Wajah Tuhamah (68) bersinar di bawah matahari Madinah yang hangat. Langkahnya perlahan, namun pasti. Menapaki tanah yang telah 13 tahun ia rindukan. Setelah menunggu lebih dari satu dekade, perempuan asal Jakarta Utara itu, akhirnya tiba di Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji. Sebuah perjalanan spiritual yang selama ini hanya bisa ia panjatkan dalam doa-doa panjang setiap malam.
“Senang akhirnya bisa sampai ke sini. Sehat, alhamdulillah. Tiga belas tahun saya menunggu,” ucapnya lirih, namun penuh kebahagiaan kepada Afifun Nidlom, redaktur pelaksana, Majelistabligh.id, di Madinah, pada Jumat (2/5/2025).
Saat pertama kali mendaftarkan diri untuk berhaji, Tuhamah masih dalam kondisi fisik yang bugar. Waktu itu usianya baru menginjak pertengahan 50-an. Kini, di usia senja, Tuhamah mengakui bahwa tubuhnya lebih mudah lelah. Namun, semangat dan rasa syukurnya tak luntur sedikit pun.
“Harapannya bisa tetap sehat dan semua rangkaian ibadahnya berjalan lancar,” tambahnya, sembari memandang Masjid Nabawi dari kejauhan—masjid yang kini hanya berjarak beberapa menit dari tempatnya menginap.
Tuhamah bukan satu-satunya yang merasakan keharuan mendalam. Suja’i (65), jemaah haji lain dari Jakarta Utara, juga menunggu selama 13 tahun sebelum akhirnya bisa menapakkan kaki di Madinah. Berangkat seorang diri, Suja’i menyebut keberangkatan ini sebagai momen bersejarah dalam hidupnya.
“Senang bisa sampai sini, kondisi sehat. Daftar haji sudah 13 tahun lalu, dan baru sekarang dipanggil Allah,” ujarnya, mata berkaca-kaca.
Kisah Tuhamah dan Suja’i hanyalah dua dari ribuan cerita yang menghiasi keberangkatan jemaah haji Indonesia tahun ini.
Dalam gelombang pertama yang dimulai pada 2 Mei 2025, sebanyak 19 kelompok terbang (kloter) diberangkatkan dari berbagai daerah di Indonesia menuju Madinah. Mereka akan lebih dahulu melaksanakan ibadah di Kota Nabi sebelum melanjutkan perjalanan ke Makkah untuk menjalani puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina.
Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) mendapat kuota sebesar 221.000 jemaah haji tahun ini, dengan 203.320 di antaranya berasal dari jalur reguler. Keberangkatan dibagi dalam dua gelombang: gelombang pertama menuju Madinah dari 2 hingga 16 Mei, dan gelombang kedua langsung ke Jeddah mulai 17 hingga 31 Mei.
Bagi para jemaah, menunggu belasan tahun untuk bisa berhaji bukanlah hal mudah. Banyak dari mereka yang sempat kehilangan pasangan hidup, mengalami perubahan kondisi ekonomi, atau melewati fase-fase berat dalam hidup. Namun, semuanya seolah sirna begitu kaki menginjak tanah suci.
Tuhamah, yang kini menjadi nenek dari sembilan cucu, mengaku semangatnya bertambah ketika tahu hotel tempatnya menginap sangat dekat dengan Masjid Nabawi. Ia bertekad menjalani setiap tahapan ibadah haji dengan semangat dan ketulusan hati.
“Kalau bisa, saya ingin salat di Masjid Nabawi setiap waktu. Walau kaki suka pegal, tapi ini semua untuk Allah,” ujarnya sambil tersenyum.
Bagi Tuhamah dan ribuan jemaah lainnya, haji bukan sekadar perjalanan fisik, tapi juga perjalanan jiwa. Sebuah momentum pertemuan dengan Tuhan yang telah mereka nantikan sepanjang hidup.
Penantian panjang itu kini terjawab. Dan, mereka pun siap mengukir bab penting dalam lembar kehidupannya—di Tanah Suci, tempat segala doa menemukan arah. (*)
