Ketika Simbol Kemuliaan Dihinakan

*) Oleh : Dr. Slamet Muliono Redjosari
www.majelistabligh.id -

Narasi Penyesalan

Ketika orang-orang kafir dihadapkan pada neraka, barulah mereka menyadari kesalahan yang telah mereka lakukan di dunia. Lidah berkelu kesah, tubuh gemetar, dan wajah dipenuhi ketakutan yang tiada tara. Nyala api menyala-nyala di hadapan mereka, panasnya menyengat dan azabnya tak terbayangkan. Saat itulah mereka menjerit dengan penuh kepedihan, menyesali segala dosa dan keangkuhan yang dahulu mereka pertahankan.

Namun, penyesalan mereka sia-sia. Allah telah memberi mereka waktu yang cukup di dunia, mengutus rasul-rasul, dan menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk. Tetapi mereka justru menolak dan menyombongkan diri. Kini, tidak ada jalan kembali. Yang tersisa hanyalah siksa yang telah dijanjikan sebagai balasan atas kedurhakaan mereka.

Ratapan mereka tak lagi didengar. Tangisan mereka tak akan mengubah takdir. Neraka telah menjadi tempat mereka, sebagai akibat dari pilihan yang mereka buat sendiri. Betapa sia-sia kesombongan mereka di dunia, dan betapa pedih penyesalan yang datang terlambat. Hal ini diabadikan Al-Qur’an sebagaimana firman-Nya :

وَلَوۡ تَرَىٰٓ إِذۡ وُقِفُواْ عَلَى ٱلنَّارِ فَقَالُواْ يَٰلَيۡتَنَا نُرَدُّ وَلَا نُكَذِّبَ بِـَٔايَٰتِ رَبِّنَا وَنَكُونَ مِنَ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata, “Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman”, (tentulah kamu melihat suatu peristiwa yang mengharukan). (QS. Al-‘An`ām : 27)

Penyesalan itu tiada guna, karena kejahatan mereka saat di dunia sangat besar dan sulit dimaafkan. Mereka hidupnya berfoya-foya dan penuh gelak tawa. Mereka bukan hanya acuh tak acuh ketika disampaikan ayat-ayat Allah, tetapi melecehkannya. Hal ini direkam dengan baik sebagaimana firman-Nya:

فَلَمَّا نَسُواْ مَا ذُكِّرُواْ بِهِۦ فَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ أَبۡوَٰبَ كُلِّ شَيۡءٍ حَتَّىٰٓ إِذَا فَرِحُواْ بِمَآ أُوتُوٓاْ أَخَذۡنَٰهُم بَغۡتَةٗ فَإِذَا هُم مُّبۡلِسُونَ

“Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kami pun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.” (QS. Al-‘An`ām : 44)

Setelah musibah kecil diabaikan, maka Allah membuka berbagai kesempatan untuk melakukan kemaksiatan besar. Peringatan kecil berupa musibah ringan tidak membuatnya sadar dan mendekat kepada Allah. Allah pun membuka pintu-pintu kesenangan dengan mempermudah mendapatkan rezeki.

Mereka pun berfoya-foya dan gembira dengan melampiaskan secara brutal tak mengenal simbol-simbol kemuliaan. Maka terjadilah pelanggaran besar dengan menerjang simbol kemuliaan. Pada saat itulah Allah menghancurkan dan membinasakan dengan siksaan yang menghinakan. (*)

Surabaya, 4 Maret 2025

Tinggalkan Balasan

Search