Ketika Anak Sekolah Dikirim ke Barak: Disiplin atau Lupa Hak Anak?

*) Oleh : Farid Firmansyah S.Psi, M.Psi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim
www.majelistabligh.id -

Tanggal 2 Mei 2025, bertepatan dengan Hari Pendidikan Nasional, Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuat gebrakan. Puluhan pelajar “nakal” dikirim ke barak militer, untuk dibina.

Mereka adalah anak-anak yang terlibat tawuran, geng motor, hingga pelanggaran berat di sekolah. Beberapa dijemput langsung oleh aparat ke rumah masing-masing.

Program ini diklaim sebagai “pembinaan karakter”, tapi benarkah ini jawaban?

Di satu sisi, kita semua bisa mengerti keresahan yang melatarbelakanginya. Banyak sekolah kewalahan menangani siswa yang agresif, malas belajar, atau bahkan membawa senjata tajam.

Orangtua pun tak selalu siap jadi tempat kembali. Maka pemerintah daerah memilih jalan tegas: disiplinkan mereka dengan cara ala militer.

Tapi membina bukan berarti menghukum. Di barak, anak-anak ini akan digembleng seperti tentara. Bangun sebelum fajar, baris, push-up, kerja fisik.

Tak ada sekolah. Tak ada kurikulum. Hanya disiplin. Terdengar efektif, tapi apakah aman secara psikologis?

Psikolog anak menyebut pendekatan ini berisiko memunculkan stres akut, bahkan rasa penolakan sosial. Anak yang sebelumnya liar bisa berubah diam karena takut, tapi bukan karena paham.

Perubahan seperti itu hanya berlangsung di bawah tekanan. Ketika tekanan hilang, perilaku bisa kembali—bahkan lebih parah.

Yang lebih memprihatinkan, stigma “anak bermasalah” akan terus menempel. Padahal, mereka belum tentu jahat. Mungkin hanya terluka.

Dari sisi agama, Rasulullah saw tak pernah mempermalukan anak muda yang salah. Ia mengajarkan dengan empati, bukan bentakan. Beliau bersabda:

“Bukan golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda atau tidak menghormati yang lebih tua.” (HR. at-Tirmidzi no. 1842 dari shahabat Anas bin Malik)

tentu ingin anak-anak ini menjadi lebih baik. Tapi menjadi lebih baik butuh lebih dari sekadar dibentak atau dijemur. Mereka butuh ditanya. Didengar. Ditemani. Jika tidak, yang kita bangun bukan karakter, tapi trauma. (*)

Tinggalkan Balasan

Search