Korupsi tak Pernah Henti, Bukti Keimanan Masih Dangkal

www.majelistabligh.id -

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Wali Kota Madiun, Maidi, dalam operasi tangkap tangan (OTT) Senin (19/1/2026). Kabar tersebut dikonfirmasi Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo. Dalam OTT tersebut KPK mengamankan 15 orang di wilayah Madiun, Jawa Timur.

“Selanjutnya 9 orang di antaranya dibawa ke Jakarta untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut. Salah satunya wali kota Madiun,” kata Budi Prasetyo, Senin (19/1/2026) petang.

Peristiwa tangkap tangan ini diduga terkait dengan fee proyek dan dana CSR di wilayah Kota Madiun. Dalam operasi ini, KPK menyita sejumlah barang bukti dalam bentuk uang tunai sejumlah ratusan juta rupiah. “Kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut saat sampai di Jakarta,” tambahnya.

Mengapa korupsi tak pernah henti? Indonesia sebagai negara dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, namun mengapa angka kejahatan termasuk korupsi masih tinggi?

Pertanyaan yang menggelayut di benak publik ini dijawab Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dadang Kahmad. Menurutnya, salah satu faktor yang jadi penyebab adalah keimanan yang dangkal.

Sebagai Guru Besar Sosiologi Agama, Dadang melihat bahwa keimanan banyak muslim di Indonesia baru sebatas lisan, tidak sampai masuk pada keyakinan di hati yang mendalam, dan belum juga diimplementasikan dalam perbuatan. Bahkan orang-orang yang berada dalam institusi keagamaan, yang harusnya salih hati, ucapan, dan tindakannya pun banyak yang tersandung dalam kejahatan-kejahatan, termasuk korupsi.

Luasnya ilmu keagamaan yang dimiliki, imbuh Dadang, tidak meresap sampai pada kepribadian. Oleh karena itu, Dadang meminta agar ilmu yang dipelajari selain meluas juga mendalam, dan menginternalisasi.

“Yaitu iman ngambang namanya. Iman pasif, iman yang tidak merefleksi pada kehidupan kita,” kata Dadang Kahmad dalam Pengajian Ahad Pagi di Ponpes Modern Imam Syuhodo, Sukoharjo, Ahad (18/1/2026).

Meminjam istilah yang dikemukakan Buya Hamka, Dadang menyebut, alih-alih beriman, seorang muslim kebanyakan baru sampai pada tahap berislam. Jika demikian, orang Islam memang banyak tapi yang beriman masih sedikit.

Selain masalah iman yang dangkal, penyebab lain tingginya perilaku jahat juga disebabkan rendahnya tauhid di setiap dada umat Islam di Indonesia. Masih banyak yang menomorduakan Allah Swt.

Oleh karena itu, Muhammadiyah komitmen sejak awal berdiri sampai sekarang untuk menguatkan tauhid bangsa Indonesia. Masih terlalu banyak hal yang ditakuti oleh muslim Indonesia daripada Allah Swt.

Melalui penguatan tauhid, diharapkan menghidupkan kembali jiwa-jiwa muraqabah yaitu kesadaran spiritual muslim yang selalu merasa dalam pengawasan Allah SWT. Sehingga selalu ingin taat dan berbuat baik. (*/nun)

 

Tinggalkan Balasan

Search