Bekerja dan mengabdi di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) bukan hanya tentang mendapatkan penghasilan, tetapi juga mendatangkan berkah dan rahmat. Pengabdian ini menjadi bentuk investasi amal jariyah yang kelak akan berpahala di akhirat.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr. KH. Saad Ibrahim, dalam acara Tabligh Akbar 2025 sekaligus Milad ke-40 PKU Muhammadiyah Sruweng, yang digelar di Kebumen, Jawa Tengah, pada Ahad (1/6/2026).
Menurut Kiai Saad, begitu sapaan karibnya, berkah adalah kesinambungan dari keselamatan, baik di dunia maupun akhirat.
Maka, memilih Muhammadiyah sebagai wadah pengabdian adalah pilihan tepat karena akan memperoleh balasan ganda: keberkahan duniawi dan pahala ukhrawi.
Oleh karena itu, dia mengingatkan seluruh tenaga penggerak, baik di ranah rumah sakit maupun institusi pendidikan Muhammadiyah, agar tidak berkecil hati dengan tugas dan jabatan apa pun yang diemban.
“Segala bentuk amal yang dilakukan di Muhammadiyah tidak akan pernah sia-sia. Allah menjaminnya,” tegas Kiai Saad.
Terkait isu kesehatan, Kiai Saad mengajak umat untuk tidak hanya berfokus pada ayat 80 dari Surat Asy-Syu’ara yang sering tertulis di dinding rumah sakit Muhammadiyah, tetapi juga menelaah dua ayat sebelumnya.
Dia menyoroti ayat 79: “Dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku.” Menurutnya, ayat ini menunjukkan bahwa pola makan sangat berperan dalam menjaga kesehatan fisik.
“Kalau kita hubungkan, maka salah satu penyebab utama penyakit berasal dari cara kita memperlakukan tubuh kita,” jelasnya.
Selanjutnya, ayat 78 yang berbicara tentang penciptaan manusia juga penting untuk dipahami. Dalam karya klasik Al-Qanun fi al-Thibb karya Ibnu Sina, ayat ini dikaitkan dengan aspek psikis atau ruhani manusia.
Dengan demikian, Kiai Saad menyimpulkan bahwa penyakit bisa bersumber dari dua hal: pola makan yang buruk (fisik) dan gangguan jiwa atau spiritual (psikis). (*/wh)
