Khotbah Jumat: Perjalanan Jiwa Menuju Ketakwaan

Khotbah Jumat: Perjalanan Jiwa Menuju Ketakwaan

Al-Qur’an membagi nafs menjadi beberapa macam yaitu:

1) Nafs ‘Ammārah

Nafs ini mendorong orang untuk melakukan hal-hal yang kurang baik dan melakukan kejahatan sehingga cenderung melanggar aturan-aturan yang dilarang oleh Allah.

Nafs ‘Ammārah disebut juga nafsu biologis yang mendorong manusia untuk melakukan pemuasan kebutuhan biologis.

Orang dengan jiwa seperti ini tidak bisa membedakan yang baik dan yang buruk dan tidak bisa menimbang antara manfaat dan mafsadah.

Firman Allah dalam surat Yusuf ayat 53:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي ۚ إِنَّ النَّفْسَ لَأَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّي ۚ إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Yusuf: 53).

Terdapat beberapa sifat khas dari pemilik nafsu ini yaitu penentang, pemarah, pendendam, kejam, sombong, pendengki, iri hati, tamak, ingkar dan munafik.

Karena sifat-sifat buruk inilah mengapa nafsu ini disebut nafs ‘ammārah karena ia adalah pusat dari segala kesesatan dan kejahatan yang mendorong pemiliknya untuk memuaskan keinginan-keinginan rendah yang bersifat negative.

2) Nafs Lawwāmah

Orang dengan nafs jenis ini penuh dengan rasa insyaf dan menyesal karena sudah melakukan suatu pelanggaran sehingga ia tidak berani melakukan maksiat secara terang-terangan.

Sekalipun ia terkadang berbuat maksiat, namun ia masih berharap agar kejahatannya tidak terulang. Nafs jenis ini terdapat dalam al-Qur’an surat al-Qiyamah:

وَلَا أُقْسِمُ بِالنَّفْسِ اللَّوَّامَةِ

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang amat menyesali (dirinya sendiri).” (QS. al-Qiyamah: 2)

Karakter nafs ini yaitu saleh, bisa mengendalikan diri dan taat dalam mengerjakan ibadah namun terkadang masih terjerumus pada perbuatan dosa karena daya tarik terhadap keburukan lebih kuat daripada kebaikan sehingga masih mudah terkecoh dengan tarikan keburukan tersebut.

3) Nafs Malhamah

Yaitu nafs yang telah memperoleh ilham dari Allah dengan dikaruniai ilmu pengetahuan dan dihiasi oleh akhlak mahmudah.

Orang yang dengan nafs ini akan menghindari semua hal yang berkaitan dengan kejahatan dan cenderung melakukan kebaikan.

Sebagaimana firman Allah:

فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا

“Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya.” (Qs. Al-Syams: 8).

Orang dengan jenis nafs ini masih berpeluang terpengaruh tipu daya. Dia seakan-akan telah mencapai maqam yang tinggi padahal dia masih terjerat dalam godaan setan. Dia penuh dengan keangkuhan sehingga seringkali memuji diri sendiri secara berlebihan.

4) Nafs Muṭmainnah

Nafs jenis keempat ini cenderung kepada kebaikan. Jiwa ini melahirkan sikap dan perbuatan yang baik, jauh dari keraguan dan menghalangi dari perbuatan dosa dan maksiat.

Sebagaimana firman Allah SWT:

يَا أَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ [٢٧]ارْجِعِي إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً [٢٨]فَادْخُلِي فِي عِبَادِي [٢٩] وَادْخُلِي جَنَّتِي [٣٠]

“Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam surga-Ku.” (Qs. Al-Fajr: 27-30)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *