Ketuk Pintu Langit dengan Maaf, Dr. Sholihin Fanani Beberkan 4 Faktor agar Manusia Menjadi Baik

Ust. Dr. Muhammad Sholihin Fanani, M.PSDM.
www.majelistabligh.id -

Suasana khidmat menyelimuti kawasan Wisma Kedung Asem Indah Blok I, Surabaya, pada Sabtu malam (11/4/2026). Meski rintik hujan mengguyur lokasi acara, warga RT 04 RW 05 tetap antusias menghadiri Halalbihalal dengan tema filosofis: “Mengetuk Pintu Langit Dengan Maaf, Mengetuk Pintu Hati dengan Cinta.”

Hadir sebagai narasumber utama, Ust. Dr. Muhammad Sholihin Fanani, M.PSDM., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur. Mengawali ceramahnya di tengah cuaca syahdu, beliau mengajak seluruh jamaah yang hadir untuk memanjatkan doa agar hujan yang turun membawa keberkahan.

“Mari kita berdoa agar hujan ini menjadi shoyyiban nafi’an, hujan yang membawa manfaat dan rahmat bagi kita semua yang berkumpul malam ini,” ujar Ust. Sholihin dengan hangat.

Warga antusias mengikuti halalbihalal. (mun)
Warga antusias mengikuti halalbihalal. (mun)

Empat Pilar Manusia Berkualitas

Dalam intisari ceramahnya, Dr. Sholihin menekankan bahwa kualitas seorang manusia tidak datang tiba-tiba, melainkan ditentukan oleh empat faktor utama:

  1. Agama sebagai Fondasi

Beliau menjelaskan bahwa indikator keberagamaan seseorang yang paling valid adalah perilakunya. Semakin baik pemahaman agama seseorang, maka akan semakin mulia pula akhlak dan tindakannya sehari-hari.

  1. Ilmu yang Memberi Manfaat

Ilmu bukan sekadar wawasan, melainkan alat untuk menebar manfaat. Beliau menyoroti pentingnya pola pikir positif yang akan berantai menjadi takdir hidup seseorang.

“Pikiran akan menjadi ucapan, ucapan menjadi tindakan, lalu tindakan menjadi kebiasaan. Kebiasaan inilah yang membentuk karakter, dan karakter itulah yang pada akhirnya menentukan takdir kita,” tegasnya.

  1. Lingkungan yang Mendukung

Ust. Sholihin memaparkan bahwa lingkungan keluarga memegang porsi terbesar dalam membentuk jati diri, yakni sebesar 60%, disusul lingkungan sekolah 20%, dan masyarakat 20%. Beliau memuji tradisi kumpul warga seperti Halalbihalal ini.

“Orang baik itu gelem kumpul wong (mau berkumpul dengan orang lain). Dengan berkumpul semacam ini, kita bisa saling memaafkan dan memperkuat kohesi sosial,” ungkap beliau.

  1. Kebiasaan (Habit)

Faktor terakhir adalah kebiasaan. Apa yang dilakukan secara konsisten akan mendarah daging dan menjadi identitas seseorang.

Keajaiban Memaafkan

Menutup ceramahnya, Ust. Sholihin merinci tujuh manfaat luar biasa dari sikap saling memaafkan, mulai dari menciptakan kedamaian batin, kesehatan mental yang lebih stabil, hingga hubungan sosial yang harmonis. Beliau menyebutkan bahwa memaafkan mampu melepaskan dendam, mengurangi stres, meningkatkan kesehatan fisik, dan puncaknya, menjadikan perilaku seseorang menjadi mulia.

Acara yang berlangsung selama satu jam tersebut diakhiri dengan ramah tamah antarwarga, memperkuat komitmen untuk menjaga kerukunan di lingkungan Wisma Kedung Asem Indah. || munahar

 

Tinggalkan Balasan

Search