Sebuah kutipan terkenal dari Warren Buffett menyatakan, “Hanya ketika air surut, barulah kita tahu siapa yang berenang tanpa pakaian.”
Ungkapan itu kembali relevan di tengah dinamika ekonomi dunia tahun 2025, ketika ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok kembali mencuat ke permukaan.
Dalam situasi ini, negara-negara yang tampak stabil di permukaan mulai menunjukkan titik-titik lemahnya, terutama ketika kepentingan nasional mulai mendominasi.
Awal tahun ini, Amerika Serikat menaikkan tarif impor terhadap produk-produk asal Tiongkok secara drastis, yang segera ditindaklanjuti oleh Tiongkok dengan kebijakan serupa.
Ketegangan ini tidak hanya berdampak pada dua negara adidaya tersebut, tetapi juga mengguncang perekonomian dunia.
Negara-negara sekutu dari kedua belah pihak ikut terseret dalam pusaran ketidakpastian, menghadapi lonjakan harga, gangguan rantai pasok, dan tekanan inflasi yang meningkat.
Meskipun pada pertengahan tahun ini kedua negara akhirnya sepakat untuk menurunkan tarif demi meredakan ketegangan, dampak dari perang tersebut telah menyisakan luka mendalam.
Negara-negara yang terlalu bergantung pada ekspor tunggal atau tidak memiliki cadangan ekonomi yang kuat kini mulai kesulitan menjaga stabilitas. Seperti dalam kutipan Buffett, saat gelombang pasang surut, barulah terlihat siapa yang tidak siap menghadapi badai.
Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bahkan memperkirakan bahwa volume perdagangan global tahun ini akan mengalami kontraksi, berbanding terbalik dengan proyeksi pertumbuhan sebelumnya.
Ini menjadi sinyal bahwa dunia sedang berada dalam fase penyesuaian besar-besaran, di mana ketahanan ekonomi menjadi lebih penting daripada sekadar pertumbuhan angka.
Bagi Indonesia dan negara-negara berkembang lainnya, situasi ini menjadi pelajaran penting. Ketergantungan pada pasar luar negeri harus diimbangi dengan penguatan sektor domestik.
Diversifikasi ekonomi, peningkatan daya saing industri lokal, serta strategi diplomasi dan komisi dagang yang adaptif menjadi kunci untuk bertahan dalam lanskap dunia yang semakin tidak pasti.
Karena pada akhirnya, seperti yang dikatakan Buffett, hanya ketika badai datang, kita tahu siapa yang benar-benar siap dan siapa yang selama ini hanya tampak kuat di permukaan. (*)
