Ketua PWM Jatim Ajak Alumni IMM Jadi Kader Loman, Profesional, dan Solid

www.majelistabligh.id -

Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jatim  Dr. dr. Sukadiono, MM menyerukan pesan mendalam kepada para alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) untuk terus menjadi kader yang loman (dermawan), profesional, tidak gampang mengeluh, serta menjaga kekompakan.

Pesan tersebut disampaikannya dalam acara Halalbihalal Keluarga Alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (Fokal IMM) Universitas Muhammadiyah Surabaya, yang berlangsung di Hotel Luminor Surabaya, pada Sabtu (25/4/2025).

Acara Halalbihalal ini berlangsung penuh kehangatan dan kekeluargaan. Selain Sukadiono, hadir pula Rektor UM Surabaya Dr. Mundakir, Anggota Komisi E DPRD Jatim Dr. Suli Da’im, Anggota Komisi A DPRD Jatim Erick Komala, S.H., M.H., serta para dekan, kaprodi, dan civitas akademika UM Surabaya.

Dalam pidatonya, Sukadiono yang akrab disapa Suko, menjelaskan makna halalbihalal, yang hakikatnya adalah proses pembersihan diri.

“Halalbihalal itu adalah pertobatan jika berkaitan dengan hubungan kita kepada Allah, dan saling memaafkan jika berkaitan dengan hubungan antarmanusia,” ungkapnya.

Ketua PWM Jatim Ajak Alumni IMM Jadi Kader Loman, Profesional, dan Solid
Mundakir, Sukadiono, dan Suli Da’im menghadiri acara Halalbihalal Fokal IMM UM Surabaya. foto: ist

Suko kemudian menguraikan tentang karakter yang seharusnya dimiliki oleh kader IMM sejati. Ia menyebutkan bahwa ada korelasi erat antara sifat ramah, kedewasaan, dan rasa syukur dengan kemampuan seseorang untuk memaafkan.

“Orang yang ramah lebih mudah memaafkan. Orang yang semakin dewasa juga akan semakin lapang dalam memaafkan. Begitu juga orang yang banyak bersyukur,” tegas pria yang menjabat Deputi II Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan di Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) itu.

Lebih lanjut, Suko menegaskan bahwa sikap suka mengeluh adalah cermin dari ketidaksyukuran.

“Kader sejati jangan banyak mengeluh. Orang yang banyak mengeluh itu sesungguhnya kurang bersyukur. Kalau hatinya dipenuhi rasa syukur, dia tidak mudah mengeluh,” katanya.

Dia juga mengingatkan bahwa orang yang loman, yakni suka menolong dan dermawan, biasanya lebih ringan dalam memaafkan. Sebaliknya, orang yang bakhil, pelit, dan perhitungan dalam membantu sesama, akan lebih sulit membuka pintu maaf.

Karena itu, Suko mengingatkan pentingnya membangun karakter sebagai kader yang ringan tangan, tidak bakhil, dan tulus dalam berbuat.

“Saya sering katakan, jadilah kader yang loman. Jangan bakhil. Karena sifat itu nanti berpengaruh pada kemampuan kita untuk memaafkan, untuk bersolidaritas,” tambahnya.

Dalam bagian lain sambutannya, Suko menegaskan pentingnya menjaga soliditas dan kekompakan antaralumni IMM dan kader-kader muda Muhammadiyah. Dia mengingatkan bahwa kader Muhammadiyah harus saling melindungi, bukan saling menjatuhkan.

“Jangan sampai gegeran (bertikai) satu sama lain. Jaga soliditas. Kalau ada masalah, selesaikan dengan kepala dingin. Kader itu harus saling menjaga dan saling menguatkan,” ujarnya tegas.

Dia menceritakan pengalamannya membina kader, di mana para kader IMM menunjukkan loyalitas dan semangat gotong-royong yang luar biasa.

“Saya mengalami sendiri, menyaksikan kader-kader IMM itu bekerja keras sampai larut malam tanpa pernah itung-itungan. Mereka membantu dengan tulus. Disuruh-suruh biasa saja,” tuturnya.

Sebaliknya, Suko menyebutkan bahwa orang yang bukan kader seringkali lebih perhitungan. “Kalau bukan kader, sering kali banyak itung-itungan. Banyak akal-akalan. Kalau kader IMM, biasanya ikhlas, tidak gampang ngerusulo (mengeluh),” tutur dia.

Ketua PWM Jatim Ajak Alumni IMM Jadi Kader Loman, Profesional, dan Solid
Sesi foto bersama Jajaran rektoran dan sivitas akademika UM Surabaya bersama Sukadiono. foto: ist

Tidak hanya soal sikap mental, Suko juga mengingatkan pentingnya profesionalisme di kalangan kader Muhammadiyah.

“Kader itu harus profesional. Artinya, bekerja secara sungguh-sungguh, sesuai dengan kompetensi dan keahlian yang dimiliki,” katanya.

Menurutnya, profesionalisme kader tidak hanya penting untuk membangun karier pribadi, tetapi juga untuk menjaga nama baik persyarikatan.

“Kalau kita sungguh-sungguh dan profesional, kita membawa nama baik Muhammadiyah di manapun kita berada,” tambahnya.

Dalam menghadapi era globalisasi, Suko juga mendorong kader untuk memiliki wawasan global (global exposure). Dia menekankan pentingnya belajar dari berbagai pengalaman internasional agar kader IMM mampu beradaptasi dan bersaing di tingkat dunia.

Namun demikian, Suko juga mengingatkan agar kader tidak melupakan pentingnya keseimbangan hidup. “Perlu ada waktu untuk keluarga (family time) dan untuk pergaulan sosial (social time). Jangan sampai kita kehilangan keseimbangan karena terlalu sibuk mengejar dunia,” pesannya.

Dia juga mengingatkan bahwa rezeki adalah urusan Allah. “Rezeki itu matematikanya Allah, bukan manusia. Tugas kita hanya berusaha dengan sungguh-sungguh dan ikhlas,” katanya, menguatkan.

Mengakhiri pesannya, Suko mengajak para alumni untuk tidak ragu berdiaspora ke berbagai bidang dan wilayah. “Silakan berdiaspora di mana saja. Berkontribusilah di banyak sektor. Tapi jangan lupa, tetaplah berkontribusi untuk Muhammadiyah,” pintanya.

Menurutnya, semangat pengabdian kepada persyarikatan harus terus dijaga. “Meski sudah tidak di IPM, IMM tetapp aktif di Muhammadiyah. Kalau bermuhammadiyah dengan ikhlas, insya Allah semua akan menjadi berkah. Jangan pernah berhenti membantu persyarikatan,” tegasnya.

Suko berharap para alumni IMM terus menjadi bagian penting dari gerakan dakwah Muhammadiyah yang mencerahkan.

“Tetaplah jaga kekompakan, hindari perpecahan, dan teruslah menjadi kader yang membanggakan,” pungkasnya penuh semangat. (wh)

Tinggalkan Balasan

Search