Ketika Hidup Hanya untuk Dunia: Lupa Akhirat dan Hari Pertanggungjawaban

www.majelistabligh.id -

*)Oleh: Farid Firmansyah, MPsi
Anggota Majelis Tabligh PWM Jatim

Dalam kehidupan modern yang serba cepat, banyak manusia terjebak dalam perlombaan tanpa akhir untuk memperoleh kekayaan, status sosial, dan kenikmatan duniawi. Kesuksesan sering kali diukur dengan banyaknya harta, tingginya jabatan, atau popularitas di media sosial.

Namun, di balik itu semua, ada satu kenyataan yang sering dilupakan: hidup ini sementara, dan akan ada kehidupan yang kekal setelah kematian.

Allah telah mengingatkan dalam QS. Taha: 131 agar manusia tidak terpedaya oleh kemewahan dunia yang bersifat fana:

Dan janganlah kamu tujukan kedua matamu kepada apa yang telah Kami berikan kepada golongan-golongan dari mereka sebagai bunga kehidupan dunia untuk Kami cobai mereka dengannya. Dan karunia Tuhanmu adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Taha: 131)

Manusia sering kali terjebak dalam ambisi tanpa akhir untuk mengejar kekayaan, status sosial, dan pengakuan dari orang lain. Kesuksesan sering kali diukur dari seberapa banyak harta yang dimiliki, jabatan yang diraih, atau ketenaran yang diperoleh.

Namun, dari perspektif psikologi, ketergantungan pada dunia dapat menciptakan siklus stres, kecemasan, dan perasaan kosong yang berkelanjutan.

Mengapa manusia begitu sulit melepaskan diri dari godaan dunia? Bagaimana dampak psikologis dari ketergantungan ini, dan bagaimana cara mengatasinya?.

Dalam teori hierarki kebutuhan Abraham Maslow, manusia memiliki berbagai tingkat kebutuhan, mulai dari kebutuhan dasar (makan, minum, tempat tinggal), hingga kebutuhan tertinggi berupa aktualisasi diri. Masalahnya, banyak manusia terjebak pada tingkat kebutuhan material dan sulit mencapai kepuasan batin.

Pertama, dalam psikologi menyebut fenomena ini sebagai “hedonic treadmill effetc”, di mana manusia terbiasa dengan kenikmatan tertentu dan terus mencari lebih banyak untuk mendapatkan kepuasan yang sama. Misalnya, seseorang yang awalnya puas dengan gaji 10 juta, setelah beberapa tahun merasa tidak cukup dan ingin lebih banyak lagi.

Kedua disebut social comparison theory yang menjelaskan bahwa manusia sering membandingkan diri dengan orang lain, yang menyebabkan perasaan iri dan ketidakpuasan. Jika seseorang melihat orang lain memiliki kehidupan lebih mewah, ia merasa kurang bahagia dengan apa yang ia miliki.

Dan yang ketiga adalah fear of missing out (fomo) memperparah keinginan manusia terhadap dunia. Media sosial membuat manusia merasa tertinggal jika tidak mengikuti tren tertentu, sehingga mereka terus mengejar sesuatu yang baru tanpa pernah merasa cukup.

Semakin kita fokus pada dunia, semakin kita merasa kekurangan. Kenikmatan dunia bersifat sementara dan tidak akan pernah memberikan kebahagiaan yang abadi.

Terlalu mencintai dunia dan menjadikannya prioritas utama bisa menimbulkan berbagai masalah psikologis, seperti: kecemasan dan stres berlebihan, manusia yang terlalu fokus pada materi sering mengalami kecemasan yang tidak perlu.

Mereka takut kehilangan jabatan, harta, atau penghormatan dari orang lain. Ketika mereka gagal mencapai apa yang mereka inginkan, stres dan depresi pun muncul. Banyak orang kaya atau sukses yang tetap merasa tidak bahagia. Dari perspektif psikologi, kebahagiaan tidak hanya berasal dari materi, tetapi juga dari hubungan sosial yang baik, rasa syukur, dan makna hidup yang lebih dalam.

Studi dari Harvard Study of Adult Development menemukan bahwa hubungan sosial yang sehat lebih berpengaruh terhadap kebahagiaan dibandingkan kekayaan atau pencapaian karier. Saat seseorang terlalu sibuk mengejar dunia, ia sering kali lupa tentang makna hidup yang lebih besar.

Padahal, psikologi positif menekankan bahwa manusia memerlukan sense of purpose (rasa tujuan hidup) untuk merasa bahagia dan puas.

Agar hidup tidak hanya berfokus pada dunia, manusia perlu mengembangkan keseimbangan antara dunia dan akhirat.

Berikut beberapa cara untuk mengatasi ketergantungan duniawi dari perspektif psikologi: mengembangkan rasa syukur setiap hari, catat tiga hal yang bisa disyukuri, sekecil apa pun itu.

Latih diri untuk fokus pada nikmat yang dimiliki, bukan pada yang belum dimiliki. Berlatih mindfulness, latih diri untuk lebih menikmati momen sekarang, bukan hanya merencanakan masa depan dan kurangi penggunaan media sosial yang memicu perbandingan sosial.

Berorientasi pada akhirat dengan menggunakan kekayaan dan jabatan untuk kebaikan dan amal saleh sekaligus melibatkan diri dalam kegiatan sosial agar hidup lebih bermakna.

Dari perspektif psikologi dan Islam, terlalu fokus pada dunia dapat menyebabkan stres, kecemasan, dan kehilangan makna hidup. Manusia tidak akan pernah puas dengan harta atau status sosial, karena kenikmatan dunia bersifat sementara. Rasa syukur adalah kunci kebahagiaan sejati. Hidup lebih bermakna ketika kita fokus pada akhirat dan tujuan yang lebih besar. Kesuksesan sejati bukan diukur dari kekayaan, tetapi dari bagaimana kita menggunakan hidup untuk kebaikan.

Jangan sampai hidup kita tersandera oleh dunia hingga lupa bahwa ada kehidupan setelah mati, ada hari pertanggungjawaban, dan ada kebahagiaan yang lebih besar di surga.
“Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20). (*)

Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News.

Tinggalkan Balasan

Search