Ketika Akal dan Wahyu Bicara

www.majelistabligh.id -

Al-Ghazālī dan Proyek Penyeimbang

Di sinilah datang al-Ghazālī, seorang filsuf, sufi, mutakallim, dan ulama yang prolifik. Ia melihat bahwa filsafat telah mengancam iman umat, tapi juga sadar bahwa filsafat tidak bisa dihapus begitu saja. Maka dalam Tahāfut al-Falāsifah,  ia membongkar argumen-argumen Ibn Sīnā dan al-Fārābī.

Namun, ironisnya, dalam karya lain seperti al-Mustasyfā dan Mi‘yār al-‘Ilm, ia justru menggunakan logika Aristotelian. Ia mengkritik filsafat, tapi juga mengambil manfaatnya. Maka lahirlah teologi Asy‘ariyyah generasi kedua, teologi yang sangat canggih secara logis, tapi tetap mengaku tunduk pada wahyu Tuhan. Inilah titik puncak dari paradoks epistemologi Islam klasik: akal digunakan untuk membela wahyu, tapi dalam prosesnya wahyu justru disesuaikan dengan akal.

Lahirnya Sang Penantang: Ibn Taimiyyah

Setelah semua itu, datanglah tokoh yang tak terduga: Ibn Taimiyyah. Dikenal keras, tajam, dan tak kenal kompromi. Tapi juga sangat cerdas dan taktis. Dalam bukunya yang monumental, Dar’ Ta‘āruḍ al-‘Aql wa al-Naql (Peniadaan Kontradiksi antara Akal dan Wahyu), ia ‘meruntuhkan’ semua konsensus yang ada.

Baginya, baik Mu‘tazilah maupun Asy‘ariyyah telah mengambil jalan salah sejak awal. Mereka menganggap wahyu dan akal bisa bertentangan, lalu membuat aturan: jika bertentangan, akal yang menang. Lalu wahyu harus dita’wīl (ditafsir ulang).

Ibn Taimiyyah berkata: tunggu dulu. Wahyu dan akal sejati tidak akan pernah bertentangan. Kalau tampak bertentangan, pasti akalnya yang salah, atau penafsiran teksnya yang keliru. Ia memperkenalkan ide bahwa akal bukan logika Yunani, tapi “fiṭrah” —naluri akal sehat manusia. Akal tidak perlu memakai silogisme Aristoteles untuk mengenal Tuhan. Cukup dengan merenungi ciptaan-Nya, mendengar wahyu-Nya, dan mengikuti naluri dasar yang Tuhan tanam dalam diri setiap manusia.

Epistemologi Ibn Taimiyyah: Bukan Anti-Akal, tapi Akal Fiṭrī

Orang sering menyangka Ibn Taimiyyah anti-akal. Tapi justru sebaliknya. Ia sangat percaya pada kekuatan akal —asal tidak dipaksa dengan logika buatan Yunani.

Ia menyerang keras metode kalām dan logika formal, karena menurutnya itu justru menjauhkan manusia dari wahyu. Ibn Taimiyyah menegaskan bahwa banyak sekali hal yang bisa diketahui secara rasional tanpa perlu ta’wīl atau spekulasi. Ia menghidupkan kembali pendekatan al-salaf al-ṣāliḥ —generasi pertama Islam yang tidak bermain dalam rumitnya metafisika, tapi tetap punya keyakinan tegas pada Tuhan dan firman-Nya.

Ia bukannya menolak filsafat karena ia tidak bisa mengikutinya. Ia menolak karena menurutnya filsafat itu terlalu rumit, terlalu banyak asumsi, dan terlalu mudah menggeser makna asli wahyu. Dan yang pasti, kerumitan-kerumitan yang muncul darinya terkesan hanya ekslusif untuk para elit. Sedang menurut Ibn Taimiyyah, Islam datang untuk semua orang, semua lapisan masyarakat baik elit maupun awam.

Pelajaran dari Masa Lalu

Apa relevansi semua ini hari ini?

Kita hidup di zaman ketika ilmu pengetahuan dan logika rasional sering ditempatkan berlawanan dengan agama. Banyak yang kehilangan iman karena mengira bahwa percaya pada Tuhan berarti membunuh akal. Di sisi lain, ada yang menolak semua ilmu modern karena merasa wahyu sudah cukup.

Kisah panjang antara akal dan wahyu dalam Islam menunjukkan bahwa pertarungan ini tidak pernah sederhana. Tapi juga tidak harus berujung pada perpisahan.

Akal itu anugerah. Wahyu itu petunjuk. Yang satu adalah lampu; yang lainnya adalah peta. Kita butuh keduanya.

Dan Ibn Taimiyyah, dengan segala kontroversinya, mengingatkan kita bahwa barangkali harmoni antara keduanya tidak terletak pada kompromi yang rumit, tapi pada keberanian untuk kembali ke suara batin yang paling jernih —fiṭrah manusia yang selalu mencari kebenaran.

Dalam lintas sejarah Islam, akal dan wahyu pernah bertarung. Tapi mereka juga pernah berdamai. Dari Al-Qur’ān yang memanggil akal, ke Imam Al-Syāfi‘ī yang menyatukan logika dan teks, ke Mu‘tazilah yang mendewakan akal, menuju Al-Ghazālī yang menyeimbangkan keduanya, hingga Ibn Taimiyyah yang menyederhanakannya hingga awam pun mampu memahaminya.

Pergulatan akal dan wahyu sejatinya adalah kisah abadi antara iman, akal dan hati; īmān-Islām-iḥsān. Saat ini, kita hidup di dunia yang kacau, di mana nafsu dan ego terlalu cepat melesat melebih logika dan rasa. Tapi selama kita masih punya akal yang bersih dan wahyu yang jernih, jalan lurus selalu tersedia untuk kita tapaki menuju pada-Nya. (*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Search