Ayat di atas menegaskan, sungguh Allah telah menciptakan banyak di antara jin dan manusia yang, di hari kiamat nanti, akan berada di api neraka. Hal itu karena hati mereka tidak digunakan untuk menembus kebenaran, mata mereka tidak merenungi kekuasaan Tuhan, dan telinga mereka tidak mendengarkan ayat-ayat dan nasihat- nasihat untuk direnungi dan diambil pelajaran.
Mereka layaknya seperti binatang yang tidak menggunakan akal yang diberikan Allah untuk bertadabbur. Bahkan mereka sebenarnya lebih sesat dari binatang. Sebab, binatang dengan instinknya akan selalu mencari kebaikan dan menghindari bahaya, sementara ada manusia malah menolak kebaikan dan kebenaran yang ada. Mereka itu memang orang-orang yang tidak berakal lagi bebal!
Hadirin Sidang Jumat yang dimulyakan Allah
Dengan berbagai fenomena alam saat ini, perpecahan umat menjadi-jadi, memementingkan kelompoknya menjadi tujuan, menganggap kelompok mereka paling benar padahal jauh melenceng dari syariat, pemimpi dzalim semakin terang-terangan menampakkan keangkuhanya, dan munkarot begitu jelas mereka tonjolkan demi ego dan hawa nafsu syetan, sehingga Rasulullah, Muhammad saw mewasiatkan dua hal agar umat tidak semakin terperosok kedalam lubang kehancuran dan kehinaan;
تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ
“Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Al-Qur’an) dan Sunahku.” (HR Al-Hakim).
Secara lugas, manthuq hadis di atas menerangkan semua umat Muhammad bisa menjadikan keduanya sebagai petunjuk agar tidak tersesat selamanya, dengan syarat mereka ber-tamassuk pada keduanya.
Menurut Mu’jam al-Ghaniy, lafaz at-tamassuk semakna dengan al-i’tisham yakni berpegang teguh dan mengenggam kuat agar tidak terlepas. Maka, memaknai hadis di atas bisa dilakukan dengan merujuk penjelasan mufassir tentang ayat I’tisham. Di antaranya di dalam QS Ali ‘Imran : 103:
وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara keseluruhan, dan janganlah kamu bercerai berai.”
Menurut Imam Baidhawi tali Allah adalah agama Islam atau kitab-Nya. Jadi, berpegang teguh pada tali Allah berarti berpedoman hidup pada Al-Qur’an. Ini berdasarkan sabda Rasulullah saw:
“Aku tinggalkan di antara kalian kitab Allah. Ia adalah tali Allah. Barang siapa yang mengikutinya, niscaya berada atas petunjuk hidayah. Barang siapa yang meninggalkannya, niscaya tersesat.” (HR Ibn Abi Syaibah dan Ibn Hibban).
Selanjutnya lafaz jami’an, pada ayat tersebut juga memerintahkan agar sikap teguh berpedoman hidup pada Kitabullah dilakukan secara keseluruhan. Maknanya, Al-Qur’an tidak boleh diambil sebagian dan ditinggalkan sebagian lainnya.
Demikian juga, harus diambil pedoman dari seluruh hadis yang menjabarkan dan mencontohkan secara nyata isi Al-Qur’an. Jangan sampai syariat dipakai untuk hal yang dianggap menguntungkan dan syariat disingkirkan saat dianggap mengancam kedudukan dan kemaslahatan diri dan kelompoknya.
Hadirin Sidang Jumat yang dimulyakan Allah
Sebagai akhir dari Khutbah ini saya mengajak:
1. Berkomitmen dengan sekuat tenaga untuk berpegang teguh kepada al-Qur’an dan sunah Rasulullah saw. Seraya meneladani dan menerapkan Akhlkul Karimah Rasulullah Muhammad saw.
2. Sebagai seorang muslim yang berpegang teguh kepada Al-Qur’an kita harus melaksanakan ibadah karena Al-Qur’an berisikan tuntunan yang berkaitan dengan ibadah, yakni shalat, puasa, zakat, haji dan lain sebagainya.
3. Sebagai seorang muslim yang mendapatkan amanah sebagai Pemimpin, Pejabat, Imam atau sejenis wajib hukumnya berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan sunah agar segala kebijakan dan keputusan yang diambil membawa kemaslahatan bagi umat dan harus bergaul dengan sesama dengan baik sebab Al-Qur’an berisi tuntunan yang berkaitan dengan amal perbuatan manusia dalam masyarakat dalam berbagai aspek kehidupan.
4. Sebagai seorang muslim selalu meningkatkan ketaqwaannya kepada Allah Swt setiap saat.
Demikianlah khutbah yang bisa kami sampaikan, Mudah-mudahan kita selalu berpegang teguh dengan Al-Qur’an serta selalu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup yang akan menjadi panduan berbagai aspek kehidupan kita.
Semoga Allah senantiasa meridloi ikhtiyar dan langkah kita dalam menjaga agama Allah sehingga kita akan Istiqomah dengan segala perintah dan larangannya. Amin ya rabbal alamin. (*)
Untuk mendapatkan update cepat silakan berlangganan di Google News
