Ketika Hujan Menyentuh Hati yang Lupa

*) Oleh : Agus Wahyudi
www.majelistabligh.id -

Saya sering membaca dan mendengar orang-orang melukiskan tentang hujan. Tentang keindahannya, tentang kesyahduannya, dan juga kesedihan.

Mereka menyematkan berbagai rasa pada rintik yang jatuh dari langit: rindu, cinta, bahkan duka.

Hujan seolah menjadi bahasa alam yang tak pernah kehilangan daya tarik. Ia turun dalam diam, tapi menyampaikan banyak hal.

Bagi sebagian orang, hujan adalah syair yang menggugah perasaan. Ia menjadi latar yang sempurna bagi kenangan yang tak sempat diungkap, atau cinta yang tak sampai diucapkan.

Saat hujan turun di pagi hari, ada yang menyambutnya dengan secangkir kopi dan lagu-lagu kenangan.

Siang hari yang mendung kadang mengantarkan kita pada lamunan panjang tentang seseorang yang pernah singgah.

Dan di malam hari, hujan seringkali menghidupkan rasa sepi yang menyelinap diam-diam.

Namun hujan bukan hanya soal rasa. Ia juga tentang makna.

Hujan adalah pengingat yang halus namun dalam. Bahwa segala sesuatu dalam hidup ini datang dan pergi seperti rintik yang jatuh lalu hilang.

Bahwa air yang turun dari langit bukan hanya membasahi bumi, tetapi juga menyirami hati yang kering oleh waktu dan kesibukan.

Hujan menghadirkan jeda dalam derap kehidupan. Ia memaksa kita menengok ke dalam diri, menakar ulang langkah-langkah yang barangkali terlalu tergesa.

Dalam rinainya, kita belajar merendah. Dalam gemericiknya, kita diingatkan akan hal-hal yang pernah kita lupakan. Tentang kasih yang tulus. Tentang maaf yang belum sempat terucap. Tentang harapan yang tertanam namun tak lagi disiram.

Hujan bukan sekadar cuaca, ia adalah pelajaran yang jatuh perlahan.

Ia mengajarkan bahwa menangis bukan kelemahan, melainkan bentuk kejujuran jiwa.

Ia datang membawa kenangan, tapi juga menyisakan ruang untuk kesadaran: bahwa hidup adalah serangkaian momen yang harus kita maknai, bukan sekadar kita lalui.

***

Dalam perspektif religius, hujan bukan sekadar fenomena alam, melainkan tanda kasih sayang Allah kepada makhluk-Nya.

Hujan adalah rahmat yang diturunkan dari langit, membawa kehidupan bagi bumi yang kering dan gersang.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-bijian yang dapat dipanen.” (QS. Qaf: 9)

Ayat ini menegaskan bahwa hujan adalah sumber keberkahan. Hujan membawa kehidupan, kesuburan, dan kelangsungan makhluk di bumi.

Maka tak heran jika banyak ulama menyebut hujan sebagai bentuk nyata dari rahmat Allah yang luas.

Nabi Muhammad saw pun memberi teladan bagaimana menyikapi hujan. Dalam hadis riwayat Al-Bukhari, Rasulullah saw saat terkena hujan membuka sebagian pakaiannya agar terkena air hujan, seraya berkata:

“Karena ia baru saja datang dari Tuhannya.” (HR. Muslim)

Ini bukan sekadar tindakan simbolik, tapi ajakan untuk menyadari bahwa hujan adalah ciptaan langsung dari Allah, segar dan suci, membawa keberkahan bagi yang menyambutnya dengan rasa syukur.

Hujan juga menjadi waktu yang mustajab untuk berdoa. Dalam satu riwayat disebutkan:

Dua doa yang tidak akan ditolak: doa saat azan dan doa ketika hujan turun.” (HR. Abu Dawud dan Hakim)

Maka, saat hujan turun, selain menikmati keindahannya, seyogianya kita juga melangitkan doa-doa. Sebab di balik gemericiknya yang lembut, Allah sedang membuka pintu langit untuk hamba-hamba-Nya.

***

Hujan adalah pengingat yang lembut namun dalam. Ia menetes tak hanya di atas bumi, tapi juga di dalam jiwa.

Setiap rintiknya mengajarkan kita tentang harapan setelah kekeringan, tentang kasih sayang Allah yang tak pernah putus meski kita sering lupa bersyukur.

Hujan menyapa tidak hanya dengan air, tapi dengan pelajaran tentang kesabaran, ketundukan, dan pengharapan.

Betapa sering kita mengeluh saat hujan mengganggu perjalanan atau membuat jalan becek, tanpa sadar bahwa di tempat lain, ada tanah yang berdoa agar diberi setetes saja.

Betapa sering kita lupa bahwa di balik langit yang gelap dan mendung, ada rahmat yang sedang dipersiapkan untuk diturunkan.

Maka saat hujan datang, semestinya kita tidak hanya sekadar berteduh. Kita juga perlu berhenti sejenak untuk merenung, lalu menengadah dan mengucap syukur: “Alhamdulillah, hujan rahmat telah turun dari langit.”

Karena dari hujan, kita belajar bahwa Allah tak pernah berhenti mencintai hamba-Nya. Dan kita pun sepatutnya tak berhenti menginsyafi bahwa segala yang datang dari langit, selalu membawa kebaikan.

Hujan adalah rahmat yang disampaikan-Nya dengan cara yang tak terduga. Kita hanya perlu membuka hati, untuk menerima dan mensyukurinya.

Kebaikan itu selalu hadir, meski dalam bentuk yang tak selalu kita pahami. Asalkan kita percaya, setiap tetes hujan adalah cinta-Nya yang tak pernah berhenti mengalir. (*)

Tinggalkan Balasan

Search