Kita Butuh Nasihat

*) Oleh : Dr. Ajang Kusmana
Pengajar Mata Kuliah AIK UMM
www.majelistabligh.id -

Saling menasihati antar sesama adalah bentuk cinta, agar kita tetap on the track di jalan Allah. Saling mengingatkan itu benar dan bahkan dianjurkan.

Namun yang perlu dijaga adalah caranya. Nasihat yang disampaikan dengan keras, kasar, apalagi sampai menyakiti hati, justru bisa mematikan kebaikan yang ingin disampaikan. Bahkan Allah memerintahkan Nabi Musa ‘alaihissalam untuk menasihati Fir’aun (penguasa paling zalim) dengan kata-kata yang lemah lembut

Allah berfirman:

اذْهَبَا إِلَى فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَى ْ فَقُولَا لَهُ قَوْلاً لَّيِّناً لَّعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [At-Thoha:43-44]

Lalu bagaimana mungkin kita bersikap kasar kepada teman kita sendiri?

Pernah ada yang bertanya kepada imam Ahmad, “Wahai imam, bolehkah aku menegurmu dengan keras?”

Jawab imam Ahmad, ”Engkau bukan Musa dan aku bukan Fir’aun,”

Maka nasihat itu sejatinya bukan tentang merasa paling benar, tapi tentang bagaimana kebenaran itu sampai ke hati

Dan jangan lupa, mohonlah kepada Allah agar kita dikelilingi oleh teman-teman yang tulus, berani menasihati dengan adab, dan menerima nasihat tanpa sakit hati. Sebab orang yang baik bukan yang tak pernah salah, tapi yang mau dinasihati dan mau berubah.

Tidak akan dikatakan sebagai orang yang mendapatkan kebaikan kecuali mereka saling menasehati dan mewasiati dalam kebenaran dan kesabaran.

Allah berfirman:

وَالْعَصْرِ﴿١﴾إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ﴿٢﴾إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran.” [Al-‘Ashr/ 103: 1- 3]

Kandungan:

Surat Al-Ashr menegaskan bahwa seluruh manusia berada dalam kerugian, kecuali mereka yang beriman, mengerjakan amal saleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran. Surat ini menekankan pentingnya memanfaatkan waktu (manajemen waktu) dengan hal-hal produktif agar tidak merugi di dunia maupun akhirat.

Berikut adalah poin-poin kandungan utama Surat Al-Ashr:

  • Pentingnya Waktu: Allah bersumpah demi masa untuk menekankan bahwa waktu sangat berharga, cepat berlalu, dan tidak dapat diulang kembali.
  • Kerugian Manusia: Manusia akan rugi jika tidak mengisi waktunya dengan perbuatan bermanfaat dan ibadah.
  • Empat Karakter Anti-Rugi:
  1. Beriman: Memiliki keyakinan kuat kepada Allah SWT.
  2. Beramal Saleh: Mengerjakan perbuatan baik sebagai bukti iman.
  3. Saling Menasihati dalam Kebenaran: Mengajak pada kebaikan (dakwah).
  4. Saling Menasihati dalam Kesabaran: Teguh dalam ketaatan dan menghadapi cobaan.

Surat ini, menurut Imam Syafi’i, mencakup prinsip-prinsip dasar kehidupan yang cukup sebagai petunjuk manusia.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” [Ali Imran/ 3: 110]

Kandungan utama Surah Ali ‘Imran ayat 110 adalah penegasan bahwa umat Islam adalah umat terbaik (khaira ummah) yang diturunkan untuk manusia, dengan syarat konsisten menegakkan amar ma’ruf (menyuruh kebaikan), nahi mungkar (mencegah keburukan), dan beriman teguh kepada Allah.

Ayat ini memotivasi umat untuk aktif berdakwah serta menjaga keimanan.

Poin-Poin Penting Kandungan Ali ‘Imran: 110:

  • Umat Terbaik (Khaira Ummah): Umat Islam disebut sebagai umat terbaik dan paling utama di sisi Allah, yang ditampakkan untuk kemaslahatan seluruh manusia.

Tiga Syarat Menjadi Umat Terbaik:

  1. Amar Ma’ruf: Mengajak atau menyuruh kepada kebaikan.
  2. Nahi Mungkar: Mencegah atau melarang perbuatan munkar.
  3. Beriman kepada Allah: Dasar utama, yaitu keimanan yang benar dan ketauhidan yang murni.
  • Tanggung Jawab Dakwah: Ayat ini membebankan tanggung jawab kepada umat Islam untuk aktif berperan dalam perbaikan sosial, bukan sekadar membanggakan diri sebagai kaum pilihan.
  • Kondisi Ahli Kitab: Ayat ini juga menyebutkan bahwa seandainya Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) beriman seperti iman umat Islam, itu akan lebih baik bagi mereka, namun kebanyakan dari mereka fasik.

Konteks Ayat (Asbabun Nuzul):

Ayat ini diturunkan untuk menegaskan posisi umat Islam sebagai umat terbaik, sekaligus sebagai bantahan terhadap klaim keunggulan golongan lain, serta menjadi pengingat bahwa keunggulan umat Islam bergantung pada kualitas keimanan dan dakwahnya. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Search