Ketika Organisasi Profesi Tidak Lagi Dicari, Maka Saatnya untuk Berbenah

dr. Andri, SpKJ, FAPM.
*) Oleh : Andri. SpKJ. FAPM.
Anggota PDSKJI (Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) Banten
www.majelistabligh.id -

Ada satu pertanyaan yang belakangan sering saya dengar dari sejawat yang lebih muda, disampaikan dengan nada datar, bukan memberontak, tapi juga bukan bercanda:

“Dok, sebenarnya apa sih perlunya bergabung dengan organisasi dokter spesialis sekarang?”

Pertanyaan itu tidak lahir dari ketidaktahuan. Justru sebaliknya—ia lahir dari pengalaman. Dari melihat, merasakan, dan menyimpulkan sendiri bahwa banyak hal tetap berjalan, bahkan tanpa organisasi. Praktik jalan. Ilmu bisa diakses. Webinar ada di mana-mana. Jaringan bisa dibangun lewat media sosial. Dan saat masalah datang, sering kali yang dicari bukan organisasi, tapi pengacara, senior pribadi, atau sekadar teman curhat.

Pertanyaan itu menohok, bukan karena salah, tetapi karena ia memaksa kita bercermin.

Kita terbiasa mengira bahwa melemahnya organisasi profesi disebabkan oleh dokter muda yang terlalu sibuk praktik, terlalu pragmatis, terlalu individualistis. Tapi bagaimana jika kenyataannya terbalik? Bagaimana jika organisasi tidak lagi dicari karena ia tidak lagi hadir di titik-titik paling penting dalam kehidupan profesional anggotanya?

Di era ini, dokter bekerja di bawah tekanan yang jauh lebih kompleks daripada generasi sebelumnya. Bukan hanya tekanan klinis, tetapi tekanan hukum, administratif, ekonomi, dan ekspektasi publik yang sering kali tidak realistis. Kesalahan kecil bisa menjadi viral. Keputusan klinis bisa ditarik ke ruang sidang. Burnout bukan lagi istilah akademik, tapi realitas harian.

Di tengah semua itu, organisasi profesi seharusnya menjadi rumah. Tempat berlindung. Ruang aman untuk berdiskusi, berbeda pendapat, dan bertumbuh. Namun yang sering terasa justru sebaliknya: organisasi hadir sebagai struktur, bukan sebagai penopang. Sebagai kewajiban, bukan sebagai kebutuhan.

Banyak organisasi terlalu sibuk menjaga bentuk, tapi lupa menjaga makna. Terlalu khawatir terlihat rapi di mata regulator, tapi lupa terlihat relevan di mata anggota. Terlalu berhati-hati agar tidak “menyinggung”, hingga akhirnya tidak mengatakan apa-apa yang benar-benar berarti.

Dokter muda melihat ini. Mereka tidak bodoh. Mereka membaca situasi dengan jernih. Dan mereka mengambil kesimpulan sederhana: jika kehadiran atau ketidakhadiran saya tidak mengubah apa pun, lalu mengapa saya harus terlibat lebih jauh?

Ini bukan soal loyalitas. Ini soal timbal balik.

Organisasi profesi tidak bisa lagi hidup hanya dari sejarah dan simbol. Ia harus hidup dari kebermanfaatan nyata. Dari keberanian mengambil posisi. Dari kesediaan hadir ketika anggotanya berada di titik paling rapuh—bukan hanya ketika ada acara ilmiah atau foto bersama.

Refleksi ini ditulis tidak untuk menyalahkan siapa pun. Ini juga bukan seruan untuk meninggalkan organisasi. Justru sebaliknya. Ini adalah ajakan untuk menyelamatkannya. Karena organisasi profesi yang kuat bukan diukur dari seberapa lengkap strukturnya, tetapi dari seberapa besar anggotanya merasa “tidak sendirian”.

Jika hari ini dokter muda bertanya, “Apa perlunya organisasi?”, mungkin pertanyaan yang lebih jujur untuk kita ajukan adalah:

“Sudahkah organisasi benar-benar layak diperjuangkan?”

Dan jika jawabannya belum, maka tugas kita bukan membela diri, melainkan berubah. (*)

Tinggalkan Balasan

Search