Ketika Dunia Menjadi Pilihan, Akhirat Terabaikan

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
www.majelistabligh.id -

Mengorbankan dirinya untuk dunia, pada akhirnya dunia tidak akan memberikan kepadanya kecuali sejengkal tanah yang menjadi kuburannya, itupun bisa jadi nanti ditempati orang lain lagi setelahnya.

Tapi barangsiapa mengorbankan dirinya untuk Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya, surga yang lebarnya seperti Langit dan Bumi.

Sungguh sangat tertipu, siapa yang memilih dunia dengan meninggalkan akhirat.

Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَاِ نَّمَا تُوَفَّوْنَ اُجُوْرَكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّا رِ وَاُ دْخِلَ الْجَـنَّةَ فَقَدْ فَا زَ  ۗ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا مَتَا عُ الْغُرُوْرِ

kullu nafsing zaaa-iqotul mauut, wa innamaa tuwaffauna ujuurokum yaumal-qiyaamah, fa mang zuhziha ‘anin-naari wa udkhilal-jannata fa qod faaz, wa mal-hayaatud-dun-yaaa illaa mataa’ul-ghuruur

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 185)

Kehidupan dunia sering kali memikat dengan segala keindahan dan kemewahannya, membuat banyak orang lupa akan akhirat yang abadi.

Mengutamakan dunia menjadi pilihan bagi sebagian orang, yang memilih yang fana daripada yang kekal, mengutamakan kesenangan sesaat di atas kenikmatan yang tak terbatas.

Tulisan ini akan mengupas tentang tipuan dunia yang menggerogoti manusia, serta pentingnya menyadari hakikat kehidupan sejati di akhirat.

Di dalam al-Musnad karya Imam Ahmad dan at-Tirmidzi, dari al-Mustaurid bin Syaddad, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا الدُّنْيَا فِي الْآخِرَةِ إِلَّا كَمَا يُدْخِلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ فِي الْيَمِّ فَلْيَنْظُرْ بِمَ يَرْجِعُ؟

“Tiadalah dunia dibandingkan akhirat, melainkan seperti salah satu dari kalian mencelupkan jarinya ke dalam laut. Hendaklah ia perhatikan apa yang dia dapatkan (dari air yang masih menempel di jarinya).

Malik bin Dinar berkata:

لَوْ كَانَتِ الدُّنْيَا مِنْ ذَهَبٍ يَفْنَى ، وَالآخِرَةُ مِنْ خَزَفٍ يَبْقَى لَكَانَ الوَاجِبُ أَنْ يُؤْثِرَ خَزَفٍ يَبْقَى عَلَى ذَهَبٍ يَفْنَى ، فَكَيْفَ وَالآخِرَةُ مِنْ ذَهَبٍٍِ يَبْقَى ، وَالدُّنْيَا مِنْ خَزَفٍ يَفْنَى؟

“Seandainya dunia adalah emas yang akan fana, dan akhirat adalah tembikar yang kekal abadi, maka tentu saja seseorang wajib memilih sesuatu yang kekal abadi (yaitu tembikar) daripada emas yang nanti akan fana. Padahal sejatinya akhirat adalah emas yang kekal abadi dan dunia adalah tembikar yang nantinya fana.” (Lihat Fathul Qodir, Imam Asy-Syaukani, 5:567-568). (*)

Tinggalkan Balasan

Search