Khotbah Jum’at: Hati Menuju Cahaya Ilahi

*) Oleh : Afifun Nidlom, S.Ag., M.Pd., M.H.
Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jawa Timur; Dosen Umsida
www.majelistabligh.id -

Menuju Cahaya Ilahi

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالتَّقْوَى. أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ يُحْسِنُ لِلْمُتَّقِيْنَ الْعُقْبَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى أَيْضًا، يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Membersihkan hati dari cinta dunia, menumbuhkan cinta kepada Allah, menjaga kedekatan, dan memahami kondisi hati kita sendiri membutuhkan proses yang panjang. Tanpa hati yang bersih, ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa cahaya. Futuhat al-Qalbu; penaklukan hati adalah suatu proses spiritual ketika hati dibukakan oleh Allah SWT untuk menerima cahaya-Nya, memahami agama, dan berjalan di atas jalan kebenaran.

Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridaan Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sungguh Allah bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut/29: 69)

Rasulullah shallahu ‘alayhi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

“Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, maka Dia akan memberinya pemahaman tentang agama.” (Muttafaqqun ‘Alaih).

Imam Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah at-Tuwayjiriy –Dosen Universitas Imam Muhammad bin Saud al-Islamiyah di Riyadl KSA, pengarang buku “Mausu’ah Fiqh al-Qulub” mencantumkan dalil di atas sebagai pondasi futuhat al-qalbu, ketika hati diuji, dibersihkan, dan dibukakan oleh Allah untuk menerima cahaya-Nya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Para ulama membuat kelasifikasi hati kita menjadi 3. Yaitu hati yang selamat (qalbun saliim), hati yang mati (qalbun mayyit) dan hati yang sakit (qalbun saqiim).

Hati yang bersih adalah hati yang pemiliknya selalu membersihkan dari perbuatan syirik dalam akidahnya, beribadah dengan tekun dalam kesendirian ataupun di tengah keramaian, dalam interaksi sesama mahluk Allah ia menyelamatkan dan memberikan kondisi aman.

Pemilik hati ini Allah SWT menjamin keamanannya nanti di akhirat, firman-Nya;

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, Kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy Syu’ara/26: 88-89).

Hati yang mati adalah hati yang dikunci oleh kesombongan hingga tidak dapat menerima kebenaran. Meskipun telah jelas Allah nampakkan di hadapannya. Inilah hati orang-orang yang kufur atas hidayah Allah SWT. Hati ini jauh dari cahaya, dekat dengan murka. Wa iyyadzubillahi min dzalik (mohon dijauhkan memiliki hati itu).

Sedangkan hati yang sakit adalah hati yang masih hidup dengan iman tetapi penuh penyakit riya, dengki, syahwat, dan keraguan. Hati ini dapat sembuh dengan ilmu, zikir, dan taubat. Oleh karena itu penting masing-masing kita muhasabah posisi hati kita, agar kita selalu mencari ilmu, zikir dan bertaubat untuk hati kita mencapai hati yang selamat (qalbun saliim).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Para ulama menegaskan bahwa hati manusia bersikap terhadap kebenaran itu terkategorikan menjadi dua; yaitu hati yang menyambut kebenaran, hati yang Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan akhirat. Dan, hati yang menentang kebenaran, penentangan kebenarang dapat berupa kebohongan, meremehkan orang lain. Penentangan kepada kebenaran yang paling berat adalah kekafiran kepada Allah SWT.

Allah menegaskan:

الَّذِينَ كَفَرُوا وَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ زِدْنَاهُمْ عَذَابًا فَوْقَ الْعَذَابِ بِمَا كَانُوا يُفْسِدُونَ

“Orang-orang yang kafir dan menghalangi (manusia) dari jalan Allah, Kami tambahkan kepada mereka siksaan di atas siksaan disebabkan mereka selalu berbuat kerusakan.” (QS. An-Nahl/16: 88).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Jalan penaklukan hati harus dijalani bagi setiap muslim yang mendambakan hatinya menjadi hati yang selamat (qalbun salim). Hati yang mengantarkan pada ketenangan dan ketentraman jiwa. Diantara ikhtiyar itu adalah:

  1. Menaklukkan Diri dari Cinta Duniawi

Jamaah yang berbahagia, kemenangan pertama hati adalah ketika ia terlepas dari belenggu cinta dunia. Hati yang terikat pada akhirat akan mudah digerakkan untuk mengetahui apa yang diridai Allah dan menjauhi apa yang dimurkai-Nya.

Ketika seseorang mencapai keadaan ini, Allah membukakan pintu keintiman dan ketenangan. Ia menemukan kenikmatan dalam kesunyian, dalam zikir, dan dalam ibadah yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.

Kelezatan ibadah itu memenuhi rongga hati, menggeser senda gurau dan syahwat yang dulu mendominasi. Bahkan, mendengarkan kalam Allah menjadi kelezatan tersendiri, menenangkan hati bak bayi yang direngkuh kasih sayang. Dan, tanda pertama hati yang sudah tersentuh cahaya Allah adalah rasa malu. Malu kepada Allah membuatnya selalu menjaga diri, menjaga ibadah, dan menjaga hati agar tetap bercahaya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

  1. Membangun Kedekatan kepada Allah

Jamaah sekalian, ketika cinta kepada Allah semakin kuat, lahirlah kedekatan (qurb). Seorang hamba merasa seakan Allah menyaksikan setiap gerak-geriknya. Hati merasakan pengawasan Allah tanpa jeda. Kondisi hati sesorang yang demikian sebagai karunia yang Allah berikan. Sebagaimana Firman-Nya:

ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang menghendaki dan Allah lah Pemilik karunia yang besar.” (QS. Al-Jumu’ah/62: 4).

Rasulullah SAW menceritakan di akhirat nanti surga memiliki tingkatan-tingkatan fasilitasnya, kedudukan hamba-hamba yang hatinya memiliki kedekatan kepada Allah kelak bersama para Nabi dan Rasul.

إِنَّ أهْلَ الْجَنَّةِ لَيَتَرَاءَوْنَ أهْلَ الْغُرَفِ مِنْ فَوْقِهِمْ، كَمَا تَتَرَاءَوْنَ الْكَوْكَبَ الدُّرِّيَّ الْغَابِرَ مِنَ الأفُقِ مِنَ الْمَشْرِقِ أوِ الْمَغْرِبِ، لِتَفَاضُلِ مَا بَيْنَهُمْ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ! تِلْكَ مَنَازِلُ الأنْبِيَاءِ، لا يَبْلُغُهَا غَيْرُهُمْ، قَالَ: بَلَى وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، رِجَالٌ آمَنُوا بِاللهِ وَصَدَّقُوا الْمُرْسَلِينَ

“Para penghuni surga akan melihat para penghuni kamar-kamar atas mereka, sebagaimana kalian melihat bintang yang terang benderang di ufuk, baik di timur maupun di barat, karena perbedaan derajat mereka. Mereka berkata: “Wahai Rasulullah, itu kah tempat tinggal para nabi, yang tidak seorang pun dapat mencapainya?.” Beliau menjawab: “Benar, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, (juga bagi) mereka orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan kebenaran para rasul.” (HR. Muttafaqqun ‘Alayh).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Kita dapat mencapai tingkatan bersama para nabi dan rasul, oleh sebab sikap kita dalam beriman dan membenarkan para rasul. Ini lah buah cinta kepada Allah dan mengikuti Rasulullah. Sebagaimana yang Allah janjikan;

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah (Muhammad): “Jika kalian (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ali Imran/3: 31).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Hati manusia tidaklah sama. Al-Qur’an menjelaskan beberapa kondisi hati yang menentukan arah hidup seseorang. Allah mengingatkan kepada orang mukmin untuk selalu muhasabah (menghitung-hitung) posisi hatinya. Sebagaimana firman-Nya:

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalu lah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS. Al-Hadid/57: 16).

Dan Allah menyindir setiap mukmin untuk sadar posisi hatinya, jangan sampai bersikap abai. Allah mengungkapkan bahwa hati manusia yang keras itu dapat melampaui kerasnya batu. Padahal diantara batu yang keras itu terdapat mata air yang jernih yang bermanfaat bagi mahluk Allah lainnya.

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُمْ مِنْ بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الْأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاءُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air dari padanya dan diantaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-sekali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.” (QS.al-Baqarah/2: 74).

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Semoga Allah membukakan hati kita dengan cahaya-Nya, melembutkannya, dan menuntun kita menuju derajat orang-orang yang dicintai-Nya. Amin.

باَرَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيّاكُمْ بِالْآياتِ وذِكْرِ الحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا وَاسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَا فَوْزَ الْمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَانَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.

Khutbah kedua,

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيْرًا مُبَارَكًا طَيِّبًا فِيْهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللَّهِ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى: يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا اتَّقُوْا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَقَالَ تَعَالَى أَيْضًا، إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.  سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ.

Tinggalkan Balasan

Search