Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, Dr. KH. M. Sholihin Fanani, M.PSDM, menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya membersihkan hati dari kemaksiatan batiniah dan membangkitkan semangat dalam pendidikan.
Pesan tersebut ia sampaikan saat memberikan kuliah subuh dalam rangkaian kegiatan Training of Trainers (TOT) Fasilitator Nasional Pembelajaran yang diselenggarakan oleh Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen PNF) PP Muhammadiyah, pada Kamis (24/7/2025) pagi.
Kegiatan TOT ini berlangsung di Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Provinsi Jawa Timur, Jl. Raya Arhanud, Sekar Putih, Pendem, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, sejak Rabu hingga Ahad (23–27 Juli 2025).
Dalam ceramahnya, Kiai Sholihin mengangkat tema penting yang jarang dikaji secara mendalam: kemaksiatan mendalam.
Dia menjelaskan bahwa kemaksiatan tidak hanya berupa perbuatan fisik yang terlihat (zahir), melainkan juga perilaku batin yang tersembunyi namun memiliki dampak yang luar biasa.
“Kemaksiatan mendalam seperti hasad (iri dengki), khianat, kadzab (dusta), riya’, takabbur (sombong), dan berlebihan adalah bentuk kemaksiatan yang tidak terlihat, namun dampaknya bisa sangat dahsyat bagi kehidupan pribadi maupun sosial,” tegasnya.
Menurutnya, penyakit manusia yang paling berat justru adalah dua hal yang tidak dapat disembuhkan oleh dokter: lupa dan malas.
“Lupa yang disebabkan oleh kemaksiatan, terutama yang bersifat batin, akan menjauhkan seseorang dari kesadaran spiritual dan tanggung jawab sosialnya,” ujar doses Universitas Muhammadiyah (UM Surabaya) ini.
Sedangkan sifat malas, kata Kiai Sholihin, adalah musuh utama dalam pendidikan. Ia mengingatkan bahwa Rasulullah saw sendiri mengajarkan doa khusus agar umatnya terhindar dari sifat ini.
KH Sholihin mengutip doa dari hadis yang diriwayatkan Abu Daud:
“Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazani, wa a’udzubika minal ‘ajzi wal kasali, wa a’udzubika minal bukhli wal jubni, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijal.”
“Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kesusahan dan kedukaan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat kikir dan pengecut, serta dari tekanan utang dan kekuasaan orang lain.”
Dalam konteks pendidikan, lanjutnya, tugas pendidik adalah membangunkan jiwa yang malas, bukan sekadar memberikan pengetahuan kognitif. Pendidikan harus menjadi proses spiritual dan sosial yang membebaskan.
Selain itu, KH Sholihin juga mengutip pandangan Imam Al Ghazali tentang lima hal yang membentuk pribadi yang kuat dan tangguh:
Pertama, agama. Ketauhidan menjadi sumber kekuatan dari dalam diri.

Kedua ilmu. Ilmu yang benar akan membuat seseorang tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang seharusnya dihindari.
Ketiga, lingkungan, Keluarga, sekolah, dan masyarakat memiliki pengaruh besar terhadap pembentukan karakter, terutama peran ibu.
Keempat, kebiasaan (habit). Pendidikan sejatinya adalah pembiasaan yang terus diulang hingga menjadi karakter.
Kelima, konsistensi (istiqomah). Istiqomah adalah lawan dari istirahat. Ia menuntut tanggung jawab dan keteguhan dalam menjalankan amanah, terutama bagi para pemimpin.
“Setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya. Maka istiqomah bukan pilihan, tapi keniscayaan,” ujar Kiai Sholihin.
Tak lupa, dia juga mengajak para peserta TOT untuk memperbanyak dzikir dan kalimat tayyibah, terutama alhamdulillahirabbil ‘alamin dalam setiap aktivitas.
Dia mengingatkan bahwa segala sesuatu adalah atas kehendak Allah, sebagaimana pengakuan dalam rukun iman ke-6 tentang takdir.
“Amantu billahi wa malaikatihi, wa kutubihi, wa rusulihi, wal yaumil akhiri, wa bil qadri khairihi wa syarrihi minallahi ta’ala,” katanya mengutip lengkap rukun iman terakhir.
Pesan yang disampaikan Kiai Sholihin Fanani dalam kuliah subuh tersebut menjadi pengingat kuat bagi para pendidik dan fasilitator bahwa transformasi pendidikan harus dimulai dari dalam diri.
Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan juga upaya membentuk jiwa yang bersih, bersemangat, dan bertanggung jawab dalam membangun peradaban yang lebih baik. (wh)
