Alangkah hancurnya suatu Negeri yang baik, apabila ilmu ulama’nya, cerdik pandainya sudah dipenuhi hati hasad. Kemajuan tehnik bukan merupakan alat untuk melindungi manusia, tetapi sebaliknya, pemusnah manusia.
Hari ini diorbitkan, hari esok dijatuhkan, karena antara yang pro dan yang kontra, berusaha saling menjatuhkan.
Alangkah rusaknya suatu Negeri Yang Baik apabila عدل الآمراء nya dlolim. Yang dekat itulah yang diangkat walaupun tidak mempunyai jiwa pemimpin, apalagi bukan bidangnya. Pemerasan, korupsi, pungli, yang kata anak sekarang “Susu tante” (Sumbangan Suka Rela Tanpa Tekanan), komerialisasi jabatan dan sebagainya bersimaharejalela. Maka timbullah falsafah “Uang adalah Kuasa”, Aji mumpung dan sebagainya.
Alangkah gersangnya suatu Negeri yang baik, apabila عبادة العباد nya sudah riya, asal bapak senang. Kata orang jawa “Kucing—Kucing diraupi”, main kecap-kecapan, mentereng-menterengan, sedangkan tubuhnya tidak berkerangka, tidak sesuai antara senyum dan hatinya, telunjuk menunjuk kelingking mengait.
Alangkah hancurnya suatu Negeri yang baik, apabila pedagangnya, pedagang yang khiyanat. Hancurlah susunan ekonomi-moneter. Jurang pemisah antara si the have dan have not, makin menganga.
Alangkah rusaknya suatu Negeri yang baik, apabila kaum pekerjanya, karyawannya sudah ingkar kepada Allah. Demoralisasi merata dimana-mana, baik kaum elit maupun kaum bawahan.
Alangkah hancurnya suatu negeri yang Baik, apabila hasad sudah merajalela, ked;o;iman sudah merupakan baju kebesaran para penguasa, riya, munafik sudah merupakan karakter ummat yang membudaya. Khiyanat, culas sudah merupakan kewajaran bagi pedagang dan saudagar, serta kufur, ingkar sudah menjangkiti rakyat pendukung daulah tersebut.
Jamaah Jumat Rahimakumullah
Allah mengisyaratkan dalam firman-Nya:
ولو ان اهل القرى امنوا واتقوا لفتحنا عليهم بركت من السماء والآرض (الآعراف 7: 96)
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi” (QS. Al-A’raf 7: 96).
Inilah “Baldatun Thayyibatun (Negeri Yang Baik)”, Baldah Thayyibah, Bub’ah Mubarakah, Qariyah Hasanah dan sebagainya dengan:
علم العلماء, عدل الآمراء, عبادة العباد, امانة التجار, نصيحة المخترفين
Sebagai soko gurunya, sebagai penunjang tegak teguhnya suatu daulah atau Negeri yang baik. Tetapi kalau berperilaku sebaliknya:
ولكن كذبوا فأخذناهم بما كانوا يكسبون (الآعراف 7: 96)
“Akan tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan” (QS. Al-A’raf 7: 96).
Dan inilah pula daulah syaithoniyah, dengan : حسد, جائر, رياء, خيانة, كفر sebagai soko gurunya.
Alangkah berbedanya dua daulah tersebut, yang satu penuh maghfirah dan satunya lagi penuh dengan dhalalah.
Rasulullah saw pernah pula menggambarkan sebuah Negara dengan sebuah kapal.Di dalam negeri yang baik atau Baldatun Thayyibatun, dengan lima soko guru tersebut, bagaikan kapal yang laju jalannya.
Di dalamnya terdapat under standing, saling pengertian antara kapten dan anak kapal, antara pengemudi dan para penumpang, maka sabda Nabi Muhammad saw : نجوا ونجوا جميعا Selamat dan selamatlah semuanya. Selamat sampai di pantai kebahagiaan.
بلدة طيبة ورب غفور (سيأ 34: 15)
“(Negerimu) adalah negeri yang baik (nyaman) sedang (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. Saba’ 34: 15).
Tetapi dalam Negeri Syaithoniyah, Baldah Sayyiah, dengan lima soko gurunya pula, bagaikan kapal yang oleng jalannya, bahkan tenggelam,karena tidak adanya under standing antara kapten dan awak kapal, antara pengemudi dan para penumpang.
Terjadilah sikap apatis – masa bodoh di dalamnya, sehingga apabila yang dibawa butuh air, tidak mau sulit-sulit naik keatas, tetapi cukup dengan melobangi dinding kapal. Maka sabda Rasulullah saw:
هلكوا وهلكوا جميعا
Binasa dan binasalah semuanya. Kapal tenggelam sebelum sampai diselam sebelum sampai diseberang. Semua binasa, inklusif – termasuk kapten, awak kapal dan penumpang. Nah, sekarang marilah kita lihat dengan seksama kapal kita ini.
