Hasil puasa Ramadan selanjutnya adalah Kesalehan Sosial yangmana seorang muslim tidak hanya harus menjaga hubungan baik dengan Allah, ia juga harus menjaga hubungan baik dengan sesamanya. Bahkan menjaga hubungan baik terhadap sesama menjadi tanda baiknya keislaman, Nabi Saw.
الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ
“Seorang Muslim adalah orang yang sanggup menjamin keselamatan orang-orang Muslim lainnya dari gangguan lisan dan tangannya.” (HR Bukhari)
Di antara mereka yang harus kita jaga dengan hubungan baik adalah tetangga. Berbuat baik tetangga adalah satu satu tanda beriman kepada Allah dan hari Kiamat, Nabi Muhammad saw bersabda:
وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ…. رَوَاهُ البُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ.
“Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Diantara mereka yang harus kita jaga dengan hubungan baik adalah kaum fakir miskin dan anak yatim, berbuat baik kepada keduanya adalah tanda baiknya kualitas agama. Sebaliknya, buruk kepada keduanya merupakan bentuk mendustakan Agama.
Allah SWT Berfirman:
﴿ اَرَءَيْتَ الَّذِيْ يُكَذِّبُ بِالدِّيْنِۗ ١ فَذٰلِكَ الَّذِيْ يَدُعُّ الْيَتِيْمَۙ ٢ وَلَا يَحُضُّ عَلٰى طَعَامِ الْمِسْكِيْنِۗ ٣ ﴾ ( الماعون/107: 1-4)
“Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim. Dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin.” (QS. Al-Ma’un ayat 1-4)
Di antara bentuk hubungan baik dengan sesama adalah dengan silaturahmi, karena banyak sekali hikmah dan keutamaan silaturahmi, diantaranya akan membuat kita mendapatkan keberkahan usia dan keluasan rezeki.
Sebagaimana sabda Nabi saw.
مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِى رِزْقِهِ ، وَأَنْ يُنْسَأَ لَهُ فِى أَثَرِهِ ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
“Siapa yang suka dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya hendaklah dia menyambung silaturahim.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Secara umum hubungan sosial seorang muslim yang baik, ia dituntut untuk taat terhadap perintah Allah dan Rasul-Nya, di antara bentuk taat kepada Allah dan Rasulnya adalah dengan taat kepada ulil amri atau presiden dalam istilah negara kita. Allah SWT berfirman:
﴿ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَطِيْعُوا اللّٰهَ وَاَطِيْعُوا الرَّسُوْلَ وَاُولِى الْاَمْرِ مِنْكُمْۚ ….. ٥٩ ﴾ ( النساۤء/4: 59)
“Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ululamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu.” (QS. An-Nisa’ ayat 59)
Nabi Muhammad saw bersabda:
مَنْ أطَاعَنِي فَقَدْ أطَاعَ اللّٰهَ، وَمَنْ عَصَانِي فقَدْ عَصَى اللّٰهَ ، وَمَنْ يُطِعِ الْأَمِيْرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الْأَمِيْرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barang siapa yang menaatiku sungguh ia telah menaati Allah, dan barang siapa yang durhaka padaku sungguh ia telah mendurhakai Allah, barang siapa yang taat pada pemimpin sungguh ia telah taat padaku, dan barang siapa yang durhaka pada pemimpin sungguh ia telah durhaka padaku.” (HR. Bukhari).
Apabila menjadi seorang pemimpin seorang muslim dituntut untuk adil, perhatian serta bisa mensejahterakan rakyatnya, tidak menzalimi dan menyengsarakan rakyatnya.
Nabi Muhammad saw bersabda:
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ، عَدْلُ سَاعَةٍ خَيْرٌ مِنْ عِبَادَةِ سِتِّينَ سَنَةً؛ قِيَامِ لَيْلِهَا، وَصِيَامِ نَهَارِهَا. وَيَا أَبَا هُرَيْرَةَ، جَوْرُ سَاعَةٍ فِي حُكْمٍ أشَدُّ وَأَعْظَمُ عِنْدَ اللّٰهِ مِنْ مَعَاصِي سِتِّينَ سَنَةً.
“Wahai Abu Hurairah, Adil satu waktu itu lebih baik dibanding ibadah selama 60 tahun yang malamnya diisi salat dan siangnya diisi puasa. Wahai Abu Hurairah, sewenang-wenang satu waktu dalam satu hukum itu lebih berat dan besar di sisi Allah dibanding maksiat 60 tahun.” (*)
