Amar makruf nahi munkar berasal dari frasa Arab al-amru bi al-ma’ruf wa an-nahyu ‘an al-munkar, yang penjelasan istilah-istilah ini adalah sebagai berikut:
Al-amru artinya “menuntut pengadaan sesuatu,” yang mencakup perintah, ajakan, suruhan, atau himbauan. Dalam konteks amar ma’ruf, al-amru berarti mendorong seseorang untuk melakukan hal-hal yang baik, berdasarkan ajaran agama.
Al-ma’ruf bermakna “sesuatu yang dikenal baik,” mencakup segala bentuk kebaikan yang diterima secara sosial dan agama. Al-ma’ruf dapat berupa perbuatan seperti mendirikan salat, menegakkan keadilan, membantu orang lain, dan melaksanakan kewajiban sosial yang bermanfaat.
An-nahyu berarti “mencegah pengadaan sesuatu,” yaitu upaya untuk menghentikan atau melarang seseorang dari melakukan perbuatan yang salah atau buruk. Ini termasuk penolakan terhadap kemaksiatan dan tindakan yang merusak tatanan masyarakat.
Al-munkar adalah “sesuatu yang diingkari,” yang merujuk pada segala bentuk perbuatan buruk, kejahatan, atau tindakan yang bertentangan dengan norma agama, seperti kemaksiatan, ketidakadilan, dan kezaliman.
Secara bahasa, amar ma’ruf nahi munkar berarti “menyuruh kebaikan dan mencegah kejahatan.” Dalam syariat Islam, konsep ini menjadi dasar bagi umat Islam untuk aktif menyeru orang lain kepada kebaikan dan menghentikan segala bentuk keburukan. Hal ini dianggap sebagai tanggung jawab sosial dan moral yang harus dijalankan oleh individu maupun kelompok demi menjaga tatanan moral masyarakat yang lebih baik dan sesuai dengan ajaran Islam. Sebagian ulama menganggap amar makruf nahi munkar sebagai rukun keenam dari rukun Islam.
كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللّهِ
“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran/3:110]
Kandungan utama QS. Ali ‘Imran ayat 110 menegaskan bahwa umat Islam adalah umat terbaik (khaira ummah) yang dilahirkan untuk manusia, dengan syarat menjalankan amar ma’ruf (mengajak kebaikan), nahi munkar (mencegah kejahatan), dan beriman kepada Allah. Ayat ini juga menyoroti pentingnya keimanan Ahli Kitab dan membedakan antara mereka yang beriman dan yang fasik.
Berikut adalah poin-poin penting kandungan QS. Ali ‘Imran: 110:
- Umat Terbaik yang Dikeluarkan: Umat Islam dipuji sebagai umat terbaik di dunia yang diutus untuk membawa kemaslahatan bagi seluruh manusia.
- Tiga Syarat Utama: Menjadi umat terbaik bergantung pada konsistensi dalam melakukan tiga hal: amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahi munkar (mencegah munkar), dan keimanan yang kokoh kepada Allah SWT.
- Tanggung Jawab Dakwah: Ayat ini membebankan tanggung jawab kepada umat Islam untuk berdakwah, menjaga kedamaian, serta memerangi kemunkaran.
- Kebebasan Jiwa (Iman): Keimanan kepada Allah adalah fondasi utama yang membebaskan jiwa dari belenggu keduniawian, sehingga berani menegakkan kebenaran.
- Refleksi terhadap Ahli Kitab: Ayat ini menjelaskan bahwa jika Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) beriman, itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan adalah orang-orang fasik.
- Konteks Asbabun Nuzul: Ayat ini turun sebagai penegasan keunggulan umat Islam sekaligus bantahan terhadap klaim keunggulan kelompok tertentu.
Ayat ini merupakan motivasi sekaligus peringatan agar umat Islam tidak hanya berbangga diri sebagai umat terbaik, melainkan aktif berbuat kebaikan dan mencegah keburukan agar tetap memenuhi kriteria tersebut
Dengan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, umat Islam tidak hanya menjaga kesalehan pribadi, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan masyarakat yang harmonis dan berlandaskan nilai-nilai kebenaran.
Orang yang melakukan amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran) di tengah fitnah akhir zaman, saat bersabar ibarat menggenggam bara api, akan mendapatkan pahala setara dengan 50 orang sahabat Nabi. Ini merupakan keutamaan besar bagi mereka yang teguh memegang sunnah.
عَنْ اَبِى اُمَيَّةَ الشَّعْبَانِىّ قَالَ: اَتَيْتُ اَبَا ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِىَّ فَقُلْتُ لَهُ كَيْفَ تَصْنَعُ فِى ه?ذِهِ اْلآيَةِ قَالَ: اَيَّةُ آيَةٍ؟ قُلْتُ: قَوْلُهُ: ي??اَيُّهَا الَّذِيْنَ ا?مَنُوْا عَلَيْكُمْ اَنْفُسَكُمْ، لَا يَضُرُّكُمْ مَّنْ ضَلَّ اِذَا اهْتَدَيْتُمْ. قَالَ: اَمَا وَ اللهِ، لَقَدْ سَأَلْتَ عَنْهَا خَبِيْرًا سَأَلْتُ عَنْهَا رَسُوْلَ اللهِ ص، قَالَ: بَلِ ائْتَمِرُوْا بِالْمَعْرُوْفِ وَ تَنَاهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ حَتَّى اِذَا رَأَيْتَ شُحًّا مُطَاعًا وَ هَوًى مُتَّبَعًا وَ دُنْيَا مُؤْثَرَةً وَ اِعْجَابَ كُلّ ذِى رَأْىٍ بِرَأْيِهِ فَعَلَيْكَ بِخَاصَّةِ نَفْسِكَ وَ دَعِ الْعَوَامَّ فَاِنَّ مِنْ وَرَائِكُمْ اَيَّامًا الصَّبْرُ فِيْهِنَّ مِثْلُ الْقَبْضِ عَلَى الْجَمْرِ، لِلْعَامِلِ فِيْهِنَّ مِثْلُ اَجْرِ خَمْسِيْنَ رَجُلًا يَعْمَلُوْنَ مِثْلَ عَمَلِكُمْ. قَالَ عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُبَارَكِ: وَزَادَنِى غَيْرُ عُتْبَةَ، قِيلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اَجْرُ خَمْسِيْنَ رَجُلًا مِنَّا اَوْ مِنْهُمْ؟ قَالَ: لَا، بَلْ اَجْرُ خَمْسِيْنَ مِنْكُمْ. الترمذى 4: 323، رقم: 5051
Dari Abu Umayyah Asy-Sya’baniy, ia berkata : Saya pernah bertanya kepada Abu Tsa’labah Al-Khusyaniy, aku bertanya, “Hai Abu Tsa’labah, bagaimana pendapatmu tentang ayat ini ?”. Abu Tsa’labah balik bertanya, “Ayat yang mana?”. Aku berkata, “Yaitu firman Allah Ta’aalaa “Yaa ayyuhalladziina aamanuu ‘alaikum anfusakum laa yadlurrukum man dlolla idzahtadaitum” – Al-Maaidah : 105”.
Abu Tsa’labah berkata, “Demi Allah, sungguh kamu menanyakan sesuatu yang aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah SAW”, beliau bersabda, “Tetapi hendaklah kalian amar ma’ruf dan nahi munkar, sehingga apabila kamu melihat kebakhilan ditaati, hawa nafsu diikuti, keduniaan telah mewarnai, dan orang bangga dengan pendapatnya, maka wajib atasmu (yakni menjaga dirimu), tinggalkanlah keumuman orang, karena akan datang di belakang kalian hari-hari yang sabar pada waktu itu seperti orang yang menggenggam bara api. Bagi orang yang melakukan (amar ma’ruf nahi munkar) di tengah-tengah mereka pada hari itu akan mendapat pahala lima puluh orang yang beramal seperti kalian”. ‘
Abdullah bin Mubarak berkata: Dan menambahkan kepadaku selain ‘Utbah, ada yang bertanya, “Ya Rasulullah, apakah pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka ?”. Beliau menjawab, “Pahala lima puluh orang dari kalian”. [HR. Tirmidzi juz 4, hal. 323, no. 5051]
Poin-Poin Penting Terkait Hadis Tersebut:
- Konteks Waktu: Kondisi ini merujuk pada masa-masa sulit (akhir zaman) di mana konsistensi terhadap ajaran Islam sangat berat, digambarkan seperti memegang bara api.
- Pahala 50 Sahabat: Syaikh Sholih Fauzan al-Fauzan menjelaskan bahwa pahala yang didapat adalah sepadan dengan 50 orang sahabat Nabi, bukan orang awam, karena beratnya rintangan dan ketiadaan penolong.
- Kesabaran dan Ketegaran: Keutamaan ini diperoleh karena mereka teguh di atas kebenaran meskipun dicela, ditentang, dan menghadapi banyak rintangan.
- Dasar Hadis: Hadis ini menunjukkan tingginya keutamaan berpegang pada ajaran Islam di tengah maraknya kemaksiatan.
Hal ini menekankan pentingnya amar ma’ruf nahi munkar sebagai benteng umat. “Maksudnya (pahalanya) sepadan dengan pahala 50 orang sahabat.
Orang yang berpegang pada sunnah pada akhir zaman, saat berbagai fitnah bermunculan, ia tidak mempunyai para penolong. Bahkan kebanyakan manusia menentangnya.. mereka membuatnya cemas, menjelekkannya, dan menyalahkannya. Sehingga ia membutuhkan kesabaran.
Oleh karena itu, ia mendapat pahala yang begitu agung, disebabkan ketegarannya di atas kebenaran saat berbagai fitnah bermunculan dan rintangan begitu banyak..” (*)
