyakinan tauhid yang murni.
  2. Menyebarluaskan ajaran Islam yang bersumber kepada Al Qur’an dan as-sunnah.
  3. Mewujudkan amal islami dalam kehidupan pribadi, keluarga, dan masyarakat.

Dakwah Islam yang Mencerahkan

Ada beberapa kriteria bagaimana suatu dakwah dinilai mencerahkan, yakni:

  1. Memuliakan akal dan ilmu Islam serta membuka ruang berpikir, berdiskusi dan bertanya.
  2. Merawat fitrah manusia, bukan menekan. Islam tidak menolak dunia justru membimbing manusia agar hidup seimbang antara dunia dan akhirat.
  3. Menebar kasih sayang, bukan menanamkan kebencian. Islam hadir untuk semua manusia bukan hanya untuk satu kelompok. Islam mencerahkan adalah Islam yang bisa menjadi rumah bagi siapapun yang mencari ajaran kebaikan.

Dengan demikian, Muhammadiyah adalah rumah besar bagi umat Islam. Sebagai rumah besar, maka harus mengayomi semua yang ada rumah tersebut, juga memiliki hubungan baik pada “tetangga” dari rumah besar ini. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search