Ketika Allah Direndahkan dan Memilih Berhala

*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
www.majelistabligh.id -

Kecintaan Allah pada hamba-hamba-Nya sangat besar dan tak terbatas. Bentuk kecintaan Allah itu dengan mengirim utusan untuk mengimani dua hal.

Pértama, untuk menjelaskan kebesaran Allah atas berbagai kenikmatan besar. Kedua, untuk menerangkan petunjuk hidup agar selamat di dunia dan akhirat.

Namun manusia justru menggantikan ajakan untuk mengagungkan Allah justru memilih mengagungkan Berhala.

Kenikmatan Allah

Hidup di dunia ini memerlukan berbagai perangkat dan fasilitas. Allah menyiapkan seluruh perangkat dan kebutuhan hidup manusia.

Oleh karenanya Allah menyiapkannya. Kasih sayang Allah ditunjukkan dengan memberi banyak fasilitas seperti langit dan bumi secara lengkap dengan fungsinya.

Dengan langit dan bumi manusia bisa menjelajah sekaligus bisa menjalankan fungsinya sebagai makhluk terbaik. Matahari, bulan, dan bintang bisa menjadi sumber kehidupan serta petunjuk hidup.

Demikian pula laut, dan daratan menghasilkan hasil, baik makanan, minuman, perhiasan yang tak pernah habis. Itulah bentuk kenikmatan yang Allah berikan kepada manusia.

Namun manusia tidak menyadarinya dan justru menolak untuk menyadari bahwa seluruh kenikmatan berasal dari Allah. Penolakan untuk beriman terhadap hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ بَدَّلُواْ نِعۡمَتَ ٱللَّهِ كُفۡرٗا وَأَحَلُّواْ قَوۡمَهُمۡ دَارَ ٱلۡبَوَارِ

“Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang telah menukar nikmat Allah dengan kekafiran dan menjatuhkan kaumnya ke lembah kebinasaan?” (QS. Ibrāhīm : 28)

Para ulama tafsir menjelaskan ayat ini dengan menjelaskan perang Badar dan perang Uhud sebagai bukti sejarah yang disebabkan oleh penolakan terhadap iman.

Dua peperangan besar itu menarasikan adanya dua kelompok, Nabi Muhammad saw di satu pihak yang mengajak untuk beriman.

Dan orang Quraisy di pihak lain yang menolak ajakan beriman dan memilih menukarnya dengan yang lain. Mereka justru memilih kekafiran. Dengan kata lain, mereka memilih neraka jahannam ketika ditawari surga.

Memilih Syirik

Ketika datang tawaran untuk beriman dan berpegang teguh pada tauhid, orang kafir Quraisy memilih kafir. Mereka memilih berhala-berhala sebagai tuhan dan menentang Allah sebagai Tuhan.

Mereka disadaekan bahwa karunia yang melimpah dan diperintahkan untuk mengakui Dzat yang memberi limpahan harta dan kekayaan.

Alih-alih menerima, mereka memilih bersenang-senang dengan kepercayaan mereka dengan tetap menyembah berhala dan secara terbuka menentang tauhid. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَجَعَلُواْ لِلَّهِ أَندَادٗا لِّيُضِلُّواْ عَن سَبِيلِهِۦ ۗ قُلۡ تَمَتَّعُواْ فَإِنَّ مَصِيرَكُمۡ إِلَى ٱلنَّارِ

“Orang-orang kafir itu telah menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah supaya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan-Nya. Katakanlah, “Bersenang-senanglah kamu, karena sesungguhnya tempat kembalimu ialah neraka”. (QS. Ibrāhīm : 30)

Penolakan untuk diberikan justru dijawab Allah dengan meminta mereka bersenang-senang dengan menunggu kehancuran serta mengancamnya dengan neraka.

Hal ini ditegaskan Allah sevagainana ayat di atas. Mereka benar-benar lupa diri atas kebesaran Allah dan kekuasaan-Nya atas langit dan bumi serta kebermanfaatnnya pada manusia. Hal ini ditegaskan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

ٱللَّهُ ٱلَّذِي خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضَ وَأَنزَلَ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مَآءٗ فَأَخۡرَجَ بِهِۦ مِنَ ٱلثَّمَرَٰتِ رِزۡقٗا لَّكُمۡ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡفُلۡكَ لِتَجۡرِيَ فِي ٱلۡبَحۡرِ بِأَمۡرِهِۦ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ ٱلۡأَنۡهَٰرَ

“Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air hujan dari langit, kemudian Dia mengeluarkan dengan air hujan itu berbagai buah-buahan menjadi rezeki untukmu dan Dia telah menundukkan bahtera bagimu supaya bahtera itu berlayar di lautan dengan kehendak-Nya dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu sungai-sungai.” (QS. Ibrāhīm : 32)

Manusia bisa bebas menikmati seluruh karunia-Nya dan bisa menjelajah kemana pun pergi. Semuanya karena penyediaan fasilitas dari Allah.

Namun ketika diminta mengimani dan mengakui Allah sebagai pencipta serta menyembah-Nya, mereka justru menolak dengan mengakui berhala sebagai Tuhannya.

Allah pun mengakhiri penolakan itu dengan membiarkan bersenang-senang dan menurunkan adzab yang keras dengan mengancam penyediaan neraka jahannam sebagai tempat kembali.

Allah memberi contoh komunitas yang menukar nikmat dengan kekufuran, yakni Bani Israil. Allah telah menunjukkan kebenaran ketika nabi Musa membersamainya.

Keagungan Allah diperlihatkan kepada mereka. Namun mereka justru mengingkari dan mengubah dengan melawan perintah. Hal ini sebagaimana firman-Nya :

سَلۡ بَنِيٓ إِسۡرَٰٓءِيلَ كَمۡ ءَاتَيۡنَٰهُم مِّنۡ ءَايَةِۭ بَيِّنَةٖ ۗ وَمَن يُبَدِّلۡ نِعۡمَةَ ٱللَّهِ مِنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُ فَإِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ

“Tanyakanlah kepada Bani Isra’il, “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. Dan barang siapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah : 211)

Berapa ayat di atas relevan dengan situasi saat ini. Allah telah memberi kenikmatan besar kepada bangsa ini, tetapi elite pengelola neraka justru berbuat korupsi, tidak menjalankan amanah dengan baik. Jumlah kaum. Miskin hingga menjadi 60,3 persen atau 170 juta.

Kekayaan alam yang melimpah sangat ironis bila rakyatnya menjadi sengsara dan menderita. Negara memilih beban utang yang besar.

Para pengkhianat negeri ini mengganti kenikmata dengan kekufuran. Seolah-olah Allah tidak ada dan perbuatannya dianggap tidak memberi efek buruk pada dirinya.

Segala cara ditempuh untuk menempuh harta dan berfoya-foya dengan menghabiskan hartanya. Hal ini jelas menukar kenikmatan dengan kekufuran. (*)

Surabaya, 14 Mei 2025

Tinggalkan Balasan

Search