Kita tidak boleh memaksakan Allah Swt agar memenuhi apa yang menjadi pilihan kita. Tugas kita adalah pasrah dan tawakal pada apa yang Allah Azza wa Jalla tetapkan. Karena pilihan Allah Azza wa Jalla pasti terbaik untuk kita.
Berserah diri (tawakal) dan rida atas ketetapan Allah Swt, karena pilihan-Nya adalah yang terbaik. Manusia bertugas berusaha maksimal (ikhtiar), namun hasil akhir sepenuhnya wewenang Allah yang maha mengetahui hikmah. Memaksa kehendak hanya akan menimbulkan kekecewaan.
ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تَكْرَهُوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰٓ أَن تُحِبُّوا۟ شَيْـًٔا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَٱللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Di antara hikmah yang terkandung di dalam ayat ini ialah jika seorang hamba menginginkan kesudahan yang baik dalam setiap urusannya, maka ia dituntut untuk menyerahkan segala urusannya kepada Allah Yang Maha Mengetahui akibat segala urusan, serta rida atas pilihan dan ketentuan Allah Azza wa baginya.
Hikmah lainnya yang dikandung ayat ini ialah seorang hamba tidak pantas memohon agar diberikan sesuatu yang dia sendiri tidak mengetahui bagaimana kesudahannya. Sebab boleh jadi sesuatu yang dimintanya justru membahayakan dan membinasakannya karena ia tidak mengetahui akibat dan dampak negatifnya.
Atas dasar itu, manusia sama sekali tidak boleh memaksa suatu pilihan kepada Rabb-nya. Yang sebaiknya dilakukan adalah hendaknya ia memohon pilihan yang terbaik dari Allah Azza wa Jalla dan meminta agar hatinya rida atas pilihan tersebut. Sebab, tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat bagi dirinya selain daripada itu.
Hikmah lainnya adalah apabila seorang hamba telah menyerahkan urusannya kepada Rabb-nya dan rida atas pilihan Allah Azza wa Jalla untuk dirinya, niscaya Allah Azza wa Jalla akan membantunya menerima pilihan itu dengan menganugerahkan ketegaran, kebulatan tekad, dan kesabaran hati.
Lalu Allah Azza wa Jalla akan menghindarkannya dari segala macam bencana yang mungkin terjadi apabila seorang hamba berpegang kepada pilihannya sendiri. Kemudian Allah Azza wa Jalla akan memperlihatkan kepadanya dampak positif dari pilihan Allah Azza wa Jalla bagi dirinya, yang tidak akan dicapai walaupun separuhnya jika ia menentukan pilihan hidupnya sendiri.
من وَطَّنَ قلبَه عند ربه سكن واستراح، ومن أرسله في الناس اضطرب واشتد به القلق
“Barangsiapa memfokuskan hatinya kepada Rabb-nya maka ia akan tenang dan nyaman. Dan barangsiapa melepaskan hatinya kepada manusia maka ia akan goncang dan sangat gelisah.”
Kutipan tersebut berasal dari Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitab Al-Fawaid (1/98), yang menekankan pentingnya menautkan hati hanya kepada Allah (Rabb) untuk meraih ketenangan hakiki. Bergantung pada manusia hanya akan membawa kegelisahan karena manusia tidak kekal dan memiliki keterbatasan. Setiap orang yang hadir dalam kisah kehidupan kita, bukanlah suatu kebetulan. Mereka dihadirkan oleh Allah Azza wa Jalla untuk senantiasa memberi hikmah dan pelajaran dalam perjalanan hidup kita.
Menautkan hati hanya kepada Allah (Rabb) adalah kunci utama dalam meraih ketenangan hakiki (sakinah). Dalam Islam, ketenangan jiwa tidak ditemukan pada harta atau manusia, melainkan pada ikatan tauhid yang kuat dengan Sang Pencipta.
Berikut adalah poin-poin penting menekankan tautan hati kepada Allah untuk ketenangan jiwa:
- Zikir sebagai Sumber Ketenangan Utama: Allah menegaskan dalam QS. Ar-Ra’d ayat 28 bahwa hanya dengan mengingat-Nya hati menjadi tenteram. Zikir, baik dengan lisan, hati, maupun tadabbur Al-Qur’an, adalah obat bagi kegelisahan.
- Tawakal dan Melepaskan Ketergantungan pada Makhluk: Menggantungkan harapan hanya kepada Allah menghindarkan diri dari kekecewaan, karena bergantung pada makhluk adalah sumber kegalauan. Tawakal memberikan ketenangan batin karena yakin Allah akan mencukupi segala kebutuhan.
- Menerima Takdir dengan Ikhlas: Menautkan hati kepada Allah membuat seseorang rida terhadap ketentuan-Nya, baik suka maupun duka. Ini adalah inti dari iman yang melahirkan ketenangan dalam situasi sulit.
- Mendekatkan Diri (Taqarrub) melalui Ibadah: Ketenangan diperoleh dengan perbaikan ibadah, seperti salat khusyuk dan sujud, yang menjadi momen terdekat hamba dengan Allah.
- Pembersihan Hati dari Penyakit: Ketidaktenangan sering bersumber dari penyakit hati seperti hubbud dunya (cinta dunia berlebihan), sombong, dan iri. Menautkan hati kepada Allah membantu menyembuhkan penyakit ini dan membawa ketenangan.
Dengan menautkan hati hanya kepada Allah, seseorang tidak akan mudah goyah oleh ujian dunia, karena fokusnya adalah keridaan Sang Pencipta, bukan penilaian manusia. (*)
