Khotbah Jumat: Pesan Ramadan kepada Para Insan Pencari Nafkah

*) Oleh : Angga Adi Prasetya, S.Pd
Guru SD Muhammadiyah 1 Malang dan Sekbid Dakwah Pemuda Daerah Muhammadiyah Malang
www.majelistabligh.id -

Tetapi perlu diketahui bahwa ada syarat kedekatan yang menentramkan hati-hati imani?

اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ اِذَا دَعَانِۙ
فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ ۝١٨٦

“Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Maka, hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”

Istijabah dan iman. Iman telah kita fahami meski sedikit, walhamdu lillaah. Sedang istijabah bermakna memenuhi serua seruan Allah saat ia memanggil kita menuju kebaikan, keberkahan, dan sesuatu yang membuat kita hidup sebenar hayat.

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَجِيْبُوْا لِلّٰهِ وَلِلرَّسُوْلِ اِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيْكُمْۚ وَاعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ يَحُوْلُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهٖ وَاَنَّهٗٓ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ

“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Allah dan Rasul menyeru kalian kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu. Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dengan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.s. al-Anfaal [8]: 24)

Salah satu seruan yang menghidupkan itu adalah seruan kepada jiwa-jiwa beriman tentang makanan. Ya, tentang makanan. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا کُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْ وَا شْكُرُوْا لِلّٰهِ اِنْ کُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kamu dan bersyukurlah kepada Allah jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 172)

Suatu hari, Kanjeng Nabi membacakan ayat ini kepada para shahabatnya. Keagungan perintah ini, kata beliau Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam, adalah bahwa ia menjadi seruan yang Allah tujukan pada para Rasul-Nya (QS. al-Mukminun [23]: 51), pada orang yang beriman (QS. al-Baqarah [2]: 172), dan juga pada sekalian manusia (QS. al-Baqarah [2]: 168).

Betapa ia meliput semua. Pernah suatu hari, demikian Sang Nabi berkisah, ada seorang musafir kehabisan bekal dalam perjalanannya di tengah pepasir yang membarakan terik. Wajahnya penuh debu, tenaga-nya tinggal sisa-sisa dalam rangkakan yang dipenuhi harap-harap terakhir. Dengan kekuatan terakhir yang dimiliki, diangkatnya kedua lengannya tengadah, “Ya Rabb… Ya Rabb… Ya Rabb….”

Sesungguhnya orang ini memiliki aneka syarat untuk dijawab dan dikabulkan doanya. Catat ini: musafir, bertauhid (hanya berharap pada Allah), dan mengangkat tangannya pada Allah, padahal Allah malu jika ada tangan terangkat berharap padaNya lalu la tak memberi karunia.

Hal-hal yang ada dalam dirinya telah memenuhi kondisi untuk terjawabnya doa. “Tetapi”, kata Sang Nabi, “Bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan, sementara makanan yang ada di perutnya dari barang haram, pakaian yang dipakainya dari barang haram!!!”

Ya, soal makanan adalah soal dijawab atau tidaknya doa kita. Haram atau halalnya, thayyib atau khabitsnya.

Ramadan, dalam makna yang dekat dengan perut, adalah saat kita mampu menjaga makanan kita agar terjaminkan kedekatan agung dengan Allah. Di saat puasa, kita jaga pencernaan kita dari yang halal dan thayyib sejak terbit fajar hingga terbenam nya mentari semata karena mentaati Allah dan mencintaiNya, Maka sungguh ia menjadi cermin, bahwa di luar Ramadan, kita harus menjaganya dari yang syubhat dan yang haram.

Karena sekerat daging yang tumbuh dari barang haram, maka neraka lebih layak baginya. Karena darah yang mengalir dari saripati makanan haram, syaithan berselancar ria di pembuluh pembuluhnya. Karena anggota tubuh yang dialirinya, mudah terresonansi oleh frekuensi kema’shiyatan.

Tergetar hati kita bukan oleh asma Allah, tetapi oleh selainnya. Berdesir jantung kita bukan oleh kalimat-kalimatNya yang suci mulia, tetapi justru oleh huruf, suara, dan rerupa yang menjijikkan nista, betapa setiap tetes barang haram menjauhkan kita dari Allah selautan. Setiap keratnya, menghalangi doa-doa dan komunikasi mesra kita denganNya.

Semoga pesan Ramadhan pada perut kita menggema hingga ke liuk-liuk usus. Allaahumma Innaka ‘Afuwwun, Tuhibbul ‘Afwa Fa’fu ‘Annii…. Di sayup tilawah tadarus malam, proklamasi langit itu menggema, “Adapun puasa itu untukku, dan Aku sendirilah yang akan memberikan pahalanya….” Kapan pun engkau datang. hatiku rindu menyambutmu, “Marhabban Yaa Syahra Rama-dhaan….”

بَارَكَ الله ُلِى وَلَكُمْ فِي اْلقُرْاَنِ اْلعَظِيمِ  وَنَفَعَنِى وَاِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَالذِّكْرِاْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ الله ُمِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ اِنَهُ هُوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمِ

Tinggalkan Balasan

Search