Angin padang pasir menyambut lembut di Bandara Amir Muhammad Bin Abdul Aziz, Ahad, 4 Mei 2025. Di tengah riuh rendah jemaah haji yang tiba dari Indonesia, seorang perempuan lansia melangkah perlahan, menggenggam erat tangan petugas yang menuntunnya.
Namanya, Partinem Kasijo, seorang jemaah haji asal Tangerang Selatan. Dia tak bisa melihat dunia seperti kebanyakan orang. Tapi, semangatnya menembus batas-batas kegelapan itu.
Ketika rombongan jemaah turun dari pesawat, Partinem tampak tenang. Meski matanya tak menangkap cahaya, hatinya seolah diterangi cahaya suci Madinah. Dia menyatu dengan hiruk pikuk rombongan, namun tetap dalam keheningan batinnya sendiri. Di dalam bus yang mengantar ke hotel, Partinem duduk tenang sambil mengusap air matanya.
“Alhamdulillah, senang sekali,” ucapnya lirih, namun penuh getar rasa syukur, ditemui Afifun Nidlom, redaktur pelaksana Majelistabligh.id, di Madinah pada Senin (5/6/2025).
Perjalanan Partinem ke Tanah Suci bukanlah perjalanan biasa. Ia adalah penyandang disabilitas penglihatan yang telah lama menyimpan mimpi menunaikan ibadah haji. Mimpi itu tak pernah padam, bahkan ketika usianya kian menua dan matanya tak lagi mampu melihat dunia.
Tak sedikit orang yang mempertanyakan: mungkinkah orang seperti Partinem menunaikan haji, ibadah yang membutuhkan mobilitas tinggi dan orientasi ruang yang jelas?
Namun Partinem menjawab dengan tindakan. Dia berangkat. Dia hadir. Dia melangkah. Bukan karena tubuhnya kuat, tapi karena niatnya tak bisa digoyahkan.
Beruntung, pemerintah Indonesia melalui Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi telah menyiapkan berbagai fasilitas khusus bagi jemaah disabilitas. Dari transportasi yang ramah disabilitas hingga pendampingan selama ibadah, semuanya dirancang agar siapa pun bisa beribadah dengan aman dan nyaman.
Petugas haji di Daerah Kerja (Daker) Bandara Madinah yang menyambut Partinem menyebutnya sebagai sumber inspirasi. “Mata boleh gelap, tapi semangatnya membara,” kata seorang petugas.
Para jemaah lainnya pun tersentuh. Mereka yang tadinya merasa lelah dan khawatir, mendadak malu pada diri sendiri ketika melihat sosok perempuan tua yang tak bisa melihat, namun begitu tabah dan bersemangat.
Bagi Partinem, Tanah Suci bukan soal melihat Ka’bah atau menatap Masjid Nabawi. Dia melihat semuanya dengan hati. Dia mendengar gema azan, merasakan kelembutan sajadah, dan mencium wangi zamzam dengan penuh kesadaran spiritual.
Setiap langkahnya, setiap doa yang meluncur dari bibirnya, adalah perjalanan batin yang dalam. Mungkin, dalam banyak hal, Partinem bahkan lebih “melihat” daripada mereka yang diberi penglihatan.
Ibadah haji, dalam esensinya, memang bukan soal fisik semata. Ia adalah perjalanan ruhani, perjalanan kepasrahan total kepada Sang Khalik. Dalam sunyi yang dialami Partinem, justru terdengar gema yang nyaring: bahwa haji adalah milik semua orang, termasuk mereka yang secara fisik tampak tak sempurna.
Partinem bukan hanya menjalankan ibadah untuk dirinya sendiri. Ia membawa pesan: bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya. Ia menjadi simbol harapan bagi penyandang disabilitas di seluruh Indonesia, bahwa Tanah Suci terbuka bagi siapa pun yang merindukannya.
Ratusan jemaah haji berkebutuhan khusus diberangkatkan tahun ini. Namun kisah Partinem menjadi sorotan karena kekuatan batinnya. Ia tak bersuara lantang, namun kehadirannya menyentuh banyak hati. Ia tak melihat, tapi dialah yang menunjukkan jalan bagi banyak orang.
Ketika malam tiba di Madinah dan lampu-lampu menyala di sekitar Masjid Nabawi, Partinem duduk di kamarnya, memegang tasbih. Tak ada kegelisahan di wajahnya. Ia telah tiba. Bukan karena ia bisa melihat jalan ke sana, tapi karena hatinya dituntun oleh cahaya keyakinan.
Kisah Partinem bukan hanya tentang keberangkatan fisik menuju Tanah Suci, melainkan keberangkatan jiwa menuju kedekatan sejati dengan Tuhan. Di dunia yang sering menilai dari apa yang tampak, Partinem membuktikan bahwa yang tak tampak pun bisa menjadi cahaya bagi banyak orang. (*)
