Aib adalah sesuatu yang manusiawi. Ia bisa datang dari kelalaian, kekhilafan, atau sekadar dari bagian rapuh kehidupan seseorang. Fitrah manusia akan selalu berusaha menyembunyikannya.
Kini rasanya banyak orang memandang aib bukan lagi sesuatu yang perlu disembunyikan. Di media sosial, aib dijadikan bahan konten. Di televisi, aib menjadi bumbu tayangan. Di tongkrongan, aib dibicarakan dalam bentuk gosip.
Media sosial dan stasiun televisi nasional menjadi panggung bebas untuk mengumbar kesalahan orang lain. Di mana semua orang diajak menyoroti dan mengomentari.
Padahal hukum menyebar aib orang dalam Islam adalah haram. Demikian pula penegasan dosen Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) Dr. Kharis Nugroho, Lc., M.Ud. mengenai fenomena tajassus yang masif terjadi.
“Islam itu sangat-sangat menjaga betul kehormatan seseorang. Salah satu bentuk penjagaannya adalah melalui larangan menyebarkan aib sebagai tindakan preventif,” kata Kharis, Jumat (13/6/2025).
Tajassus itu Apa?
Tajassus adalah perbuatan mencari-cari kesalahan dan aib orang lain dengan tujuan merendahkan atau menjatuhkan.
“Ini jelas dilarang dalam Islam,” tegasnya.
Kharis merujuk langsung pada firman Allah dalam Qur’an Surah Al-Hujurat ayat 12 yang berbunyi:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang.”
Ayat di atas tak hanya melarang tajassus, tetapi juga mengaitkannya dengan gibah atau gunjingan. Kedua akhlak tercela ini berlaku dalam hubungan langsung antarmanusia maupun interaksi di ruang digital.
Berpotensi menjadi Dosa Jariah
Menurut Kharis, penyebaran aib lewat media sosial dan konten infotainment seperti yang dibawakan akun-akun gosip atau program TV, sejatinya merupakan bentuk tajassus massal. Lebih berbahaya lagi ketika hal ini dibungkus dengan alasan “edukasi publik”.
“Islam punya cara untuk mendidik masyarakat tanpa harus membuka aib seseorang,” jelas dia.
Menyiarkan secara vulgar kasus perceraian, perselingkuhan, atau kekerasan rumah tangga melalui media atau akun pribadi bukan hanya melukai kehormatan yang bersangkutan. Akhlak tercela ini juga memancing komentar negatif publik yang dapat menjadi dosa jariah.
“Dosa jariah di sini maksudnya adalah dosa yang terus mengalir selama konten itu tersebar dan ditonton atau dibicarakan orang lain,” imbuh Kharis.
Fenomena justifikasi “edukasi” untuk menyebarkan aib menurut Kharis adalah bentuk manipulasi niat. “Kalau memang niatnya untuk mendidik, ada banyak cara yang lebih islami. Misalnya, konsultasi dengan pihak ketiga yang profesional menangani kasus perceraian, mengikuti kajian atau dakwah yang berbasis solusi, bukan malah mengekspos aib,” ujarnya.
Media seharusnya bisa mendidik tanpa menyebut nama, tanpa menampilkan wajah, dan tanpa mengarahkan opini publik untuk mencaci. Apalagi umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga lisan dan tulisan mereka di ruang publik maupun digital.
Cara Menyikapi Tajassus
Lantas bagaimana sebaiknya sikap kita saat dihadapkan pada konten gosip atau aib yang tiba-tiba muncul di timeline media sosial kita? Menjawab pertanyaan ini, Kharis menyebut satu sabda Nabiyullah Muhammad SAW yang berbunyi:
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam.” (Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim)
Jangan menyebarkan, jangan ikut menghujat, bahkan jangan mengomentari. Sikap seperti ini menjadi filter utama agar kita tidak terjebak dalam dosa sosial yang tak terasa.
“Sebaiknya, sibukkan diri dengan hal-hal yang mendatangkan pahala, seperti membaca Al-Qur’an, berzikir, mendatangi kajian, atau mengisi waktu dengan hal bermanfaat lainnya,” sarannya.
Sudah saatnya masyarakat membangun budaya tabayyun (mencari kejelasan tentang sesuatu hingga benar keadaan sesungguhnya), bukan tajassus. Membangun ruang publik yang sehat tidak berarti membuka luka pribadi orang lain, melainkan dengan menanamkan etika Islam dalam setiap konten, komentar, dan percakapan yang kita buat.
Menjaga kehormatan saudara sesama muslim sama pentingnya dengan menjaga kehormatan diri sendiri. “Siapa pun yang menutup aib saudaranya, maka Allah akan menutup aibnya kelak di akhirat,” pungkas Kharis. (genis dwi gustati)
