Khotbah Jumat: Muhasabah Sebelum Hijrah 

*) Oleh : Afifun Nidlom, S.Ag, M.Pd, MH.
Wakil Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur
www.majelistabligh.id -

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ اْلإِسْلاَمِ وَالتَّقْوَى، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ يُحْسِنُ لِلْمُتَّقِيْنَ الْعُقْبَى. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ. وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنْ وَالاَهُ. أَمَّا بَعْدُ: فَيَا مَعَاشِرَ الْمُسْلِمِيْنَ رَحِمَكُمُ اللهِ. إِتَّقُوْا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Marilah kita merenung, menengok perjalanan kita kemarin dan mengevaluasi kekurangan-kekurang kita dalam mendekatkan diri kepada Allah. Karena pergantian tahun Hijriyah (kalender Islam) terkait dengan peristiwa hijrah yang sangat penting dalam kehidupan agama Islam.

Mungkin ada baiknya, menyongsong Tahun Baru dengan mengingat firman Allah Swt dalam surat Al Anbiya’ 47,

وَنَضَعُ الْمَوَازِينَ الْقِسْطَ لِيَوْمِ الْقِيَامَةِ فَلاَ تُظْلَمُ نَفْسٌ شَيْئًا وَإِنْ كَانَ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ أَتَيْنَا بِهَا وَكَفَى بِنَا حَاسِبِينَ

“Kami akan memasang timbangan (neraca) yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika (amalan itu) hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan (pahalanya). Dan cukuplah Kami membuat perhitungan.” (QS Al-Anbiya’ 47).

Karena datangnya tahun baru akibat tahun lama berlalu atau berakhir. Kata lain, kiamat. Maka, yang seharusnya dilakukan setiap individu adalah membuat renungan dan perhitungan menghadapi hari akhir. Apa amal baik yang telah dilakukan selama ini? Berapa banyak, khususnya kalau ditimbang dengan perbuatan buruknya?. Hasil akhirnya apakah ketakwaan kita meningkat atau malah menurun ?

Dalam kehidupan bisnis, berakhirnya masa 1 tahun biasanya diikuti evaluasi dan perhitungan-perhitungan. Kemudian dibuat neraca laba rugi untuk dianalisa dalam rangka penyusunan program masa depan. Pos-pos apa yang sekira menjadi beban, diperhatikan untuk diperbaiki. Sebaliknya pos-pos yang memberi hasil besar diupayakan untuk ditingkatkan. Minimal dipertahankan atau tidak sampai menurun..

Dalam kehidupan agama, yang lebih baik tentu mendekatkan diri kepada Allah Swt. Itulah perlunya kita setiap kali membuat perhitungan dan semacam “neraca”. Agar kita dapat mengevaluasi ketakwaaan kita, yaitu amal baik dibandingkan amal jeleknya. Apakah ketakwaan kita terjaga? Alhamdulillah bila meningkat.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Salah satu kewajiban umat Islam adalah shalat. Saatnya kita mengevaluasi, sudahkah kita dalam tahun ini mengerjakan dengan baik?. Atau bolong-bolong dalam mengerjakan. Bagaimana aspek pengerjaannya? masih sesukanya, lalai menaati ketentuan waktu, berpakaian sembarangan ataukah disiplin dan tuma’ninah?.

Demikian pula kewajiban yang lainnya, seperti menuntut ilmu. Apakah telah kita laksanakan?. Dari ilmu lah –terutama ilmu al-dien, kita dapat mengerti ketentuan-ketentuan dalam beragama. Kalau orang Islam tahu tentang ketentuan agamanya, ia tidak mungkin ikut saja karena orang banyak melakukan. Seperti hura-hura meniup trompet, menyalakan kembang api, melakukan “tapa mbisu” atau “kungkum” untuk memperingati 1 Suro (Muharram).

Mengikuti kirab kerbau “Kyai Slamet” (di Solo) dan mengambil berkah dari kotorannya. Lebih heboh lagi, beramai-ramai ziarah ke makam P. Samodra di gunung Kemukus (Sragen) dan melakukan ritual yang aneh. Banyak orang beranggapan, kalau ingin usahanya sukses, di makam itu harus menggauli bukan isteri atau suaminya sendiri. Masya Allah, waiyyadzubillahi min dzalik.

Agar Islam kita kaaffah (sempurna), kita melakukan peningkatan sedikit demi sedikit. Dimulai dari yang paling penting (wajib) hingga sunnah. Untuk yang dihindari, dari mulai yang haram hingga makruh. Jangan sampai neracanya di hari Kiamat ‘njomplang’. Berat ke perbuatan maksiat, meskipun dari perbuatan kecil sebiji sawi tetapi terkumpul sangat banyak. Jangan sampai kita menyesal dihari kiamat seperti gambaran dalam Qur’an sebagai berikut:

وَوُضِعَ الْكِتَابُ فَتَرَى الْمُجْرِمِينَ مُشْفِقِينَ مِمَّا فِيهِ وَيَقُولُونَ يَاوَيْلَتَنَا مَالِ هَذَا الْكِتَابِ لاَ يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلاَ كَبِيرَةً إِلاَّ أَحْصَاهَا وَوَجَدُوا مَا عَمِلُوا حَاضِرًا وَلاَ يَظْلِمُ رَبُّكَ أَحَدًا

“Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, “Aduh celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhan-mu tidak menganiaya seorang jua pun.” (Al Kahfi 49).

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Allah SWT telah berfirman:

وَالْعَصْرِ إِنَّ اْلإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلاَّ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasehati untuk kebenaran dan saling menasehati untuk kesabaran” (Al-‘Asr/103 ayat 1-3).

Jadi, secara umum manusia semua rugi. Pertama, manusia yang tidak beriman. Kedua, tidak beramal saleh. Ketiga, tidak menasehati untuk kebenaran. Keempat, tidak menasehati untuk kesabaran atau dengan sabar.

Surat Al Asr sangat pendek. Tentunya semua orang Islam telah membacanya. Bahkan berkali-kali. Mungkin pada saat shalat, agar shalatnya tidak lama. Namun sayangnya, setiap membaca tidak dipahami dan direnungkan. Maka, minimal dalam penggantian tahun ini melakukan perenungan dan membuat catatan. Selanjutnya melakukan perhitungan (muhasabah) tentang perbuatan baik dan buruknya selama ini. Dengan sistem seperti neraca, akan nampak hasil akhir apakah seseorang hidupnya rugi atau untung.

Muhasabah (menginstrospeksi diri) ada dua macam, sebelum beramal dan sesudahnya. Muhasabah sebelum beramal yaitu hendaknya seseorang berhenti sejenak, merenung di saat pertama munculnya keinginan untuk melakukan sesuatu. Tidak tergesa-gesa mengerjakan sampai benar-benar jelas baginya bahwa melakukannya lebih baik daripada meninggalkannya.

Muhasabah sesudah beramal itu ada tiga: (1). Introspeksi diri atas berbagai ketaatan yang telah dilalaikan, seperti hak Allah SWT. Bahwa ia telah melaksanakannya dengan serampangan, tidak semestinya. (2). Introspeksi diri atas setiap amalan yang lebih baik ditinggalkan daripada dikerjakan. (3). Introspeksi diri atas perkara yang mubah, karena apa ia melakukannya. Apakah dalam rangka mengharap Allah SWT dan akhirat, sehingga ia beruntung? Ataukah untuk mengharapkan dunia dan keserbabinasaannya, sehingga ia merugi?

Orang rugi karena berimannya baru di mulut. Belum sampai hati, apalagi menjadi jiwa setiap perbuatannya. Sekarang menjadi trend, saling berebut kedudukan. Sebagai pimpinan partai, sebagai anggota legislatif atau eksekutif. Saat menjabat, melakukan korupsi dan penyelewengan-penyelewengan.

Akibat berbagai penyelewengan, manusia kini banyak yang terkena bencana. Bukan hanya bencana alam yang begitu dahsyat, tetapi banyak bencana lain termasuk berbagai penyakit baru yang menyangkut fisik (HIV/Aids, demam berdarah, flu burung, flu babi dan lain sebagainya) juga penyakit kejiwaan (tidak amanah, suka korupsi, suka kekerasan dan banyak perilaku tercela lain).

Firman Allah memberikan tuntunan :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

“Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum sebelum mereka merubah nasib dirinya sendiri.” (Ar Ra’d/13 ayat 11).

Mengubah diri, pada hakekatnya melakukan hijrah. Meninggalkan suatu perbuatan buruk, beralih kepada perbuatan yang baik. Kalau perbuatan tidak baik karena pengaruh lingkungan setempat, mungkin perlu dipertimbangkan hijrah untuk meninggalkan tempat tersebut. Tetapi sering terjadi, perbuatan yang tidak baik penyebabnya karena tidak adanya kemauan atau upaya untuk melakukan perubahan. Meskipun ia tahu akibatnya yang tidak baik.

Seringkali kebiasaan yang telah kita lakukan, termasuk pesta-pesta atau perbuatan yang tidak terpuji, sulit menghentikannya. Tetapi semua tergantung niatnya. Kalau diniati, dan kemudian dilaksanakan dengan iringan doa yang penuh kesungguhan, insya Allah akan sukses. Semoga.

أَقُولُ قَوْلِى هَذَا وَأَسْتَغْفِرُاللهَ لِي وَلَكُمْ وَلِسَائِرِالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ فَيَافَوْزَالمُسْتَغْفِرِيْنَ وَيَانَجَاةَ التَّائِبِيْنَ.

Khotbah Kedua

اَلْحَمْدُ ِللهِ حَمْدًا كَثِيْرًا مُبَارَكًا طَيِّبًا فِيْهِ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ.
إِنَّ اللهَ وَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيْمًا. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
يَاعِبَادَ اللهِ إِنَّ اللهَ يَأْمُرُكُمْ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِى الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.

Editor : Afifun Nidlom M.Pd. M.H.

Dosen Universitas Muhammadiyah Sidoarjo; Wakil Sekretaris Majelis Tabligh PWM Jawa Timur

Tinggalkan Balasan

Search